JURNAL Sejarah Seni
I.
PENDAHULUAN
Suku Jawa atau Suku Bangsa Jawa adalah suku
bangsa terbanyak jumlahnya dalam populasi penduduk Indonesia. Menurut Badan
Pusat Statistik dalam sensus penduduk tahun 2010 saja jumlah orang Jawa telah
mencapai 41,7 persen dari seluruh populasi penduduk Indonesia yang mencapai
angka 237,56 Juta jiwa. Di Provinsi Sumatera Utara sendiri populasi suku bangsa
Jawa mencapai sepertiga dari 12,98 juta populasi penduduk Provinsi Sumatera
Utara. Catatan sejarah mengatakan bahwa migrasi suku bangsa Jawa ke Sumatera
Timur mulai ramai pada abad 19 dan abad 20.Tepatnya pada tahun 1863 dimana
banyak para pengusaha Belanda yang membuka perkebunan-perkebunan baru di
Sumatera Timur.Mereka bermigrasi ke-luar Pulau Jawa dikarenakan semakin
banyaknya keperluan tenaga kerja perkebunan di Sumatera Timur.
Awalnya para pemilik kebun mendatangkan orang
Cina dari Pulau Pinang dan Singapura sebagai buruh perkebunan. Namun
kesulitan-kesulitan dalam cara memperoleh pekerja Cina akhirnya menyebabkan
pemilik perkebunan beralih menggunakan pekerja Jawa. Pada pertengahan 1890-an
para kuli Jawa dengan cepat melampaui jumlah kuli Cina di perkebunan-perkebunan
Deli (Reid, 2011:220). Salah satu penyebabnya adalah upah kuli Jawa jauh lebih
murah daripada upah kuli Cina (Breman, 1997:66-67).
Gelombang migrasi orang Jawa pasca Indonesia
merdeka kian ramai.Orang-orang Jawa khususnya yang berasal dari Provinsi Jawa
Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta banyak yang bermigrasi, merantau ke Tanah
Sumatera Utara.Maka tidak heran jika banyak sekali berdiri kampung-kampung
orang Jawa di Sumatera Utara.Salah satunya Desa Kolam yang berada di Kecamatan
Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.Mereka, yakni orang-orang Jawa membawa
serta kebudayaan dari daerah asal mereka ke tanah rantau ini, termasuk kesenian
leluhur mereka.Salah satu kesenian yang berkembang di Desa Kolam adalah Seni
Pertunjukan Tradisional Tari Angguk.Tari Angguk adalah tari rakyat yang berasal
dari Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya dari Kabupaten Kulon Progo.Tradisi
Tari Angguk ini awalnya dikenal dengan istilah Terbangan.Tradisi ini mirip dengan tradisi Barzanji dalam budaya Melayu yang melantunkan lagu-lagu syiar Islam
yang dinyanyikan oleh beberapa orang laki-laki dan diiringi dengan tabuhan alat
musik rebana, bedug, tamborin dan kendang.
Kesenian Tari Angguk awalnya merupakan
perkembangan dari tradisi Terbangan.Kesenian
terbangan sendiri masuk di Indonesia
khususnya di pulau Jawa dibawa oleh wali songo sebagai penyebar agama Islam
(Lelono, 2012:12). Tradisi terbangan diperkenalkan
oleh para Wali Songo untuk memperkenalkan Islam di Jawa pada sekitar abad 15-16
M. Seiring perkembangan waktu, maka tradisi terbangan
mendapat pengaruh unsur tari dan tembang-tembang atau tradisi lisan Jawa
yang akhirnya memunculkan sebuah kesenian baru yang dikenal dengan Tradisi
Shalawatan Angguk. Kesenian ini diperkenalkan oleh Ki Kasan Dimejo pada tahun
1920 Di Jogjakarta. Dari Jogjakarta kemudian kesenian tradisional ini menyebar
ke beberapa daerah lain semisal di Purworejo dan Magelang serta ke Desa Kolam
Kecamatan Percut Sei Tuan.
Agar lebih mudah untuk melihat dan
menganalisis perubahan seni pertunjukan tradisional Tari Angguk di Desa Kolam,
maka penulis membagi tahap-tahap perubahan kesenian ini dalam tiga periodesasi
antara lain: Masa Orde Lama, Masa Orde
Baru dan Masa Reformasi (Hingga
Sekarang). Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
bagaimana sejarah munculnya Seni Pertunjukan Tradisional Tari Angguk Di Desa
Kolam, bagaimana perkembangan Seni Pertunjukan Tradisional Tari Angguk Di Desa
Kolam dan bagaimana pula upaya pelestarian Seni Pertunjukan Tradisional Tari
Angguk Di Desa Kolam.
Penelitian ini
menggunakan pendekatan penelitian deskriptif-kualitatif dengan metode sejarah.Sebagaimana yang dinyatakan Kartodirdjo
(Priyadi, 2012:2) bahwa Metode Penelitian Deskriptif Kualitatif sering dipakai
dan diberlakukan pada ilmu-ilmu kebudayaan (Geisteswissenschaften)
yang mencakup humaniora, sejarah, dan ilmu-ilmu sosial.Sementara menurut
Sugiyono (2010:7-8) jenis
penelitian deskriprif kualitatif disebut juga metode interpretatif karena data
hasil penelitian lebih berkenaan dengan interpretasi terhadap data yang
ditemukan di lapangan. Adapun
jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (field research) yakni upaya memperoleh data dengan melakukan
wawancara, observasi dan dokumentasiserta penelitian kepustakaan (library research) yakni upaya
memperoleh data dari buku-buku atau literatur-literatur yang berkaitan dengan
judul penelitian. Data digali dari berbagai sumber yakni dari pengelola
sanggar atau paguyuban seni tari angguk di Desa Kolam, serta pihak-pihak yang
memiliki perhatian terhadap Kesenian
Tari Angguk di Desa Kolam.Dalam penelitian ini juga penulis melakukan
wawancara dengan pihak pemerintah terkait atau dalam hal ini pemerintah Desa
Kolam.
II. PEMBAHASAN
A. Sejarah Seni Pertunjukan Tari Angguk Di Desa Kolam
Seni pertunjukan terbangan atau
yang kini kita kenal dengan kesenian Tari Angguk merupakan seni pertunjukan
yang berkembang pada masa Islam.Kesenian ini termasuk ke dalam seni pertunjukan
tari dan musik yang dianggap bercorak Islam karena perkembangannya bertaut
dengan sejarah penyebaran agama Islam (Paeni, 2009:77).
3
|
Beberapa
kesenian tradisional yang ada di Indonesia memang selalu mengalami perkembangan
dari masa ke masa dikarenakan perkembangan jaman dan tuntutan masyarakatnya.
Bastomi (Lelono,
2012:5) berpendapat bahwa perkembangan kesenian berasal dari dua faktor yaitu
faktor dari dalam dan faktor dari luar. Faktor dari dalam yaitu perkembangan
kesenian yang berasal dari pertumbuhan kreasi baru, sedangkan faktor dari luar
yaitu faktor lingkungan yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial
tersebut.Dewi (2007:1) menyatakan bahwa seni pertunjukan
dapat diartikan sebagai “tontonan” yang bernilai seni seperti drama, tari dan
musik yang disajikan sebagai pertunjukan di depan penonton. Secara umum seni pertunjukan
dibagi dua menjadi yakni seni pertunjukan tradisional dan seni pertunjukan
modern.
Perkembangan yang paling tampak dalam kesenian Tari Angguk Desa Kolam
adalah pada kostum yang dipakai yang mirip dengan baju serdadu Belanda. Ini
menunjukan bahwa pengaruh budaya Eropa telah masuk dalam kesenian tradisional
di Indonesia sebagaimana pendapat Sedyawati (2009:117) yang menyatakan bahwa “The youngest acculturation process known in
Indonesia has been with the western (European) culture. It was after this
process that the notion of modern art has entered into Indonesian scene”.
Dalam perkembangannya Seni pertunjukan tradisioal Tari Angguk ini telah
mengalami beberapa perubahan. Perubahan itu
antara lain tampak
pada format pertunjukannya. Hal ini sejalan dengan pendapat Lelono
(2012:1) yang menyatakan bahwa berbagai macam kesenian tradisional telah
mengalami perkembangan dari fungsi maupun organologi. Perkembangan tersebut
terjadi akibat perkembangan jaman dan teknologi modern. Selain itu perkembangan
kesenian tradisional dapat diliat dari fungsinya. Kesenian tradisional sekarang
tidak hanya berfungsi sebagai pengiring ritual acara keagamaan saja, akan
tetapi sudah berfungsi sebagi hiburan. Sebagai salah satu contoh adalah
kesenian terbangan yang mengalami pergeseran fungsi dan mengalami perkembangan
Jika pada awalnya Tari Angguk adalah murni berfungsi sebagai media syiar
agama Islam dengan menyanyikan lagu-lagu pujian dan shalawatan terhadap Nabi
Muhammad, kini ditemukan pula sesaji-sesaji dan pemanggilan roh-roh halus untuk
menarik minat para penonton. Tujuan disediakannya sesaji-sesaji ini adalah
untuk menjadikan para penarinya in trance
atau ndadi (kesurupan). Dalam setiap pementasan ada beberapa
tembang dan tarian yang sering berakhir dengan kondisi penarinya (salah satu
atau beberapa) menjadi ndadi atau kesurupan (intrance), sehingga
dalam menari pun mereka seperti lupa diri atau dianggap kesetanan (Widayat, 2008:8). Semakin ramai yang ndadi maka membuat pertunjukkan Tari
Angguk semakin meriah. Bahkan para penonton menganggap kondisi ndadi ini sebagai inti dari acara.
Seni Pertunjukan Tradisional Tari Angguk merupakan salah satu kesenian
tradisional yang berkembang di Desa Kolam.Hingga hari ini kesenian Tari Angguk
dijaga dan dilestarikan khususnya oleh masyarakat etnis Jawa di Desa Kolam
Kecamatan Percut Sei Tuan.Tari Angguk adalah tari rakyat yang berasal dari
Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya dari Kabupaten Kulon Progo.Tradisi Tari
Angguk ini awalnya dikenal dengan istilah Terbangan.Tradisi
ini mirip dengan tradisi Barzanji
dalam budaya Melayu yang melantunkan lagu-lagu syiar Islam yang dinyanyikan
oleh beberapa orang laki-laki dan diiringi dengan tabuhan alat musik rebana,
bedug, tamborin dan kendang.
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Ketua Sanggar Seni Remaja,
Bapak Painen (Selasa, 27 Desember 2016)
Kesenian Tari Angguk telah ada di Desa Kolam sejak tahun 1959. Kesenian ini
diperkenalkan oleh seorang perantau dari desa Pripih, Kabupaten Kulon Progo
yang bernama Kartosari.Awalnya, beliau merupakan seorang Guru Mengaji yang
mengajar anak-anak sekitar Pasar XII, Dusun IV Desa Kolam. Dikarenakan
kerinduaannya akan kesenian tradisional dari kampung halamannya di Kulon Progo
maka beliau mulai memikirkan sebuah ide untuk mengembangkan kesenian tersebut
di daerah rantau ini. Kemudian Kartosari mengadakan rapat terbatas dengan para
orang tua dan tokoh masyarakat setempat perihal hajatnya itu.Beruntung, hajatnya
tersebut diamini oleh para hadirin rapat tersebut.Maka mulailah beliau melatih
anak-anak didiknya untuk belajar Tari Angguk.Dua kali dalam seminggu, yakni
setiap Rabu Malam dan Sabtu Malam sehabis mengaji, Kartosari mengajarkan
anak-anak didiknya perihal kesenian Tari Angguk.
Seiring perkembangan waktu, tidak hanya anak-anak saja yang tertarik
terhadap kesenian ini, namun remaja sekitar tampak tertarik untuk belajar Tari
Angguk.Hal inilah yang menjadi cikal-bakal berkembangnya kesenian Tari Angguk
di Desa Kolam. Sebuah kesenian akan terus berkembang ketika masyarakatnya
secara sadar mempunyai keinginan untuk terus melestarikan dan mengembangkannya.
Sejak saat itu maka Seni Pertunjukan Tradisional Tari Angguk menjadi salah satu
alternatif hiburan yang digemari
masyarakat untuk mengisi berbagai acara di Desa Kolam mulai dari acara pesta
pernikahan, khitanan, perayaan kemerdekaan Republik Indonesia dan menyambut
Tahun baru Islam (1 Muharram) atau
yang lebih dikenal dengan suroan dalam
istilah Jawa.
B. Perkembangan Seni Pertunjukan Tradisional Tari Angguk
Di Desa Kolam Masa Orde Lama
Salah
satu aspek kajian budaya adalah yang pendekatannya dari arah sejarah. Suatu
kajian sejarah kesenian dapat pula mengambil satu diantara dua macam corak,
yaitu yang memusatkan perhatian pada perkembangan gaya seni secara kronologis
dengan analisis rinci atas segi-segi teknik, atau mengkaji perkembangan seni
dengan perhatian yang lebih rinci atas harapan-harapan dan
kewenangan-kewenangan dari golongan-golongan masyarakat yang menghajatkannya.
Cara yang disebut terakhir itu telah diberi label “Sejarah Sosial Kesenian”
(Hauser dalam Sedyawati, 2006:132-133).
Cara
manapun yang akan diambil oleh peneliti, niscaya konsep sentral yang akan
dilihat perkembangannya, terutama adalah sejarah lahirnya kesenian tersebut dan
seputar gaya seni itu sendiri. Konsep-konsep keagamaan para pegiat seni dan
kekuatan sosial-masyarakat yang turut “bermain” dan mempengaruhi perkembangan
suatu kesenian tradisional juga tidak luput dari penelitian ini.
Penulis
sadar bahwa Kajian Sejarah Kesenian khususnya Kajian Sejarah Tari harus
didasari dengan kemampuan dasar dalam metode penelitian sejarah. Dalam hal ini
penulis sebisa mungkin akan melacak sumber data pada himpunan literatur dan
dokumen yang relevan serta yang utama data-data dari lembaga-lembaga atau
sanggar terkait sebagai sumber informasi. Hal ini tampak sesuai dengan apa yang
dinyatakan oleh Sedyawati (2006:302-303) bahwa saksi-saksi sejarah dalam
perkembangan tari dapat pula dijadikan narasumber dan dapat diwawancarai
sepanjang itu relevan dengan pokok bahasan.
Perkembangan Seni Pertunjukan Tari Angguk di Desa Kolam hingga pada hari
ini tidak terlepas dari usaha para pegiat seni ini yang terus berupaya
memelihara dan melestarikan kesenian Tari Angguk.Dalam perjalanannya tentu
banyak ditemui kendala ataupun masalah-masalah yang dihadapi, namun tampaknya
mampu diatasi sehingga kesenian ini bisa terus berkembang hingga sekarang.Salah
satu upaya pelestarian seni pertunjukan tradisional Tari Angguk adalah dengan
banyaknya didirikan paguyuban-paguyuban atau
sanggar seni Tari Angguk.
Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwasannya kesenian tradisional
Tari Angguk dikenal masyarakat Desa Kolam sejak tahun 1959.Pada masa ini
pulalah paguyuban Tari Angguk Sanggar Seni Remaja berdiri didirikan oleh
Kartosari, Painen dan Jaimen bersaudara. Selama melakukan penelitian, kesenian
Tari Angguk yang berkembang di Desa Kolam memang kental sekali menjiplakgaya Tari Angguk khas Kulon
Progo. Satu hal yang paling menonjol dan kentara sekali adalah seputar kostum
dan adanya kondisi ndadi atau keadaan
dimana si Penari kesurupan roh-roh halus sehingga hilang kendali atas dirinya
sendiri.
Sebagai bukti keidentikkan Tari Angguk Desa Kolam dengan Tari Angguk
Kulon Progo, penulis memaparkan hasil penelitian Widayat (Asosiasi Tradisi Lisan, 2008:8)
tentang Kesenian Tari Angguk di Kulon Progo bahwa dalam setiap pementasan ada
beberapa tembang dan tarian yang sering berakhir dengan kondisi penarinya
(salah satu atau beberapa) menjadi ndadi atau kesurupan (intrance),
sehingga dalam menari pun mereka seperti lupa diri atau dianggap
kesetanan. Ndadi, pada dasarnya
memang kesurupan roh lain, sehingga penari yang bersangkutan tidak sadar atau
setengah sadar pada keberadaannya.Ia seakan hanya sebagai wadhag (tempat)
saja, adapun yang menggerakkan tubuhnya adalah roh lain.Adapun pada kurun
1959-1965 format pertunjukan kesenian tradisional tari angguk hanya menggunakan
instrumen music pengiring yang terdiri dari rebana,
genjring, jidur dan beduk.Pada
masa ini belum dikenal penggunaan alat pengeras suara.
C. Perkembangan Seni Pertunjukan Tradisional Tari Angguk Masa Orde Baru
Penulis, dalam meneliti perkembangan kesenian
Tari Angguk di Desa Kolam lebih bertumpu kepada sumber-sumber lisan dan folklore yang hidup di dalam ingatan
kolektif masyarakat Desa Kolam.Metode seperti yang penulis lakukan di atas
kiranya cukup akademis dalam kaitannya meneliti perkembangan atau sejarah
kesenian. Hal ini tampak sesuai dengan apa yang dinyatakan oleh Sedyawati
(2012:302-303) bahwa
lembaga-lembaga yang berurusan dengan kehidupan tari dapat digunakan sebagai
sumber informasi, sepanjang relevan dengan pokok bahasan penelitian. Selain itu
saksi-saksi sejarah dalam perkembangan tari dapat pula dijadikan narasumber dan
dapat diwawancarai.
Dalam kaitannya dengan perkembangan kesenian
tradisional Tari Angguk di Desa Kolam selama masa orde baru saja misalnya,
penulis tidak bisa menemukan literatur ataupun dokumen-dokumen perihal kesenian
ini.Bahkan penulis telah mencoba memeriksa dokumen-dokumen baik yang sifatnya
pribadi ataupun dokumen sanggar-sanggar Tari Angguk yang ada di Desa Kolam,
namun hasilnya nihil.Bahkan tidak ditemukan dokumen berupa secarik foto
sekalipun.Pernah memang di adakan suatu kompetisi antar-kesenian tradisional
yang di selenggarakan di Balai Desa Kolam pada tahun 1977.Namun sejauh
penelusuran penulis tidak berhasil mendapati atau menemukan bukti-bukti ataupun
dokumen perihal kegiatan tersebut.
Masih awamnya penduduk Desa Kolam dalam
menggunakan teknologi semisal kamera atau hal-hal lainnya yang berkaitan dengan
fotografi mungkin menjadi salah satu penyebab tidak tersedianya arsip-arsip
berupa dokumen berbentuk foto.Selain itu, perihal ketiadaan literatur
kemungkinan sekali di sebabkan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat di Desa
Kolam masa itu. Di sisi lain, sebelum masa reformasi, Desa Kolam merupakan
sebuah desa yang begitu terpencil bahkan bisa dikatakan terisolir. Keadaan ini
diperparah dengan stigma Desa Kolam sebagai basis Partai Komunis Indonesia
pasca 1965.
Perkembangan seni pertunjukan tradisional Tari Angguk di Desa Kolam pada
masa orde baru hanya dapat ditelusuri melalui tradisi lisan yang bersumber dari
para pegiat seni ini.Menurut mereka, ada beberapa perkembangan dalam seni
pertunjukan tradisional Tari Angguk di Desa Kolam pada masa orde baru yang
meliputi instrumen pengiring, penari dan tanggapan masyarakat Desa Kolam
sendiri.
Pada masa orde baru, seni pertunjukan
tradisional Tari Angguk di Desa Kolam mengalami perkembangan dalam hal
instrumen musik pengiringnya. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Bapak
Painen (73 tahun) yang merupakan Ketua Sanggar Seni Remaja (27 Desember 2016) jika awalnya hanya dikenal instrumen musik
tradisional semisal rebana, genjring, jidur dan kendang, namun memasuki tahun
1991 telah dikenal instrumen musik baru seperti keyboard (masyarakat Desa Kolam lebih senang menyebutnya dengan
istilah organ)dan alat pengeras suara
atau speaker dan microphone.
Pada perkembangan selanjutnya, masih pada
masa orde baru, telah dikenal pula penggunaan disket rekaman tembang-tembang pengiring Tari Angguk.Perkembangan
ini kiranya sangat membantu para Dalang dikarenakan tidak perlu lagi nembang selama pertunjukan
berlangsung.Dalang biasanya nembang sambil
diiringi organ.
Seni pertunjukan tradisional Tari Angguk di
Desa Kolam seakan lebih menarik lagi dikarenakan adanya penggunaan alat
pengeras suara (speaker).Menurut
Bapak Painen Ketua Sanggar Seni Remaja (Selasa, 27 Desember 2016) penggunaan speaker kian memeriahkan pertunjukan
ini, dikarenakan dengan jangkauan suaranya yang lebih jauh maka memungkinkan
penduduk desa sekitar untuk turut serta ”nonton” pertunjukan ini.
Memasuki tahun 1990-an ada beberapa
perkembangan dalam pementasan seni pertunjukan tradisional Tari Angguk di Desa
Kolam.Salah satu yang paling mencolok adalah dalam hal penarinya.Pada masa ini
di kenal dengan hadirnya penari wanita dalam kesenian Tari Angguk.Hadirnya
penari wanita ini merupakan salah satu usaha para pegiat seni ini agar kesenian
Tari Angguk semakin menarik di hati dan di mata masyarakat Desa Kolam.
Menurut
keterangan Bapak Sugiman, Ketua Sanggar Pacas Wahyu Sekar Manunggal (30 Desember 2016) hadirnya para penari
wanita ini hanya sebagai pengiring para penari pria dan tidak turut in trance atau kesurupan roh-roh lain.
Pemilihan wanita sebagai media atau wadagh
sangat di tentang oleh para pegiat seni ini dikarenakan akan bertentangan
dengan norma-norma kesopanan dan susila yang ada di Desa Kolam. Berdasarkan
hasil wawancara penulis dengan beberapa ketua sanggar Tari Angguk di Desa Kolam
menyatakan bahwa tidak etis kiranya seorang Dalang yang notabene pria untuk
menyadarkan penari wanita yang in trance dengan
cara menyentuh beberapa bagian tubuh yang sifatnya vital.
D. Perkembangan Seni Pertunjukan Tradisional Tari Angguk Masa Reformasi
(Hingga Sekarang)
Memasuki millennium kedua,
kesenian Tari Angguk di Desa Kolam seakan memiliki nafas baru.Hal ini terbukti
dengan berdirinya beberapa sanggar yang eksistensinya bisa kita saksikan hingga
sekarang.Perkembangan Seni Pertunjukan Tradisional Tari Angguk di Desa Kolam
pada masa ini tidak lagi berkutat pada masalah perkembangan instrumen musik
pengiring, teknik tari ataupun dalam hal kostum.Namun lebih penting dari semua
itu, ada suatu kabar yang menggembirakan dimana pada masa ini muncul beberapa
paguyuban atau sanggar kesenian Tari Angguk di Desa Kolam.Pada masa ini juga
mulai dirasakan adanya perhatian dari pemerintah terkait dalam upayanya menjaga
dan melestarikan kesenian tradisional ini.Pada masa ini juga mulai berdiri
beberapa sanggar tari angguk baru seperti Sanggar Kenanga (2000) dan Sanggar
Pacas Wahyu Sekar Manunggal (2004).Sanggar Pacas Wahyu Sekar Manunggal
merupakan sanggar teraktif yang ada di Desa Kolam.
Sejauh penelitian
penulis, Sanggar Pacas Wahyu Sekar Manunggal merupakan sanggar yang paling
aktif mengikuti festival kesenian tradisional yang diadakan oleh Pemerintah.Hal
ini terbukti dengan keikutsertaan mereka dalam acara Festival Seni Tradisional yang diadakan oleh Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Pemerintah Kabupaten Deli Serdang.Bahkan pada Oktober 2016, sanggar
ini menjadi penampil favorit kedua pada Festival yang diselenggarakan oleh
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kabupaten Deli Serdang tersebut.
Namun, ada hal yang
lebih penting dan cukup mengancam eksistensi seni pertunjukan tradisional Tari
Angguk di Desa Kolam selain perihal dana di atas. Dewasa ini, tantangan
perkembangan kesenian Tari Angguk di Desa Kolam bukan lagi berkutat pada
masalah pendanaan, melainkan hal lain yakni masuknya pengaruh kebudayaan modern
di Desa Kolam.Ancaman modernisasi merupakan permasalahan serius terhadap
eksistensi kesenian tradisional. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Nurudin
(Sutrisno, 2010:331) bahwa Seni Tradisional memiliki beberapa kelebihan, yakni:
tumbuh dan berkembang di masyarakat, bisa dinikmati semua lapisan masyarakat,
bersifat menghibur sehingga bisa mempengaruhi sikap masyarakat. Namun dalam
perkembangan masyarakat yang semakin maju dan modern, eksistensinya dapat
terancam.
Setidaknya, begitulah
realita yang ada saat ini di Desa Kolam. Pengaruh modernisasi semisal maraknya
seni pertunjukan modern seperti Keyboard yang
juga sering di pentaskan pada cara hajatan pernikahan, khitanan ataupun
acara-acara besar seperti peringatan kemerdekaan Republik Indonesia cukup
mengancam eksistensi kesenian Tari Angguk itu sendiri sebagai seni pertunjukan
tradisional milik masyarakat Desa Kolam. Salah satu yang menjadi pertimbangan
para penanggap adalah biaya menanggap Grup musik Keyboard jauh lebih murah ketimbang menanggap Tari Angguk.
E. Upaya Pelestarian Oleh Masyarakat
Salah satu upaya pelestarian kesenian Tari
Angguk di Desa Kolam adalah dengan didirikannya beberapa komunitas seni Tari
Angguk oleh masyarakat atau dalam hal ini para pegiat kesenian Tari Angguk.
Komunitas-komunitas seni Tari Angguk ini lebih dikenal dengan istilah sanggar
ataupun paguyuban. Sejauh ini setidaknya ada tiga sanggar atau paguyuban yang
masih eksis di Desa Kolam yakni Sanggar
Seni Remaja, Sanggar Kenanga dan
Sanggar Pacas Wahyu Sekar Manunggal.
Biasanya agenda inti dalam setiap pertemuan
anggota paguyuban seni Tari Angguk di Desa Kolam adalah untuk latihan bersama
serta membahas konsep pertunjukan yang akan ditampilkan.Kegiatan semacam
inimerupakan sebuah kelaziman yang dilakukan oleh para pegiat seni pertunjukan
tradisional Tari Angguk di Desa Kolam.Setidaknya setiap dua kali dalam seminggu
mereka melakukan latihan rutin, yakni setiap rabu malam dan sabtu malam. Hal
diatas sejalan dengan pendapat Paeni (2009:2) yang menyatakan bahwa sudah tentu
seorang atau sekumpulan orang yang akan mempergelarkan seni pertunjukannya,
lebih dahulu perlu mengadakan kegiatan-kegiatan pra-pertunjukan yang pada
dasarnya terbagi kedalam dua tahap, yaitu: perancangan&penciptaan serta latihan.
Seperti yang telah penulis paparkan diatas
bahwa paguyuban seni Tari Angguk di Desa Kolam tidak melulu membahas masalah
kesenian.Namun lebih dari itu, terkadang menyinggung bidang sosial dan
ekonomi.Sebagaimana yang dinyatakan oleh Taryati (1999:4) bahwa paguyuban
memiliki beberapa peranan dalam menciptakan suasanan komunikatif antar anggota
dalam memecahkan permasalahan sosial, ekonomi dan budaya para anggota
paguyuban. Dalam bidang sosial, hal-hal yang menjadi kegiatan para anggota
paguyuban antara lain: gotong-royong dalam musibah kematian, menjenguk sesama
anggota paguyuban yang sakit, gotong-royong dalam acara suka semisal pesta
pernikahan, khitanan ataupun acara pesta ulang tahun.Tidak hanya sebatas
kegiatan diatas, paguyuban ini juga sedikit banyak membantu mengurangi penyakit
masyarakat khususnya bagi kalangan remaja yang terjerumus dalam hal
penyalahgunaan narkoba serta anak yang putus sekolah.
Perkembangan kesenian ini juga membawa dampak
yang cukup positif terhadap keadaan sosial masyarakat Desa Kolam.Selama
melakukan penelitian, Ketua Sanggar Pacas, Bapak Sugiman banyak bercerita
tentang kekhawatirannya melihat kondisi sosial masyarakat di sekitar
lingkungannya, khususnya pada kaum remaja.Beliau menuturkan kesedihannya
melihat banyak kaum remaja sekitar yang putus sekolah dikarenakan minimnya
biaya untuk mengeyam pendidikan.Kesedihan dan keprihatinannya bertambah melihat
kondisi sosial kaum remaja yang terjerumus memakai Narkoba dan obat-obatan
terlarang.
Berangkat dari kekhawatiran, keprihatinan dan
berujung pada kesedihan akan kondisi sosial masyarakatnya, maka Bapak Sugiman
merangkul mereka untuk bergabung dengan sanggar tarinya. Mencoba mengisi waktu
luang mereka agar tidak terjerumus dalam penyalahgunaan obat-obatan terlarang
lagi dan lebih penting dari itu, memberikan mereka bekal keterampilan seni
kepada kaum remaja sekitar lingkungannya agar kelak berguna bagi hidupnya.
Kesenian Tari Angguk di Desa Kolam, selain
memberikan keterampilan seni bagi kaum remaja yang putus sekolah dan terjebak
dalam penggunaan narkoba ternyata juga memberikan manfaat yang lebih penting
daripada hal yang disebutkan di atas.Dengan belajar kesenian Tari Angguk maka
para remaja ini seakan mendapat suntikan atau pencerahan secara spiritual.Bukan
hanya raga saja yang terlatih menari, namun jiwapun ikut terlatih.Setidaknya
kita perlu memberikan penghargaan terhadap usaha para pegiat seni ini dalam
upaya mereka memperbaiki permasalahan sosial dalam masyarakat Desa Kolam.
Dalam bidang ekonomi para anggota paguyuban
biasanya mengadakan acara arisan. Biasanya disetiap acara arisan dikumpulkan
iuran untuk dana perawatan dan peremajaan instrumen-instrumen pendukung
kesenian Tari Angguk. Namun berdasarkan penuturan Ketua Sanggar Pacas dan
Sanggar Seni Remaja, iuran itu sifatnya tidak rutin dan besarannya tidak
ditentukan.Bahkan bisa dikatakan hanya sumbangan sukarela saja.
Adapun yang menjadi iuran wajib untuk sanggar
hanya dilakukan jika mereka mendapat tanggapan
dari masyarakat yang mengadakan pesta atau hajat.Tanggapan adalah istilah yang merujuk kepada undangan si empunya hajatan kepada sanggar Tari
Angguk.Dalam sekali nanggap biasanya
mereka dibayar mulai dari Rp. 600.000 hingga Rp. 1.200.000 tergantung kepada
kesepakatan.Besaran uang di atas belum dipotong dengan biaya transportasi
senilai Rp. 150.000 hingga Rp. 300.000 sesuai dengan jarak tempuh.Lalu sisanya
dibagi rata kepada anggota sanggar yang berjumlah 18-20 orang.Biasanya besaran
bersih yang mereka terima setelah dipotong iuran wajib tidak lebih dari Rp.
40.000 per anggota.
Para
pegiat seni Tari Angguk, baik Ketua sanggar maupun anggotanya merasa cukup puas
dengan besaran rupiah yang relatif kecil yang mereka dapatkan selama
pertunjukan semalam-suntuk.Bagi mereka yang terpenting bukanlah besaran
rupiahnya melainkan kepuasan bathin
karena telah menghibur masyarakat selama pertunjukan kesenian tradisional Tari
Angguk.
F.
Upaya
Pelestarian Oleh Pemerintah
Sejauh wawancara penulis dengan beberapa
ketua Sanggar Tari Angguk di Desa Kolam, peran pemerintah dalam pelestarian
kesenian Tari Angguk di Desa Kolam tidak pernah dirasakan sedemikian nyata
sebelum tahun 2016. Sejak tahun 2016 kesenian ini telah menjadi perhatian
pemerintah daerah dengan dikeluarkannya Peraturan Bupati Deli Serdang No.721
Tahun 2016 tentang Kewenangan Lokal Berskala Desa tentang Pembinaan Kesenian
dan Sosial-Budaya Masyarakat.
Sanggar-sanggar kesenian Tari Angguk di Desa
Kolam bersama dengan sanggar-sanggar kesenian lain semisal kesenian Reog
Ponorogo dan Kuda Kepang yang ada di Desa Kolam dan umumnya di daerah Kabupaten
Deli Serdang sejak tahun 2013 dihimpun dalam satu payung organisasi yang diberi
nama Kriyo Manunggal Budaya (KMB. Kriyo Manunggal Budaya merupakan organisasi
yang dinaungi oleh Dinas Kebudayaan Kabupaten Deli Serdang yang berperan dalam
hal bantuan pendanaan beberapa kesenian tradisional yang ada di Desa Kolam dan
kesenian tradisional di desa lain di Kabupaten Deli Serdang.
Upaya
pelestarian kesenian Tari Angguk di Desa Kolam juga tampak diamini oleh
Pemerintah Desa Kolam. Dalam Buku Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa
Kolam (RPJM Desa Kolam) Tahun 2016-2017, berdasarkan Peraturan Desa No. 2 Tahun
2016 Pasal 6 Tentang Program Pemberdayaan Lembaga Kesenian dan Adat, sanggar
Tari Angguk di Desa Kolam yang berjumlah 3 serta beberapa sanggar kesenian lain
semisal Reog Ponorogo dan Kuda Kepang akan mendapat bantuan baik dana ataupun
keperluan yang di butuhkan oleh sanggar-sanggar kesenian tersebut.
III.
PENUTUP
Perkembangan seni pertunjukan tradisional Tari Angguk di Desa Kolam bisa
kita periodesasikan ke dalam tiga masa yakni masa orde lama, masa orde baru dan
masa reformasi.Pada masa orde lama merupakan tahap awal perkembangan seni
pertunjukan tradisional Tari Angguk di Desa Kolam.Pada masa ini merupakan tahap
perkenalan masyarakat Desa Kolam dengan kesenian Tari Angguk.Pada awal masa
orde baru merupakan masa-masa kritis dikarenakan vakumnya kesenian Tari Angguk
dikarenakan peristiwa Gerakan 1 Oktober 1965.Namun memasuki tahun 1967 kesenian
ini mulai hidup kembali dibuktikan dengan berdirinya Sanggar Tari Angguk Seni
Remaja yang didirikan oleh Bapak Painen dan Bapak Jaimen.Memasuki tahun 1991
kesenian ini berkembang menjadi sedikit modern dikarenakan masuknya instrumen
musik keyboard serta disket dan pengeras suara atau speaker yang berdampak positif terhadap
perkembangan kesenian ini.Namun terjadi kelesuan nanggap menjelang tahun 1998 hingga beberapa tahun setelahnya.
Pada masa reformasi merupakan masa keemasan perkembangan kesenian
ini.Tepat pada tahun 2000 berdiri Sanggar Tari Angguk Kenanga yang didirikan
oleh Bapak Erwin Syahputra.Memasuki tahun 2004 berdiri pula Sanggar Tari Angguk
Pacas Wahyu Sekar Manunggal.Pada masa reformasi ini pula kesenian Tari Angguk
mendapatkan perhatian pemerintah dengan dikeluarkannya Peraturan Bupati Deli
Serdang Nomor.721 Tahun 2013 Tentang Kewenangan Lokal Berskala Desa.Dengan
dikeluarkannya peraturan ini maka kegiatan seni yang ada di Deli Serdang
khususnya kesenian yang berasal dari Jawa dibina oleh Dinas Kebudayaan Deli
Serdang di bawah payung Krido Manunggal Budaya.
Kesenian Tari Angguk di Desa Kolam memiliki beberapa fungsi seni
diantara lain: fungsi religi, fungsi sosial dan fungsi hiburan. Adapun
usaha-usaha yang dilakukan untuk melestarikan seni pertunjukan tradisional Tari
Angguk di Desa Kolam dilakukan oleh Masyarakat maupun Pemerintah.Masyarakat
mendirikan sanggar-sanggar tari atau paguyuban untuk melestarikan kesenian
ini.Sementara upaya yang dilakukan pemerintah adalah membantu dalam urusan
pendanaan. Hal ini dibuktikan dengan adanya bantuan dana bagi sanggar Tari Angguk
di Desa Kolam yang tertuang dalam BukuRencana Pembangunan Jangka Menengah Desa
Kolam (RPJM Desa Kolam) Tahun 2016-2017 berdasarkan Peraturan Desa No. 2 Tahun
2016 Pasal 6 Tentang Program Pemberdayaan Lembaga Kesenian dan Adat.
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda