Sabtu, 08 Juli 2017

CRITICAL BOOK REPORT KEARSIPAN



IDENTITAS BUKU

1.      Buku Utama
Judul buku      : Mengelola dan Menjaga Sistem Kearsipan
Pengarang       : a. Sri Endang R
                          b. Sri Mulyani
                          c. Suyetti
Tahun terbit     : 2009
Penerbit           : Erlangga
Tebal buku      : 126 Halaman
ISBN               : 978-979-033-737-4
2.      Buku Pembanding
Judul buku      : Manajemen Kearsipan
Pengarang       : a. Sambas Ali Muhidin, M.Si.
                          b. Drs. Hendri Winata, M.Si.
Tahun terbit     : 2015
Penerbit           : Pustaka Setia
Tebal buku      : 506 Halaman
Ukuran buku   : 16 x 24 cm
ISBN               : 978-979-076-589-4


BAB 1
MENETAPKAN KEBUTUHAN BAHAN DAN ALAT KEARSIPAN
           
A.    Pengertian Arsip
     Pengertian arsip yaitu setiap catatan yang tertulis, tercetak, atau ketikan dalam bentuk huruf, angka, atau gambar yang mempunyai arti atau tujuan tertentu sebagai bahan komunikasi dan informasi yang terekam pada kertas, kertas film, media komputer, dan lain-lain yang disimpan menurut suatu aturan sehingga apabila diperlukan dapat ditemukan dengan mudah. Contohnya : surat, kartu, flashdisk,telegram, formulir, hasil faksimile, faktur, daftar, grafik, memo, gambar, kuitansi, laporan, peta, disket, dan sebagainya.

B.     Jenis-jenis Arsip
1.      Arsip berdasarkan bentuk fisiknya
a.       Arsip berbentuk lembaran
b.      Arsip tidak berbentuk lembaran
2.      Arsip berdasarkan masalahnya
a.      Financial record
b.      Inventory record
c.       Personal record
d.      Sales record
e.       Production record
3.      Arsip berdasarkan pemiliknya
a.       Lembaga pemerintahan
1)      Arsip nasional di Indonesia
2)      Arsip nasional daerah
b.      Instansi pemerintah/swasta
1)      Arsip primer dan arsip skunder
2)      Arsip sentral dan arsip unit
4.      Arsip berdasarkan sifatnya
a.       Arsip tidak penting
b.      Arsip biasa
c.       Arsip penting
d.      Arsip sangat penting
e.       Arsip rahasia
5.      Arsip berdasarkan fungsinya
a.       Arsip dinamis
1)      Arsip aktif
2)      Arsip semi aktif
3)      Arsip non atif
b.      Arsip statis

C.     Nilai Guna Arsip
1.      Nilai penerangan
2.      Nilai yuridis
3.      Nilai historis
4.      Nilai ilmiah
5.      Nilai guna fiskal

D.    Pengertian Kearsipan
     Kearsipan adalah suatu proses kegiatan mulai dari penerimaan, pengumpulan, pengaturan, pemeliharaan, dan penyimpanan warkat menurut sistem tertentu, sehingga saat diperlukan dapat ditemukan dengan cepat dan mudah.
    
E.     Jenis-jenis Peralatan Arsip
1.      Filling Cabinet
2.      Rotary
3.      Lemari Arsip
4.      Rak Arsip
5.      Map Arsip
6.      Guide
7.      Ordner
8.      Stapler
9.      Perforator
10.  Numerator
11.  Kotak/box
12.  Alat Sortir
13.  Label
14.  Tickler File
15.  Cardex Cabinet
16.  Rak/Laci Kartu
17.  Alat Penyimpanan Khusus

F.      Jenis-jenis Perlengkapan Kearsipan
1.      Kartu Indeks
2.      Kartu Tunjuk Silang
3.      Lembar Pinjam Arsip
4.      Map Pengganti
5.      Buku Arsip

G.    Analisa Kebutuhan Peralatan dan Perlengkapan Kearsipan
Sebelum memutuskan pilihan terhadap sesuatu peralatan yang akan dibeli, beberapa kriteria perlu dipertimbangkan, antara lain sebagai berikut :
1.      Peralatan harus disesuaikan dengan bentuk dan ukuran fisik arsip, seperti peta, surat, foto, dan sebagainya.
2.      Peralatan yang digunakan juga harus memperhatikan sifat arsip yang disimpan, sehingga keamanan informasinya terjamin, seperti untuk menyimpan arsip yang bernilai guna tinggi, arsip rahasia, arsip sangat rahasia, dan sebagainya.
3.      Peralatan yang digunakan juga memperhatikan pertumbuhan atau perkembangan arsip, apakah jumlah arsip terus bertambah setiap tahun dan berapa banyak rata-rata pertambahannya.
4.      Peralatan yang akan digunakan juga harus mempertimbangkan besar ruangan yang disediakan untuk penyimpanan dan kemungkinan untuk perluasannya.
5.      Bentuk organisasi, apakah organisasinya besar atau kecil.
6.      Tingkat perlindungan terhadap arsip yang disimpan.
7.      Biaya yang tersedia.

H.    Menghitung Kebutuhan Peralatan dan Perlengkapan Kearsipan
Penghitungan kebutuhan sarana untuk menangani arsip inaktif setebal 1 meter yang akan disimpan di dalam kotak arsip dan ditempatkan dalam rak arsip. Sarana yang dibutuhkan adalah sebagai berikut :
1.      Kartu Deskripsi
2.      Kertas Pembungkus
3.      Kotak Arsip
4.      Rak Arsip
5.      Alat Tulis Kantor dan Sarana Lain

BAB 2
MEMILIH SISTEM YANG SESUAI
A.    Asas Pengelolaan Kearsipan
1.      Asas Sentralisasi
2.      Asas Desentralisasi
3.      Asas Desentralisasi Terkendali (Gabungan)

B.     Pemilihan Asas Pengelolaan yang Sesuai
     Untuk memilih asas pengelolaan mana yang sesuai, tentu saja harus mempertimbangkan beberapa hal antara lain sebagai berikut :
1.      Besar kecilnya rentang tugas organisasi yang bersangkutan
2.      Kompleksitas tugas dan fungsi organisasi
3.      Lokasi gedung kantor, satu atap atau terpencar
4.      Jumlah karyawan yang ada dalam suatu organisasi
5.      Jumlah surat yang dikelola

C.     Sistem Penyimpanan Arsip
1.      Pengertian Sistem Penyimpanan Arsip
           Sistem penyimpanan arsip adalah sistem pengelolaan dan penemuan kembali arsip berdasarkan pedoman yang telah dipilih untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi penggunaan waktu, tempat, tenaga, dan biaya.
2.      Manfaat Sistem Penyimpanan Arsip
a.       Arsip dapat tertata dengan rapi.
b.      Ruang kerja lebih rapi dan efisien karena tida banyak tumpukan kertas yang memenuhi ruangan.
c.       Arsip tidak hilang, sehingga informasinya dapat terpelihara.
d.      Mudah dalam perawatan.
e.       Mudah mencari bila sewaktu-waktu dibutuhkan.
f.       Mudah dalam penyusutannya karena dapat diketahui mana arsip yang memang sudah layak untuk dibuang dan mana yang tidak.
3.      Istilah-istilah dalam pelaksanaan sistem penyimpanan
a.       Caption (kata tangkap)
b.      Mengindeks
c.       Kode
d.      Daftar klasifikasi
4.      Macam-macam sistem penyimpanan arsip
a.       Sistem abjad
1)      Pengertian sistem abjad
           Sistem abjad adalah sistem penyimpanan dan penemuan kembali arsip yang disusun berdasarkan pengelompokan nama orang/badan/organisasi. Nama orang/badan/organisasi tersebut disusun berdasarkan urutan abjad.

Sistem abjad umumnya dipilih sebagai sistem penyimpanan arsip, karena :
a)      Nama lebih mudah diingat oleh siapa pun
b)      Petugas menginginkan agar dokumen disimpan dari nama yang sama
c)      Dokumen sering dicari dan diminta melalui nama
d)     Jumlah langganan yang berkomunikasi banyak
                        Keuntungan dari pemakaian sistem abjad antara lain sebagai berikut :
a)      Dokumen yang berasal dari satu nama yang sama akan berkelompok menjadi satu
b)      Surat masuk dan keluar disimpan bersebelahan dalam satu map
c)      Mudah dikerjakan dan cepat ditemukan
d)     Mudah diterapkan
      Kerugian dari sistem abjad antara lain sebagai berikut :
a)      Pencarian dokumen untuk nama orang harus mengetahui nama belakangnya
b)      Surat-surat yang walaupun berhubungan satu sama lain tetapi berbeda nama pengirimnya, akan terletak terpisah dalam penyimpanannya
c)      Harus mempergunakan peraturan mengindeks
d)     Banyak orang yang memiliki nama yang sama, sehingga harus lebih teliti, karena kalau tidak teliti bisa salah dalam menempatkan dan menemukan
2)      Peraturan mengindeks
           Dalam penyimpanan sistem abjad, pengelompokan arsip disusun berdasarkan nama orang/badan/organisasi. Sedangkan indeks adalah saran penemuan kembali pengenal, yang dapat membedakan arsip tersebut dengan yang lainnya. Secara singkat, indeks dapat dikatakan sebagia tanda pengenal arsip. Dengan demikian, indeks dalam sistem abjad adalah indeks yang berdasarkan nama orang/nama badan
           Dalam mengindeks nama orang/badan/organisasi, ada beberapa peraturan mengindeks yang sudah menjadi ketentuan yang berlaku secara universal dalam bidang administrasi kearsipan.
3)      Daftar klasifikasi abjad
           Daftar klasifikasi dalam sistem abjad dapat diartikan sebagai pengelompokan arsip berdasarkan nama orang/badan/organisasi, secara sistematis dan logis, serta disusun berjenjang dengan tanda-tanda khusus yang berfungsi sebagai kode.
Nama terdiri dari beberapa macam, antara lain sebagai berikut :
a)      Nama perorangan
b)      Nama perusahaan
c)      Instansi pemerintah
d)     Nama organisasi dan perhimpunan
4)      Jenis-jenis peralatan dan perlengkapan sistem abjad
a)      Filling cabinet
b)      Guide
c)      Hanging folder
d)     Alat sortir
5)      Prosedur penyimpanan arsip sistem abjad
a)      Memeriksa surat/berkas
b)      Mengindeks surat/berkas
c)      Mengode surat/berkas
d)     Menyortir surat
e)      Menempatkan surat/berkas
6)      Prosedur penemuan kembali
a)      Menentukan judul surat
b)      Menentukan indeks
c)      Menentukan kode/surat
d)     Mencari arsip ditempat penyimpanan
e)      Mengambil arsip
f)       Memberikan arsip kepada peminjam
g)      Menyimpan lembar pinjam arsip (lembar 3) pada tickler file

b.      Sistem Subjek
1)      Pengertian sistem subjek
           Sistem subjek adalah sistem penyimpanan dan penemuan kembali arsip yang disusun berdasarkan pengelompokan nama masalah/subjek pada isi surat.
2)      Daftar klasifikasi subjek
           Daftar klasifikasi subjek adalah daftar yang berisi tentang pengelompokan arsip berdasarkan masalah-masalah, secara sistematis dan logis, serta disusun berjenjang dengan tanda-tanda khusus yang berfungsi sebagai kode.
           Daftar klasifikasi subjek dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut :
a)      Daftar klasifikasi subjek standar
b)      Daftar klasifikasi subjek buatan sendiri
     Penulisan daftar klasifikasi subjek dapat dilakukan dengan dua cara, antara lain sebagai berikut :
a)      Daftar klasifikasi subjek murni
b)      Daftar klasifikasi subjek berkode
3)      Jenis-jenis peralatan dan perlengkapan dalam sistem subjek
a)      Filling cabinet
b)      Guide
c)      Hanging folder
d)     Kartu indeks
e)      Kartu tunjuk silang
f)       Rak sortir
g)      Cardex
4)      Prosedur penyimpanan arsip sistem subjek
a)      Memeriksa berkas
b)      Mengindeks
c)      Mengode
d)     Menyortir
e)      Menempatkan
5)      Prosedur penemuan kembali
a)      Tentukan subjek dari surat yang dicari
b)      Menentukan indeks subjek surat kemudian diindeks dengan cara mencocokkan subjek surat dengan daftar klasifikasi subjek
c)      Menentukan kode surat
d)     Mencari arsip pada tempat penyimpanan
e)      Mengambil arsip jika arsip memang benar arsip yang dicari
f)       Memberikan arsip pada peminjam
g)      Menyimpan lembar pinjam arsip (lembar 3) pada tickler file.

c.       Sistem tanggal
1)      Pengertian sistem tanggal
           Sistem tanggal adalah penyimpanan dan penemuan kembali arsip yang disusun berdasarkan tahun, bulan, dan tanggal arsip dibuat.
2)      Daftar klasifikasi tanggal
           Dalan sistem tanggal sebetulnya tidak perlu dibuat suatu daftar klasifikasi karena bagian tanggal sangat sederhana, yaitu hanya terdiri dari 3 bagian saja, yaitu nama tahun, nama bulan, dan tanggal.
3)      Jenis-jenis peralatan dan perlengkapan dalam sistem tanggal
a)      Filling cabinet
b)      Guide
c)      Hanging folder
d)     Kartu indeks
4)      Prosedur penyimpanan arsip sistem tanggal
a)      Memeriksa surat/berkas
b)      Mengindeks
c)      Mengode
d)     Menyortir
e)      Menempatkan
5)      Prosedur penemuan kembali
a)      Tentukan identitas surat berupa tanggal surat tersebut dibuat
b)      Cari arsip tersebut didalam laci
c)      Lihat arsip tersebut apakah benar sesuai dengan yang dicari
d)     Berikan arsip tersebut kepada peminjam berikut dengan lembar pinjam arsip (lembar 2)
e)      Simpan lembar pinjam arsip (lembar 3) kedalam tickler file.

d.      Sistem Wilayah
1)      Pengertian sistem wilayah
           Sistem wilayah adalah sistem penyimpanan dan penemuan kembali arsip yang disusun berdasarkan pengelompokan menurut nama tempat. Nama tempat bisa berupa nama kota, nama negara, nama wilayah khusus, dan sebagainya.
2)      Daftar klasifikasi wilayah
Daftar klasifikasi wilayah dapat dibuat melalui beberapa macam, antara lain sebagai berikut :
a)      Menurut nama negara, yaitu daftar klasifikasi wilayah yang dibuat berdasarkan pengelompokan wilayah menurut nama negara.
b)      Menurut nama pembagian wilayah administrasi negara, yaitu daftar klasifikasi wilayah yang dibuat berdasarkan pengelompokan nama wilayah administrasi suatu negara.
c)      Menurut wilayah administrasi khusus, yaitu daftar klasifikasi yang dibuat berdasarkan pengelompokan wilayah administrasi yang khusus untuk kepentingan suatu badan/instansi tertentu.
3)      Jenis-jenis peralatan dan perlengkapan dalam sistem tanggal
a)      Filling cabinet
b)      Guide
c)      Hanging folder
d)     Cardex
e)      Kartu index
f)       Rak sortir
4)      Prosedur penyimpanan sistem wilayah
a)      Memeriksa surat/berkas
b)      Mengindeks
c)      Mengode
d)     Menyortir
e)      Menempatkan
5)      Prosedur penemuan kembali
a)      Tentukan judul/caption dari surat yang ingin dicari
b)      Cocokkan dengan daftar klasifikasi wilayah
c)      Cari arsip pada laci yang berkode wilayah I
d)     Ambil arsip tersebut, tukar dengan lembar pinjam arsip (lembar 1)
e)      Berikan kepada peminjam, berikut lembar pinjam arsip (lembar 2)
f)       Simpan lembar pinjam arsip (lembar 3) pada tickler file.

Jika nama wilayah yang menjadi dasar penyimpanan tida diketahui, maka lakukan langkah penemuan kembali seperti dibawah ini :
a)      Tentukan judul/caption dari surat yang ingin dicari berdasarkan nama orang/badan/perusahaan.
b)      Indekslah nama tersebut.
c)      Tentukan kode dari nama yang sudah diindeks.
d)     Cari kartu indeksnya.
e)      Lihat kode surat yang tertera pada kartu indeks.
f)       Cocokkan kode surat dengan daftar klasifikasi.
g)      Cari surat pada tempat penyimpanan.
h)      Ambil surat tersebut dan tukar dengan lembar pinjam arsip (lembar 1).
i)        Berikan kepada peminjam berikut lembar pinjam arsip (lembar 2).
j)        Simpan lembar pinjam arsip (lembar 3) pada tickler file.

e.       Sistem nomor
Sistem nomor adalah sistem penyimpanan dan penemuan kembali arsip yang disusun dengan menggunakan kode angka/nomor.
Sistem penyimpanan arsip berdasarkan nomor terdiri dari :
a)      Sistem penyimpanan arsip berdasarkan nomor Dewey.
1)      Daftar kalsifikasi Dewey
Membuat daftar klasifikasi Dewey memerlukan pemikiran yang tajam, karena srtiap tingkat permasalahan hanya dibuat 10 masalah saja. Masalah utama terdiri dari 10 masalah. Setiap satu sub masalah terdiri dari 10 sub-sub masalah.
2)      Jenis-jenis peralatan dan perlengkapan dalam sistem nomor Dewey
-          Filling cabinet
-          Guide
-          Hanging folder
-          Kartu indeks
-          Rak sortir
3)      Prosedur penyimpanan arsip sistem nomor Dewey
-          Memeriksa berkas
-          Mengindeks
-          Mengode
-          Menyortir
-          Menempatkan
b)      Sistem penyimpanan arsip berdasarkan nomor seri.
1)      Jenis-jenis peralatan dan perlengkapan dalam sistem nomor urut
-          Filling cabinet
-          Guide
-          Hanging folder
-          Kartu indeks
-          Buku nomor
2)      Prosedur penyimpanan arsip sistem nomor
-          Memeriksa berkas
-          Mengindeks
-          Mengode
-          Menyortir
-          Menempatkan
c)      Sistem penyimpanan arsip berdasarkan nomor terminal digit.
1)      Jenis-jenis peralatan dan perlengkapan dalam sistem nomor terminal digit
-          Filling cabinet
-          Guide
-          Hanging folder
-          Kartu indeks
-          Buku arsip
2)      Prosedur penyimpanan arsip sistem nomor terminal digit
-          Memeriksa berkas
-          Mengindeks
-          Mengode
-          Menyortir
-          Menempatkan

D.    Pemilihan Sistem Penyimpanan yang Sesuai
            Penerapan sistem penyimpanan dan penemuan kembali arsip seperti yang telah diutarakan di atas, di kantor-kantor, baik swasta maupun pemerintah tida sama. Ada kantor yang menggunakan sistem abjad, ada kantor yang menggunakan sistem subjek, wilayah, tanggal, dan sebagainya. Bahkan ada yang memadukan sistem yang satu dengan sistem yang lain.
            Sistem penyimpanan arsip dikatakan baik apabila memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :
-          Mudah dilaksanakan dan digunakan
-          Hemat tenaga dan peralatan
-          Hemat waktu dan biaya
-          Sederhana
-          Fleksibel dan mudah dikembangkan
-          Sesuai dengan fungsi dan tugas pokok organisasi
 

BAB 3
MENGIMPLEMENTASIKAN SISTEM KEARSIPAN
            Pada tahap awal (penciptaan arsip), arsip tercipta melalui dua cara, yaitu sebagai berikut :
1.      Secara intern
Artinya dibuat sendiri oleh lingkungan dalam perusahaan, meliputi standarisasi surat, bentuk surat, formulir, naskah, dan sebagainya serta pemrosesannya.
Contoh : surat dari departemen pemasaran ke departemen keuangan.
2.      Secara ekstern
Artinya arsip diterima dari pihak lain, bisa perorangan atau perusahaan.
Contoh : surat lamaran pekerjaan yang diterima suatu perusahaan.

            Tujuan pengurusan dan pengendalian arsip adalah agar arsip-arsip tersebut dapat digunakan sebagai bahan informasi yang sangat bermanfaat bagi banyak pihak.
            Adapun tahapan yang termasuk dalam pengurusan/pengendalian surat adalah sebagai berikut :
1.      Tahap penerimaan surat
Dalam tahap ini, surat-surat dari perusahaan lain diterima oleh petugas penerima surat, kemudian petugas memeriksa ketetapan alamat.
Hal-hal yang harus dilakukan dalam penerimaan surat adalah :
a.       Menandatangani bukti pengiriman
b.      Memeriksa ketepatan alamat yang dituju
c.       Menyampaikan surat kepada petugas pencatat surat
2.      Tahap penyortiran
Penyortiran adalah mengelompokkan surat, apakah surat yang diterima merupakan surat dinas atau pribadi.
3.      Tahap pencatatan/Registrasi
Surat dinas selanjutnya diproses lebih lanjut dengan dilakukan pencatatan/registrasi.
Adapun tujuan pencatatan surat adalah sebagai berikut :
a.       Untuk mengetahui surat apa saja yang diterima oleh perusahaan setiap hari.
b.      Untuk mengetahui perkiraan tentang jumlah surat yang diterima setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun.
c.       Sebagai bukti tertulis tentang adanya surat yang diterima dari perusahaan lain maupun yang dibuat oleh perusahaan.
d.      Agar tertib administrasi.
4.      Tahap distribusi
Tahap distribusi adalah tahap penyampaian surat kepada orang sesuai dengan tujuan surat.
5.      Tahap penyimpanan dan penemuan kembali.
            Arsip-arsip yang sudah disimpan, sering kali dicari kembali karena akan digunakan untuk keperluan tertentu. Arsip yang sering dicari, berarti arsip tersebut mempunyai manfaat yang besar. Dengan adanya penyimpanan yang baik, maka pemanfaatan arsip semakin besar. Pemanfaatan arsip ini juga dapat mengukur seberapa tinggi penggunaan suatu arsip.
            Terdapat dua aspek penting dalam pemeliharaan dan pengamanan arsip, yaitu sebagai berikut :
1.      Pemeliharaan dan pengamanan bahan arsip dari berbagai faktor perusak.
Sebab-sebab kerusakan arsip, antara lain :
a.       Faktor biologis
-          Jamur
-          Serangga
b.      Faktor fisik
-          Cahaya
-          Panas
-          Air
c.       Faktor kimiawi
-          Zat-zat kimia
-          Kertas yang baik
d.      Faktor bencana
Cara-cara yang dapat dilakukan dalam melakukan kegiatan perlindungan/pemeliharaan/pengamanan terhadap arsip, yaitu sebagai berikut :
a.       Memencarkan salinan arsip.
b.      Membuat duplikasi sebagai bahan rujukan.
c.       Menyimpan pada ruang khusus.
d.      Membangun ruang pada gedung.
e.       Melakukan fumigasi.
f.       Melakukan deasidifikasi.
g.      Memberikan pengetahuan kepada petugas mengenai pemeliharaan dan pengawetan arsip.
h.      Pemasangan detektor.
i.        Pengecekan arsip secara periodik.
j.        Keamanan sepanjang waktu.
            Tujuan pemeliharaan dan pengamanan arsip adalah sebagai berikut :
a.       Mencegah kerusakan arsip secara efektif dan efisien.
b.      Mempermudah koordinasi dalam pelaksanaan tugas.
c.       Memperkecil gangguan terhadap organisasi.
d.      Mencegah terjadinya bencana.
e.       Mencegah kerugian bagi karyawan dan masyarakat.
f.       Melindungi hak milik organisasi/perusahaan.
            Penyusutan arsip merupakan kegiatan mengurangi jumlah arsip yang dapat dilakukan dengan cara memindahkan, memusnahkan, dan menyerahkan arsip kepada pihak lain.
            Tujuan penyusutan arsip ialah :
a.       Efisiensi dan efektifitas pengelolaan arsip.
b.      Menjamin tersedianya informasi dan (arsip) yang benar-benar bernilai guna.
c.       Menjamin keselamatan bahan pertanggungjawaban nasional.
            Teknik penyusutan arsip adalah sebagai berikut :
a.       Berdasarkan Jadwal Retensi Arsip (JRA)
b.      Berdasarkan nonjadwal retensi arsip
            Berikut merupakan cara pemindahan arsip ialah :
a.       Petugas membuat berita acara pemindahan arsip dan daftar jenis arsip yang akan diserahkan (daftar pertelaan).
b.      Berita acara tersebut ditandatangani oleh pihak yang menyerahkan dan pihak yang menerima.

Adapun prosedur pemusnahan arsip adalah sebagai berikut :
a.       Seleksi arsip yang akan dimusnahkan.
b.      Buat daftar jenis arsip yang akan dimusnahkan (daftar pertelaan).
c.       Buat berita acara pertelaan.
d.      Laksanakan pemusnahan dengan 2 orang saksi.
            Dokumen pemusnahan arsip, diantaranya adalah sebagai berikut :
a.       Surat rekomendasi tim.
b.      Surat persetujuan kepala ANRI.
c.       Surat keputusan Direktur instansi terkait.
d.      Berita acara.
e.       Daftar arsip yang dimusnahkan.


KRITIK BUKU
1.      Pada buku Faustino menjelaskan lebih secara rinci tentang ruang lingkup MSDM.
2.      Pada buku Sambas, pembahasan lebih terperinci dan terarah sehingga pembaca dapat dengan mudah memahami.
3.      Pada buku Sambas, menjelaskan secara jelas pembahasan tentang tata naskah dinas, sedangkan pada buku Sri Endang hanya memaparkan sedikit pembahasan saja.
4.      Dilihat dari contoh-contoh yang diberikan, buku Sri Endang sangat membantu sekali karena memberikan contoh-contoh yang cukup jelas.
5.      Begitupun pada buku Sambas, buku ini ditata sedemikian rupa, secara padat, singkat, dan jelas.
6.      Pada buku Sambas menjelaskan sumber daya pendukung kearsipan, sedangkan dibuku Sri Endang tidak ada menjelaskan tentang produktivitas.
7.      Penggunaan bahasa pada kedua buku sudah bagus dan cukup jelas, hanya saja buku Sri Endang lebih mudah dipahami.
8.      Isi buku memiliki banyak pengertian dari para pendapat.
9.      Ringkasan lebih banyak membahas tentang materi-materi.
10.  Penulisan pada kedua buku sudah cukup jelas, akan tetapi masih ada sedikit kesalahan dalam penulisan.


PENUTUP
            Demikianlah tugas ini saya buat semoga bermanfaat bagi orang yang membacanya dan menambah wawasan dan saya juga mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan kata dan kalimat yang tidak jelas.
            Sekian penutup dari saya semoga berkenan dihati dan saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.




MAKALAH kenakalan remaja



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun ia masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan ini pun sering dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan.
Kesalahan yang dilakukannya sering menimbulkan kekhwatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungannya, orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.
Remaja merupakan aset masa depan suatu bangsa. Di samping hal-hal yang menggembirakan dengan kegiatan remaja-remaja pada waktu yang akhir-akhir ini dan pembinaan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi pelajar dan mahasiswa, kita melihat pula arus kemorosotan moral yang semakin melanda di kalangan sebagian pemuda-pemuda kita, yang lebih terkenal dengan sebutan kenakalan remaja. Dalam surat kabar-surat kabar sering kali kita membaca berita tentang perkelahian pelajar, penyebaran narkotika, pemakaian obat bius, minuman keras, penjambret yang dilakukan oleh anak-anak yang berusia belasan tahun, meningkatnya kasus-kasus kehamilan di kalangan remaja putri dan lain sebagainya.
Hal tersebut adalah merupakan suatu masalah yang dihadapi masyarakat yang kini semakin marak, Oleh karena itu masalah kenakalan remaja seyogyanya mendapatkan perhatian yang serius dan terfokus untuk mengarahkan remaja ke arah yang lebih positif, yang titik beratnya untuk terciptanya suatu sistem dalam menanggulangi kenakalan di kalangan remaja.


1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penyusun merumuskan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini sebagai berikut:
1. Apakah kenakalan remaja itu?
2. Apa penyebab kenakalan remaja?
3. Bagaimana solusi mengatasi kenakalan remaja?

                                                              BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Kenakalan Remaja
Akhir-akhir ini di beberapa media masa sering kita membaca tentang perbuatan kriminalitas yang terjadi di negeri yang kita cintai ini. Ada anak remaja yang meniduri ibu kandungnya sendiri, perkelahian antar pelajar, tawuran, penyalahgunaan narkoba dan minum-minuman keras dan masih banyak lagi kriminalitas yang terjadi di negeri ini. Kerusakan moral sudah merebak di seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa serta orang yang sudah lanjut usia
Termasuk yang tidak luput dari kerusakan moral ini adalah remaja. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi dan pencarian jati diri, yang karenanya sering melakukan perbuatan-perbuatan yang dikenal dengan istilah kenakalan remaja.
Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat. Beberapa ahli mendefinisikan kenakalan remaja ini sebagai berikut:

1.  Kartono, ilmuwan sosiologi
Kenakalan Remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang".

2. Santrock
Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.


2.2. Penyebab Kenakalan Remaja
      Ulah para remaja yang masih dalam tarap pencarian jati diri sering sekali mengusik ketenangan orang lain. Kenakalan-kenakalan ringan yang mengganggu ketentraman lingkungan sekitar seperti sering keluar malam dan menghabiskan waktunya hanya untuk hura-hura seperti minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan terlarang, berkelahi, berjudi, dan lain-lainnya itu akan merugikan dirinya sendiri, keluarga, dan orang lain yang ada disekitarnya.
Cukup banyak faktor yang melatar belakangi terjadinya kenakalan remaja. Berbagai faktor yang ada tersebut dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Berikut ini penjelasannya secara ringkas:

1.      Faktor Internal
a.       Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan remaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
b.      Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

2. Faktor Eksternal
a.      Kurangnya perhatian dari orang tua, serta kurangnya kasih sayang
Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan fondasi primer bagi perkembangan anak. Sedangkan lingkungan sekitar dan sekolah ikut memberikan nuansa pada perkembangan anak. Karena itu baik-buruknya struktur keluarga dan masyarakat sekitar memberikan pengaruh baik atau buruknya pertumbuhan kepribadian anak.
Keadaan lingkungan keluarga yang menjadi sebab timbulnya kenakalan remaja seperti keluarga yang broken-home, rumah tangga yang berantakan disebabkan oleh kematian ayah atau ibunya, keluarga yang diliputi konflik keras, ekonomi keluarga yang kurang, semua itu merupakan sumber yang subur untuk memunculkan delinkuensi remaja.
Dr. Kartini Kartono juga berpendapat bahwasannya faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja antara lain:

1.      Anak kurang mendapatkan perhatian, kasih sayang dan tuntunan pendidikan orang tua, terutama bimbingan ayah, karena ayah dan ibunya masing–masing sibuk mengurusi permasalahan serta konflik batin sendir
2.      Kebutuhan fisik maupun psikis anak–anak remaja yang tidak terpenuhi, keinginan dan harapan anak–anak tidak bisa tersalur dengan memuaskan, atau tidak mendapatkan kompensasinyaAnak tidak pernah mendapatkan latihan fisik dan mental yang sangat diperlukan untuk hidup normal, mereka tidak dibiasakan dengan disiplin dan kontrol-diri yang baik

Maka dengan demikian perhatian dan kasih sayang dari orang tua merupakan suatu dorongan yang berpengaruh dalam kejiwaan seorang remaja dalam membentuk kepribadian serta sikap remaja sehari-hari. Jadi perhatian dan kasih sayang dari orang tua merupakan faktor penyebab terjadinya kenakalan remaja.

b.      Minimnya pemahaman tentang keagamaan
Dalam kehidupan berkeluarga, kurangnya pembinaan agama juga menjadi salah satu faktor terjadinya kenakalan remaja. Dalam pembinaan moral, agama mempunyai peranan yang sangat penting karena nilai-nilai moral yang datangnya dari agama tetap tidak berubah karena perubahan waktu dan tempat.
Pembinaan moral ataupun agama bagi remaja melalui rumah tangga perlu dilakukan sejak kecil sesuai dengan umurnya karena setiap anak yang dilahirkan belum mengerti mana yang benar dan mana yang salah, juga belum mengerti mana batas-batas ketentuan moral dalam lingkungannya. Karena itu pembinaan moral pada permulaannya dilakukan di rumah tangga dengan latihan-latihan, nasehat-nasehat yang dipandang baik.
Maka pembinaan moral harus dimulai dari orang tua melalui teladan yang baik berupa hal-hal yang mengarah kepada perbuatan positif, karena apa yang diperoleh dalam rumah tangga remaja akan dibawa ke lingkungan masyarakat. Oleh karena itu pembinaan moral dan agama dalam keluarga penting sekali bagi remaja untuk menyelamatkan mereka dari kenakalan dan merupakan cara untuk mempersiapkan hari depan generasi yang akan datang, sebab kesalahan dalam pembinaan moral akan berakibat negatif terhadap remaja itu sendiri.
Pemahaman tentang agama sebaiknya dilakukan semenjak kecil, yaitu melalui kedua orang tua dengan cara memberikan pembinaan moral dan bimbingan tentang keagamaan, agar nantinya setelah mereka remaja bisa memilah baik buruk perbuatan yang ingin mereka lakukan sesuatu di setiap harinya.
Kondisi masyarakat sekarang yang sudah begitu mengagungkan ilmu pengetahuan mengakibatkan kaidah-kaidah moral dan tata susila yang dipegang teguh oleh orang-orang dahulu menjadi tertinggal di belakang. Dalam masyarakat yang telah terlalu jauh dari agama, kemerosotan moral orang dewasa sudah lumrah terjadi. Kemerosotan moral, tingkah laku dan perbuatan – perbuatan orang dewasa yang tidak baik menjadi contoh atau tauladan bagi anak-anak dan remaja sehingga berdampak timbulnya kenakalan remaja.

c.       Pengaruh dari lingkungan sekitar,
Pengaruh budaya barat serta pergaulan dengan teman sebayanya yang sering mempengaruhinya untuk mencoba dan akhirnya malah terjerumus ke dalamnya
Lingkungan adalah faktor yang paling mempengaruhi perilaku dan watak remaja. Jika dia hidup dan berkembang di lingkungan yang buruk, moralnya pun akan seperti itu adanya. Sebaliknya jika ia berada di lingkungan yang baik maka ia akan menjadi baik pula.
Di dalam kehidupan bermasyarakat, remaja sering melakukan keonaran dan mengganggu ketentraman masyarakat karena terpengaruh dengan budaya barat atau pergaulan dengan teman sebayanya yang sering mempengaruhi untuk mencoba. Sebagaimana diketahui bahwa para remaja umumnya sangat senang dengan gaya hidup yang baru tanpa melihat faktor negatifnya, karena anggapan ketinggalan zaman jika tidak mengikutinya

d.      Tempat pendidikan
Tempat pendidikan, dalam hal ini yang lebih spesifiknya adalah berupa lembaga pendidikan atau sekolah. Kenakalan remaja ini sering terjadi ketika anak berada di sekolah dan jam pelajaran yang kosong. Belum lama ini bahkan kita telah melihat di media adanya kekerasan antar pelajar yang terjadi di sekolahnya sendiri. Ini adalah bukti bahwa sekolah juga bertanggung jawab atas kenakalan dan dekadensi moral yang terjadi di negeri ini.

Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kenakalan remaja antara lain:

1. Bagi diri remaja itu sendiri
 Akibat dari kenakalan yang dilakukan oleh remaja akan berdampak bagi dirinya sendiri dan sangat merugikan baik fisik dan mental, walaupun perbuatan itu dapat memberikan suatu kenikmatan akan tetapi itu semua hanya kenikmatan sesaat saja. Dampak bagi fisik yaitu seringnya terserang berbagai penyakit karena gaya hidup yang tidak teratur. Sedangkan dampak bagi mental yaitu kenakalan remaja tersebut akan mengantarnya kepada mental-mental yang lembek, berfikir tidak stabil dan kepribadiannya akan terus menyimpang dari segi moral yang pada akhirnya akan menyalahi aturan etika dan estetika. Dan hal itu kan terus berlangsung selama remaja tersebut tidak memiliki orang yang membimbing dan mengarahkan.

2. Bagi keluarga
Anak merupakan penerus keluarga yang nantinya dapat menjadi tulang punggung keluarga apabila orang tuanya tidak mampu lagi bekerja. Apabila remaja selaku anak dalam keluarga berkelakuan menyimpang dari ajaran agama, akan berakibat terjadi ketidakharmonisan di dalam kekuarga dan putusnya komunikasi antara orang tua dan anak. Tentunya hal ini sangat tidak baik karena dapat mengakibatkan remaja sering keluar malam dan jarang pulang serta menghabiskan waktunya bersama teman-temannya untuk bersenang-senang dengan jalan minum-minuman keras atau mengkonsumsi narkoba. Pada akhirnya keluarga akan merasa malu dan kecewa atas apa yang telah dilakukan oleh remaja. Padahal kesemuanya itu dilakukan remaja hanya untuk melampiaskan rasa kekecewaannya terhadap apa yang terjadi dalam keluarganya.

3. Bagi lingkungan masyarakat
Apabila remaja berbuat kesalahan dalam kehidupan masyarakat, dampaknya akan buruk bagi dirinya dan keluarga. Masyarakat akan menganggap bahwa remaja itu adalah tipe orang yang sering membuat keonaran, mabuk-mabukan ataupun mengganggu ketentraman masyarakat. Mereka dianggap anggota masyarakat yang memiliki moral rusak, dan pandangan masyarakat tentang sikap remaja tersebut akan jelek. Untuk merubah semuanya menjadi normal kembali membutuhkan waktu yang lama dan hati yang penuh keikhlasan.

2.3. Solusi Kenakalan Remaja
Dari berbagai faktor dan permasalahan yang terjadi di kalangan remaja masa kini sebagaimana telah disebutkan di atas, maka tentunya ada beberapa solusi yang tepat dalam pembinaan dan perbaikan remaja masa kini. Kenakalan remaja dalam bentuk apapun mempunyai akibat yang negatif baik bagi masyarakat umum maupun bagi diri remaja itu sendiri. Tindakan penanggulangan kenakalan remaja dapat dibagi dalam:
1. Tindakan Preventif
Usaha pencegahan timbulnya kenakalan remaja secara umum dapat dilakukan melalui cara berikut:
1.      Mengenal dan mengetahui ciri umum dan khas remaja
2.      Mengetahui kesulitan-kesulitan yang secara umum dialami oleh para remaja. Kesulitan-kesulitan mana saja yang biasanya menjadi sebab timbulnya pelampiasan dalam bentuk kenakalan.

Usaha pembinaan remaja dapat dilakukan melalui:
1.      Menguatkan sikap mental remaja supaya mampu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.
2.      Memberikan pendidikan bukan hanya dalam penambahan pengetahuan dan keterampilan melainkan pendidikan mental dan pribadi melalui pengajaran agama, budi pekerti dan etiket.
3.      Menyediakan sarana-sarana dan menciptakan suasana yang optimal demi perkembangan pribadi yang wajar.
4.      Memberikan wejangan secara umum dengan harapan dapat bermanfaat.
5.      Memperkuat motivasi atau dorongan untuk bertingkah laku baik dan merangsang hubungan sosial yang baik.
6.      Mengadakan kelompok diskusi dengan memberikan kesempatan mengemukakan pandangan dan pendapat para remaja dan memberikan pengarahan yang positif.
7.      Memperbaiki keadaan lingkungan sekitar, keadaan sosial keluarga maupun masyarakat di mana banyak terjadi kenakalan remaja.
Sebagaimana disebut di atas, bahwa keluarga juga mempunyai andil dalam membentuk pribadi seorang remaja. Jadi untuk memulai perbaikan, maka harus mulai dari diri sendiri dan keluarga. Mulailah perbaikan dari sikap yang paling sederhana, seperti selalu berkata jujur meski dalam gurauan, membaca doa setiap melakukan hal-hal kecil, memberikan bimbingan agama yang baik kepada anak dan masih banyak hal lagi yang bisa dilakukan oleh keluarga. Memang tidak mudah melakukan dan membentuk keluarga yang baik, tetapi semua itu bisa dilakukan dengan pembinaan yang perlahan dan sabar.
Dengan usaha pembinaan yang terarah, para remaja akan mengembangkan diri dengan baik sehingga keseimbangan diri yang serasi antara aspek rasio dan aspek emosi akan dicapai. Pikiran yang sehat akan mengarahkan para remaja kepada perbuatan yang pantas, sopan dan bertanggung jawab yang diperlukan dalam menyelesaikan kesulitan atau persoalan masing-masing.
Usaha pencegahan kenakalan remaja secara khusus dilakukan oleh para pendidik terhadap kelainan tingkah laku para remaja. Pendidikan mental di sekolah dilakukan oleh guru, guru pembimbing dan psikolog sekolah bersama dengan para pendidik lainnya. Usaha pendidik harus diarahkan terhadap remaja dengan mengamati, memberikan perhatian khusus dan mengawasi setiap penyimpangan tingkah laku remaja di rumah dan di sekolah.
Sekolah adalah lembaga pendidikan formal yang memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan remaja. Ada banyak hal yang bisa dilakukan pihak sekolah untuk memulai perbaikan remaja, di antaranya melakukan program “monitoring” pembinaan remaja melalui kegiatan-kegiatan keagamaan, kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah dan penyelenggaraan berbagai kegiatan positif bagi remaja

Pemberian bimbingan terhadap remaja tersebut bertujuan menambah pengertian remaja mengenai:
  1. Pengenalan diri sendiri: menilai diri sendiri dan hubungan dengan orang lain.
  2. Penyesuaian diri: mengenal dan menerima tuntutan dan menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut.
  3. Orientasi diri: mengarahkan pribadi remaja ke arah pembatasan antara diri pribadi dan sikap sosial dengan penekanan pada penyadaran nilai-nilai sosial, moral dan etik.
Bimbingan yang dilakukan terhadap remaja dilakukan dengan dua pendekatan:
  1. Pendekatan langsung, yakni bimbingan yang diberikan secara pribadi pada remaja itu sendiri. Melalui percakapan mengungkapkan kesulitan remaja dan membantu mengatasinya.
  2. Pendekatan melalui kelompok, di mana ia sudah merupakan anggota kumpulan atau kelompok kecil tersebut:

2. Tindakan Represif
Usaha menindak pelanggaran norma-norma sosial dan moral dapat dilakukan dengan mengadakan hukuman terhadap setiap perbuatan pelanggaran. Dengan adanya sanksi tegas pelaku kenakalan remaja tersebut, diharapkan agar nantinya si pelaku tersebut “jera” dan tidak berbuat hal yang menyimpang lagi. Oleh karena itu, tindak lanjut harus ditegakkan melalui pidana atau hukuman secara langsung bagi yang melakukan kriminalitas tanpa pandang bulu
Sebagai contoh, remaja harus mentaati peraturan dan tata cara yang berlaku dalam keluarga. Disamping itu perlu adanya semacam hukuman yang dibuat oleh orangtua terhadap pelanggaran tata tertib dan tata cara keluarga. Pelaksanaan tata tertib harus dilakukan dengan konsisten. Setiap pelanggaran yang sama harus dikenakan sanksi yang sama. Sedangkan hak dan kewajiban anggota keluarga mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan dan umur.
Di lingkungan sekolah, kepala sekolahlah yang berwenang dalam pelaksanan hukuman terhadap pelanggaran tata tertib sekolah. Dalam beberapa hal, guru juga berhak bertindak. Akan tetapi hukuman yang berat seperti skorsing maupun pengeluaran dari sekolah merupakan wewenang kepala sekolah. Guru dan staf pembimbing bertugas menyampaikan data mengenai pelanggaran dan kemungkinan-kemungkinan pelanggaran maupun akibatnya. Pada umumnya tindakan represif diberikan dalam bentuk memberikan peringatan secara lisan maupun tertulis kepada pelajar dan orang tua, melakukan pengawasan khusus oleh kepala sekolah dan tim guru atau pembimbing dan melarang bersekolah untuk sementara waktu (skors) atau seterusnya tergantung dari jenis pelanggaran tata tertib sekolah.



3. Tindakan Kuratif dan Rehabilitasi
Tindakan ini dilakukan setelah tindakan pencegahan lainnya dilaksanakan dan dianggap perlu mengubah tingkah laku pelanggar remaja itu dengan memberikan pendidikan lagi. Pendidikan diulangi melalui pembinaan secara khusus yang sering ditangani oleh suatu lembaga khusus maupun perorangan yang ahli dalam bidang ini.
Solusi internal bagi seorang remaja dalam mengendalikan kenakalan remaja antara lain:
  1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
  2. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
  3. Remaja menyalurkan energinya dalam berbagai kegiatan positif, seperti berolahraga, melukis, mengikuti event perlombaan, dan penyaluran hobi.
  4. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
  5. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.

Jika berbagai solusi dan pembinaan di atas dilakukan, diharapkan kemungkinan terjadinya kenakalan remaja ini akan semakin berkurang dan teratasi. Dari pembahasan mengenai penanggulangan masalah kenakalan remaja ini perlu ditekankan bahwa segala usaha pengendalian kenakalan remaja harus ditujukan ke arah tercapainya kepribadian remaja yang mantap, serasi dan dewasa. Remaja diharapkan akan menjadi orang dewasa yang berpribadi kuat, sehat jasmani dan rohani, teguh dalam kepercayaan (iman) sebagai anggota masyarakat, bangsa dan tanah air.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1. Kesimpulan
Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat. Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
Faktor yang melatar belakangi terjadinya kenakalan remaja dapat dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berupa krisis identitas dan kontrol diri yang lemah. Sedangkan faktor eksternal berupa kurangnya perhatian dari orang tua; minimnya pemahaman tentang keagamaan; pengaruh dari lingkungan sekitar dan pengaruh budaya barat serta pergaulan dengan teman sebaya; dan tempat pendidikan.
Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh kenakalan remaja akan berdampak kepada diri remaja itu sendiri, keluarga, dan lingkungan masyarakat.
Solusi dalam menanggulangi kenakalan remaja dapat dibagi ke dalam tindakan preventif, tindakan represif, dan tindakan kuratif dan rehabilitasi. Adapun solusi internal bagi seorang remaja dalam mengendalikan kenakalan remaja antara lain:
  1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan
  2. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama
  3. Remaja menyalurkan energinya dalam berbagai kegiatan positif
  4. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul,
  5. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan
Segala usaha pengendalian kenakalan remaja harus ditujukan ke arah tercapainya kepribadian remaja yang mantap, serasi dan dewasa. Remaja diharapkan akan menjadi orang dewasa yang berpribadi kuat, sehat jasmani dan rohani, teguh dalam kepercayaan (iman) sebagai anggota masyarakat, bangsa dan tanah air.
3.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, kami menyarankan untuk lebih menaruh perhatian terhadap persoalan sosial, terutama kenakalan remaja. Hendaknya kita dapat mencegah dan mengendalikan perilaku remaja sehingga tidak menimbulkan masalah sosial yang terjadi akibat kenakalan-kenakalan remaja tersebut.

TUGAS MAHASISWA

ABNORMAL PSYCHOLOGY ASSIGNMENT

  Introduction ,serif; font-size: 16pt; line-height: 150%;"> Abnormal psychology deals with the branches of behavioral, emotional,...