Kamis, 10 Oktober 2024

Skripsi Bab I Program Studi Bimbingan Dan Konseling

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Kepercayaandiri merupakan salah satu aspek kepribadian individu yang dapat mempengaruhi kualitas hidupnya (Lauster 2006, hl. 4). Kepercayaan diri juga dapat diartikan sebagai keyakinan yang dimiliki individu terhadap kemampuan yang dimiliki dan tidak mudah oleh orang lain.(Wiranatha & Supriyadi 2015 ,hl. 108) menjelaskan bahwa kepercayaan diri adalahhal penting dalam pertumbuhan dan perkembangan pada masa remaja. Penampilan merupakan faktor pentingyang akan membentuk kepercayaan diri pada remaja. Setiap individu akan memiliki kepercayaan diriyangberbeda-beda. Ada individu yang memiliki kepercayaan diri penuh dan individu yang merasa kurang memiliki kepercayaan diri, tingkatan tersebut tergantung pada tanggapan orang lain mengenai kondisifisik, moral,dan sosialnya.

Kita sebagai makhluk sosial tentunya tidak akan lepas dari berhubungan dengan orang dilingkungan sekitar Salah satu factor yang dapat mempengaruhi individu diterima dilingkungan social nya yaitu kepercayaan diri, hal tersebut mendorong individu untuk berani berhubungan dengan orang lain (Santrock,2002, hl. 108). Individu yang kurang memiliki kepercayaan diri cenderung menganggap bahwa dirinya tidak berharga dan memandang diri nya rendah ketika menghadapi respon dari lingkungannya. Rema jayang memiliki sikap demikian akan merasa takut jika membuat kesalahan,takut diremehkan,dan takut mendapat kritikan dari orang di sekitarnya. Tetapi sebaliknya, remaja yang memiliki kepercayaan diri akan


lebih mudah bergaul dengan orang lain, dapat mengontrol perilaku, dan cenderung lebih mudah untuk menikmati hidup. (Lilishanty & Maryatmi 2019, hl. 9). Terdapat empat factor yang dapat mempengaruhi kepercayaan diri, yaitu pola asuh (pola asuh demokratis merupakan polaasuh yang paling memiliki pengaruh terhadap kepercayaan diri, hal ini dikarenakan pola asuh ini melatih untuk memiliki tanggung jawab dan mengatasi masalah secara mandiri), jenis kelamin (perempuan dianggap kurang memiliki kepercayaan diri karena memiliki sifat lemah dan harus dilindungi), pendidikan (individu yang berpendidikan rendahakan merasa tersudutkan dan tidak yakin atas kemampuan yang dimiliki, tetapi individu yang berpendidikan tinggi memiliki sifat yang lebih optimis dan yakin terhadap kemampuan yang dimiliki), dan penampilan fisik (individu yang berpenampilan menarik cenderung diperlakukan lebih baik, sehingga kepercayaan diri meningkat, salah satu hal yang berhubungan dengan penampilan fisik yaitu citra tubuh.

            Dalam penelitian yang di lakukan oleh (wiranatha dan supriyandi 2015, hl.109) menyatakan bahwa fisik dari seorang remaja merupakan salah satu unsur yang mempengaruhi kpercayaan dirinya. Penampilan fisik akan mendorong timbulnya penilaian individu tentang apa yang dia pikirkan dan rasakan tentang keadaan tubuhnya, serta tentang bagaimana orang lain menilai dirinya yang disebut citra tubuh. Remaja dengan citra tubuh yang positif akan lebih mudah berinteraksi dengan lingkungan dan memiliki pandangan yang baik terhadap diri mereka sendiri maupun orang lain.

Penelitian tentang citra tubuh ini juga di lakukan oleh (ifdil, 2017, hl 112) dengan judul “Hubungan Citra Tubuh Dengan Kepercayaan Diri Remaja Putri” dengan mengikut sertakan  77 remaja putri sebagai subjek penelitian. Hasil menunjukkan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara tubuh maka akan semakin rendah pula kepercayaan diri nya, begitu juga sebalinya, semakin rendah citra tubuh maka akan semakin rendah pula kepercayaan dirinya. Dalam penelitian  ini, Ifdil (2017,hl. 111) juga mengungkap bahwa sebuah upaya perlu di  lakukan untuk menciptakan dan membangun kepercayaan diri dan citra tubuh remaja putri melalui layanan bimbingan dan konseling. Hal tersebut sesuai dengan hasil studi pendahuluan terdapat permasalahan kepercayaan diri siswa kelas XI di        . Hal ini dibuktikan peneliti saat melaksanakan PPL di sekolah tersebut dengan menggunakan asessmen dari hasil analisis Alat Ungkap Masalah (AUM) dimana diperoleh hasil sebanyak 51% Rendah diri atau kurang percaya diri, 37% Badan terlalu kurus atau terlalu gemuk, 29% Badan terlalu pendek atau terlalu tinggi, 23% Secara jasmaniah kurang menarik, 17% Kurang terbuka terhadap orang lain. Hal ini juga di pengaruhi oleh penampilan dan citra tubuhnya.

Dengan  mewawancarai beberapa siswa kelas XI di         pada 25 Mei 2023 di mana di peroleh data bahwa kepercayaan diri mereka di pengaruhi oleh penampilan dan citra tubuhnya. Dari keterangan beberapa siswa tersebut, disimpulkan bahwa masalah yang mereka miliki adalah perasaan memiliki tubuh kurang bagus karena berat dan tinggi badan yang tidak sesuai dengan keinginannya, memiliki kulit kusam dan wajah berjerawat, dan penampilan yang kurang menarik. Perasaan semacam itu membuat mereka sering fokus pada penampilan orang lain dan membandingkan nya dengan diri mereka sendiri. Ini adalah faktor yang membuat mereka memiliki pandangan buruk tentang diri mereka sendiri.

Dilihat dari beberapa hal tersebut, terlihat siswa membutuhkan citra tubuh yang positif untuk mengembangkan rasa percaya diri mereka. Oleh karena itu diperlukan suatu strategi, salah satunya melalui layanan bimbingan konseling dengan metode bimbingan kelompok teknik self instruction.Bimbingan kelompok adalah suatu kegiatan yang di lakukan oleh beberapa orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok, di mana semua anggota dalam kelompok tersebut dapat saling berinteraksi, memberikan pendapat serta masukan dan lain sebagainya (Prayitno, 2004, hl. 309). Sedangkan self instruction merupakan suatu teknik dalam pendekatan Cognitif Behafior Therapy (CBT) yang di kembangkan oleh (Donald Meinchenbeum) yang dianggap tepat untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa, inti dari metode ini adalah untuk membangun kembali kerangka mental konseli dengan berpusat pada perubahan verbalisasi overt dan convert (Habiba, 2013, hl. 189).Melihat dari gambaran permasalahan dan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan, maka peneliti merasa penting untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok Teknik Self Instruction Terhadap Kepercayaan Diri Siswa Kelas XI ”.


Skripsi Latar Belakang Masalah Pengembangan Modul Ajar Berbasis Contextual Teaching And Learning

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

Salah satu  bahan ajar yang digunakan guru untuk mengajar adalah modul.modul pembelajaran adalah bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencakup isi materi,metode dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri untuk mencapai kompetensi yang diharapkan (Anwar,2010). Dengan adanya modul ini siswa akan memiliki sumber belajar yang dapat diimplementasikan secara mandiri,dan dapat aktif dalam pembelajaran yang di ikutinya. modul atau buku ialah salah satu sumber informasi yang dipakai siswa untuk mengembangkan ataupun menambah wawasan dan menjadi motivasi dalam kegiatan pembelajaran. Kegiatan belajar yang dilaksanakan disatuan Pendidikan melibatkan siswa dan guru,guru menyajikan materi Pelajaran untuk siswa sehingga mereka mendapatkan materi pembelajaran.pada penyampaian materi pembelajaran dibutuhkan media atau bahan ajar yang harus diselaraskan Bersama strategi belajar yang dilaksanakan guru kepada siswa. Media pembelajaran ialah elemen yang tidak bisa dipisahkan dari aktivitas belajar,dalam rangka mencapai tujuan Pendidikan dengan kualitas yang baik maka dibutuhkan media pembelajaran yang baik untuk mendukung berhasilnya proses Pendidikan (Arsyad,2011 hal : 3).

          Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang memiliki pembelajaran yang beragam,dimana kurikulum Merdeka memfokuskan pada konten-konten esensial agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan  menguatkan kompetensi.struktur dari kurikulum Merdeka terbagi menjadi tiga fase,yakni fase A untuk kelas I dan II, fase B untuk kelas III dan IV, dan fase C untuk kelas V dan VI,berdasarkan keputusan  tahun 2022,pada kurikulum Merdeka kriteria ketuntasan minimal (KKM)sudah tidak diberlakukan lagi dan diganti dengan capaian pembelajaran (CP).capaian pembelajaran adalah kompetensi minimum (pengetahuan,keterampilan,dan sikap) yang dirangkaikan sebagai satu kesatuan yang harus dicapai oleh siswa untuk setiap mata Pelajaran.capaian pembelajaran ini diketahui dengan cara mengidentifikasi ketercapaian tujuan belajar.guru diberikan keleluasaaan untuk menentukan kriteria ketercapaian pembelajaranyang sesuai dengan pembelajaran.

            Terdapat beberapa hal-hal esensial pada kurikulum Merdeka jenjang Sekolah Dasar (SD),salah satunya adalah penggabungan mata Pelajaran IPA dan IPS menjadi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS).penggabungan mata Pelajaran IPA dan IPS ini diharapkan dapat  memicu siswa untuk dapat mengelola lingkungan alam dan sosialnya dalam satu kesatuan.pembelajaran IPAS ini mulai diajarkan pada fase B.penerapan mata Pelajaran IPAS ini sendiri memiliki beberapa tujuan,salah satunya adalah mengembangkan ketertarikan dan rasa ingin tahu siswa,sehingga mereka terpicu untuk mengkaji fenomena yang ada disekitar mereka,memahami alam semesta dan kaitannya dengan kehidupan manusia serta mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep siswa dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,dalam hal ini,seorang guru memiliki peran untuk menumbuhkan rasa keingin tahuan siswa terhadap setiap materi dalam muatan Pelajaran IPAS melalui modul ajar,guru sebagai fasilitator seidealnya harus sudah mampu mengembangkan modul ajar.Namun, pada kenyataannya masih banyak guru yang belum menguasainya,sehingga dalam melaksanakan proses pembelajaran masih banyak yang bersifat tradisional dan tidak dilaksanakan dengan contextual teaching and learning,sehingga dampak yang diperoleh antara lain siswa cenderung menjadi pendengar dan guru lebih dominan menguasai kelas.

          Untuk mengajar mata Pelajaran IPAS guru dapat menggunakan model pembelajaran yang aktif,menyenangkan dan berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari siswa,seperti model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan model pembelajaran yang tepat untuk pembelajaran IPAS,hal ini dikarenakan pada penerapannya model pembelajaran Contextual Teaching and Learning ini dapat membantu siswa untuk mengaitkan materi pelajarannya dengan dunia nyata siswa atau lingkungan sekitarnya.

        Depdiknas (2002) menyatakan bahwa model pembelajaran Contextual Teaching and Learning atau yang sering disebut dengan pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru untuk mengaitkan materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong untuk dapat membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan mereka sehari-hari,dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yakni kontruktivisme (contructivisme),bertanya (questioning), menemukan (inquiry),Masyarakat belajar (learning community),pemodelan (modelling), refleksi (reflection) dan penilaian sebenarnya (authentic assessment) (perdana,2020)

      Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh peneliti di ditemukan bahwa proses kegiatan belajar mengajar (KBM) yang dilakukan hanya menekankan pentrasnferan pengetahuan (memberi tahu), yang terlihat dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam kelas yang Sebagian besar masih menekankan pertanyaan apa (what),bukan mengapa (why) dan bagaimana (how) dan bergantung pada satu buku paket saja.padahal yang diharapkan,peserta didik tidak saja tahu apa (ranah kognitif),tetapi juga tahu mengapa(ranah afektif),dan tahu bagaimana (ranah psikomotor) dengan proses pembelajaran yang “memberdayakan”, dan berdasarkan hasil observasi peneliti modul ajar tersebut sudah baik namun cara mengajar guru dikelas IV tersebut masih monoton memakai 5 W+ 1H saja,maka peneliti akan mengembangkan suatu produk pengembangan modul ajar berbasis contextual teaching and learning agar modul tersebut dapat terealisasikan dengan konsep belajar yang sesuai dengan contextual teaching and learning

       Berdasarkan wawancara,guru mengakui bahwa salah satu Upaya membuat pembelajaran IPAS menjadi pengalaman yang berkesan adalah dengan memotivasi serta mengajak peserta didik untuk terlibat aktif dalam pembelajaran yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.sehingga dengan pemahaman yang benar akan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik terhadap  manfaat IPAS dalam kegiatan sehari-hari.sehingga dengan pemahaman yang benar akan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik yang sering kali belum mampu memenuhi kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP).Hasil ujian akhir semester gasal tahun 2023/2024 untuk kelas IV menunjukkan persentase peserta didik yang mampu mencapai KKTP hanya sebesar 45,9%.oleh karena itu,pelaksanaan pembelajaran IPAS menggunakan pendekatan kontekstual menjadi penting karena berbagai fenomena dalam kehidupan sehari-hari sangat berkaitan dengan IPAS.

       Berangkat dari data tersebut dan beberapa penjelasan yang telah diuraikan diatas maka peneliti perlu untuk melakukan penelitian tentang

 

Rabu, 11 September 2024

Makalah Katarak Klasifikasi katarak serta Metode Pengumpulan Data

BAB I PENDAUAN

 

1.1.  Latar Belakang

Mata merupakan suatu organ refraksi yang berfungsi untuk membiaskan cahaya masuk ke retina agar dapat diproses oleh otak untuk membentuk sebuah gambar. Cahaya yang masuk akan direfraksikan ke retina, yang akan dilanjutkan ke otak berupa impuls melalui saraf optik agar dapat diproses oleh otak.

Katarak adalah adanya kekeruhan atau peningkatan opasitas pada lensa yang menyebabkan penurunan jumlah atau pembiasan cahaya yang masuk melalui media refraksi sehingga menurunkan kemampuan penglihatan.

Katarak adalah penyakit mata degeneratif yang umumnya terjadi pada lansia. Semakin bertambah usia, lensa mata menjadi keruh dan buram. Jika tidak ditangani dengan tepat dan rutin, katarak akan menyebabkan kebutaan.

Prevalensi katarak diduga berkisar 50% pada individu usia 65-74, meningkat menjadi sekitar 70% bagi mereka yang berusia di atas 75 tahun.                                                                                                       

 Menurut WHO, angka kebutaan akibat katarak secara global mencapai 51% atau sekitar 20 juta orang.

Katarak merupakan kondisi kekeruhan pada lensa mata karena terbentuknya protein yang mengubah strukturnya.penglihatan orang katarak seperti melihat bayangan buram dan kabut di jendela. Seperti itulah kondisi penderita katarak saat melihat sekitar, menyetir mobil di malam hari, dan membaca.

Berdasarkan data dari World Health Organization penyebab kebutaan paling banyak di dunia adalah katarak 51% glaukoma 8% dan disusul oleh degenerasi makular terkait usia (AMD) 5% WHO memperkirakan bahwa hampir 18 juta orang dari populasi seluruh dunia menderita kebutaan yang diakibatkan oleh katarak. Data ini menjadikan katarak merupakan penyebab utama kebutaan dan penyebab penting dari tunanetra di seluruh dunia. (WHO, 2012).

Masalah kebutaan di Indonesia dari tahun ke tahun meningkat kasusnya sehingga katarak dilihat bukan sahja menjadi masalah kesehatan semata, namun sudah menjadi faktor penting yang berhubungan dengan sosial dan partipasi aktif dari masyarakat. Perkiraan insidensi katarak (kasus baru katarak) adalah sebesar 0.1% dari jumlah populasi, sehingga jumlah kasus baru katarak di Indonesia diperkirakan sebesar 250.000 per tahun. Beban ini makin lama akan semakin besar bila program pemberantasan kebutuan tidak dilakukan secara komprehensif TUK dan terkoordinir secara nasional (Depkes RI, 2014). HANG

WHO memperkirakan sekitar 80% dari gangguan penglihatan dan kebutaan di dunia dapat dicegah. Katarak dan gangguan refraksi merupakan dua penyebab terbanyak yang dapat ditangani dengan hasil yang baik dan cost- efective di berbagai negara termasuk Indonesia.

 

          Berdasarkan data dari World Health Organization penyebab kebutaan paling banyak di dunia adalah katarak 51% glaukoma 8% dan disusul oleh degenerasi makular terkait usia (AMD) 5% WHO memperkirakan bahwa hampir 18 juta orang dari populasi seluruh dunia menderita kebutaan yang diakibatkan oleh katarak. Data ini menjadikan katarak merupakan penyebab utama kebutaan dan penyebab penting dari tunanetra di seluruh dunia. (WHO, 2012).

.

BAB II

Tinjauan Pustaka

1.1  Katarak

Katarak adalah kekeruhan pada lensa mata, yang menyebabkan penglihatan seseorang menjadi buram, bahkan sampai tidak melihat. Hal ini disebabkan cahaya yang masuk tidak dapat mencapai retina, akibat terhalang oleh lensa yang keruh. Sebagian besar katarak disebabkan oleh proses penuaan atau usia lanjut.

1.2  Klasifikasi katarak

1.     Katarak Konginetal

Katarak konginetal adalah kekeruhan pada lensa yang timbul pada saat pembentukan lensa atau katarak yang sudah terlihat pada usia kurang dari 1 tahun Kekeruhan sudah terdapat pada waktu bayi lahir. Katarak ini sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang menderita rubella, diabetes melitus, toksoplasmosis, hipoparatiroidisme,galaktosemia. Adapula yang menyertai kelainan bawaan pada mata itu sendiri seperti mikroftalmus,aniridia,kolobama.keratokonus, ektopia lentis, megalokornea, heterokronia iris. Kekeruhan dapat dijumpai dalam bentuk arteri hialoidea yang persisten, katarak polaris anterior, posterior,katarak aksialis, katarak zonularis, katarak stelata, katarak totalis dan katarak kongineta membranasea

2.     Katarak Primer

Katarak primer, menurut umur ada tiga golongan yaitu katarak juvenilis (umur 20 tahun), katarak presenilis (umur sampai 50 tahun) dan katarak senilis (umur >50 tahun)

Katarak primer dibagi menjadi 4 stadium

1.       Stadium Insipien

Jenis katarak ini adalah stadium paling dini. Visus belum terganggu, dengan koreksi masih bisa 5/5-5/6. Kekeruhan terutama terdapat pada bagian perifer berupa bercak-bercak seperti jari-jari roda

2.     Stadium Imatur

Kekeruhan belum mengenai seluruh lapisan lensa, terutama terdapat dibagian posterior dan baian belakang nukleus lensa. Shadow test positif. Saat ini mungkin terjadi hidrasi korteks yang menyebabkan lensa menjadi cembung sehingga indeks refraksi menjadi berubah dan mata menjadi miopia Keadaan ini disebut instrumensensi. Cembungnya lensa akan mendorong iris ke depan, menyebabkan sudut bilik mata depan menjadi sempit dan menimbulkan komplikasi glaukoma.


3.     Stadium Matur

Pada stadium ini terjadi pengeluaran air sehingga lensa akan berukuran normal kembali. Saat ini lensa telah keruh seluruh nya yang masuk pupil dipantulkan kembali. Shadow test negatif. Di pupil tampak lensa seperti mutiara.

4.       Stadium Hipermatur (Katarak Morgagni)

Korteks lensa yang seperti bubur telah mencair sehingga nukleus lensa turun karena daya beratnya. Melalui pupil, nukleus terbayang sebagai setengah lingkaran dibagian bawah dengan warna berbeda dari yang atasya yaitu kecoklatan. Saat ini juga terjadi kerusakan kapsul lensa yang menjadi lebih permeabel sehingga isi korteks dapat keluar dan lensa menjadi kempis yag dibawahnya terdapat nukleus lensa. Keadaan ini disebut katarak Morgagni. (Wijaya, 2013)

Menurut tamsuri, 2011 katarak juga dibagi lagi berdasarkan penyebabnya, yaitu:

1.     Katarak traumatika

katarak terjadi akibat rudapaksa atau trauma baik karena trauma tumpul maupun tajam. Rudapaksa ini dapat mengakibatkan katarak pada satu mata (katarak monokular), Penyebab katarak ini antara lain karena radiasi sinar-xradioaktif, dan benda asing

2.     Katarak toksika

Merupakan katarakyang terjadi akibat adanya pajanan dengan bahan kimia tertentu. Selain itu, katarak ini dapat juga karena penggunaan obat seperti kortikosteroid dan chlorpromazine.

3.       Katarak Komplikata

Katarak jenis ini terjadi sekunder atau sebagai komplikasi dari penyakit lain.Penyebab katarak jenis ini adalah

1)     Gangguan okuler, karena retinitis pigmentosa, glaukoma, ablasio retina yang sudah lama, uveitis, miopia maligna

2)     Penyakit sistemik, diabetes melitus, hipoparatiroid, sindrom down,dermatitis atopik.

Merokok meningkatkan risiko berkembangnya katarak, demikian pula dengan pemium berat Kadang-kadang katarak terjadi lagi setelah operasi jika kapsul lensa ditinggalkan utuh selama operasi katarak

2.3  Penyebab Katarak

Penyebab pertama katarak adalah proses penuaan. Anak dapat mengalami katarak yang biasanya merupakan penyakit yang diturunkan, peradangan didalam kehamilan, keadaan ini disebut sebagai katarak congenital Penyakit infeksi tertentu dan penyakit seperti diabetes mellitus dapat menyebabkan katarak komplikata (ilyas, 2003). Katarak dapat disebabkan oleh beberapa faktor


a.      Fisik

Dengan keadaan fisik seseorang semakin tua (lemah) maka akan mempengaruhi keadaan lensa, sehingga dapat mengakibatkan katarak baik pada orang yang fisiknya semakin tua atau karena sakit

b.       Kimia

Apabila mata terkena cahaya yang mengandung bahan kimia atau akibat paparan sinar ultraviolet matahari pada lensa mata dapat menyebabkan katarakk

c.       Usia

Dengan bertambahnya seseorang, maka fungsi lensa juga akan menurun dan mengakibatkan katarak Katarak yang didapatkan karena faktor usia tua biasanya berkembang secara perlahan Penglihatan kabur dapat terjadi setelah trauma dari gejala awal dapat berkembangan kehilangan penglihatan. Hilangnya penglihatan tergantung pada lokasi dan luasnya kekeruhan

d.     Infeksi virus masa pertumbuhan janin

Jika ibu pada masa mengandung terkena atau terserang penyakit yang disebabkan oleh virus. Maka infeksi virus tersebut akan mempengaruhi tahap pertumbuhan janin, misal ibu yang sedang mengandung menderita rubella

e.       Penyakit

Meliputi penyakit diabetes dan trauma mata seperti uveitis.

2.4  Manifestasi Katarak

Manifestasi klinis pasien katarak antara lain:

a.      Rasa silau karena terjadi pembiasan tidak teratur oleh lensa

b.     Penglihatan akan berkurang secara perlahan

c.      Pada pupil terdapat bercak putih

d.     Bertambah tebal nucleus dengan perkembangnya lapisan korteks lensa

e.      Penglihatan kabur

f.      Rasa nyeri pada mata

Katarak hipermatur akan membulkan penyakit, mata menjadi merah disertai rasa sakit yang kemudian akan berakhir dengan kebutaan. Secara klinis proses ketuaan sudah tampak daam pengurangan kekuatan akomodasi lensa, akibat mulai terjadinya sclerosis lensa yang dimanifikasikan dalam bentuk presbiopi Selain itu gejala berupa keluhan penurunan ketajaman penglihatan secara progresif (seperti rabun jauh memburuk secara progresif). Penglihatan seakan- akan melihat asap dan pupil mata seakan-akan tampak benar-benar putih, sehinga refleks cahaya pada mata menjadi negatif. Bila dibiarkan akan mengganggu penglihatan dan akan dapat menimbulkan komplikasi berupa glaukoma dan uveitis. Bila katarak dibiarkan maka akan mengganggu penglihatan dan akan dapat menimbulkan komplikasi berupa glaukoma dan uveitis


Gejala umum gangguan katarak meliputi:

1.  Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut mengalangi objek

2.  Peka terhadap sinar atau cahaya

3.  Dapat melihat dobel pada satu mata

4.  Memerlukan pencahayaan yang terang untuk dapat membaca PRE

5.  Lensa mata berubah menjadi buram seperti kaca susu

 

 

2.5  .Penatalaksanaan Katarak

Dengan menggunakan alat Fakoemulsifikasi modern yang digunakan untuk menangani pasien katarak dengan cara menghacurkan katarak. Kemudian diikuti dengan proses penyedotan. Dengan menggunakan alat ini maka pembuangan katarak dapat dilakukan tanpa pembiusan, tanna suntik, tanpa penjahitan, tanpa rasa sakit,serta tanpa perlu menjalani rawat inap.aman bagi penderita diabetes melitus dan hipertensi.


BAB III

3.1. Desain Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, penelitian kuantitatif adalah penelitian dengan memperoleh data yang berbentuk angka atau data kuantitatif yang diangkakan.

3.2. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah 3 pasien katarak di klinik smec

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah non-probability sampling dengan teknik accidental sampling adalah proses pengambilan responden untuk dijadikan sampel berdasarkan sampel yang kebetulan ditemui dengan peneliti.

Adapun cara menentukan jumlah sampel pada accidental sampling, yaitu dengan rumus slovin sebagai berikut :

Lokasi dan Waktu Penelitian


3.5.  Pertimbagan Etik

Pada ini dari penelitian demi hanya penelitian hasil sampel. kode peneliti akan merahasiakan kenyamanan memberikan Penulis sebagai ganti mencantumkan nama responden. Kerahasiaan informasi yang diberikan responden dijamin oleh penulis, hanya penulis yang akan disajikan secara keseluruhan.

Analisa Data

Data pada penelitian ini akan disajikan dalam bentuk tabel dan disertai narasi untuk memperjelas hasil penelitian


 

Makalah Katarak di Klinik

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

1.Aini, A. N., & Santik, Y. P. (2018). Kejadian Katarak Senilis Di RSUD Tugurejo.Higeia Journal of Public Health Research And Development, 2(2), 296- 306.

2.Astari, P. (2018). Katarak: Klasifikasi, Tatalaksana, dan Komplikasi Operasi, CDK-

269, 45(10), 748-753.

3.Anisa, F. A. (2018). Lensa Dan Katarak. Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung.

4.Alshamrani, A. Z. (2018). Cataracts Pathophysiology and Management. The Egyptian Journal of Hospital Medicine, 70(1), 151-154.doi:10.12816/0042978

DAFTAR LAMPIRAN DATA KUESIONER VALIDITAS

 

DAFTAR  LAMPIRAN

 

Lampiran 1  KUSIONER PENELITIAN................................................................... 88

Lampiran 2 DATA KUESIONER VALIDITAS DAN RELIABILITAS LOKASI (X1)............................................................................................................................ 91

Lampiran 3 DATA KUESIONER VALIDITAS DAN RELIABILITAS STORE ATMOSPHERE (X2) ................................................................................................. 92

Lampiran 4 DATA KUESIONER VALIDITAS DAN RELIABILITAS KEPUTUSAN PEMBELIAN (Y).............................................................................. 93

Lampiran 5 HASIL UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS LOKASI (X1) .......... 94

Lampiran 6 HASIL UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS  STORE

ATMOSPHERE (X2) ................................................................................................. 96

Lampiran 7 HASIL UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS KEPUTUSAN

PEMBELIAN (Y) ....................................................................................................... 98

Lampiran 8 TABULASI DATA ANGKET JAWABAN RESPONDEN

LOKASI (X1)........................................................................................................... 100

Lampiran 9 TABULASI DATA ANGKET JAWABAN RESPONDEN STORE ATMOSPHERE (X2)................................................................................................ 103

Lampiran 10 TABULASI DATA ANGKET JAWABAN RESPONDEN KEPUTUSAN PEMBELIAN (Y)............................................................................ 106

Lampiran 11 HASIL UJI ASUMSI KLASIK ........................................................... 109

Lampiran 12 HASIL UJI ANALISIS REGRESI LINIER BERGANDA................. 111

Lampiran 13 HASIL UJI HIPOTESIS ..................................................................... 112

Lampiran 14 Titik Persentase Distribusi t d.f. = 1 – 200 .......................................... 113

Lampiran 15 Titik Persentase Distribusi F Probabilita = 0.05................................. 117

Lampiran 16 Permohonan Judul Skripsi.................................................................... 120

Lampiran 17 Izin Mengadakan Observasi ................................................................ 121

Lampiran 18 Nota Tugas........................................................................................... 122

Lampiran 19 Penerbitan Surat Pengantar Penelitian................................................. 123

Lampiran 20 Permohonan Izin Melaksanakan Penelitian......................................... 124

Lampiran 21 Lampiran  ............................................................................................ 125

Lampiran 22 Surat Keterangan Bebas Plagiasi Sidang Skripsi................................. 126

Daftar Riwayat Hidup................................................................................................ 127

TUGAS MAHASISWA

ABNORMAL PSYCHOLOGY ASSIGNMENT

  Introduction ,serif; font-size: 16pt; line-height: 150%;"> Abnormal psychology deals with the branches of behavioral, emotional,...