Sabtu, 08 Juli 2017

MAKALAH TEORI PEMESINAN MESIN GIRENDA






Kegiatan Belajar 1– Mesin Gerinda Datar (Surface Grinding Machine)

1. Tujuan Pembelajaran
Setelah mempelajari materi ini, dengan melalui mengamati, menanya, pengumpulan data, mengasosiasi dan mengkomunikasikan, peserta didik dapat:
a.       Menjelaskan pengertian mesin gerinda datar
b.      Menjelaskan fungsi mesin gerinda datar
c.       Menyebutkan dan menjelaskan macam-macam mesin gerinda datar dan fungsinya
d.      Menyebutkan dan menjelaskan bagian-bagian utama mesin gerinda datar
e.       Menyebutkan dan menjelaskan perlengkapan mesin gerinda datar
f.       Menyebutkan dan menjelaskan peralatan bantu kerja mesin gerinda datar
g.      Menggunakan mesin gerinda datar standar sesuai SOP

2. Uraian Materi
Sebelum mempelajari materi mesin frais standar, lakukan kegiatan sebagai berikut: Pengamatan: Silahkan mengamati mesin gerinda datar yang terdapat pada (Gambar 1.1) atau objek lain sejenis disekitar anda (dilingkungan bengkel mesin produksi). Selanjutnya tugas anda adalah:
a.       Sebutkan bagian-bagian utama mesin gerinda datar berikut fungsinya 10
b.      Sebutkan perlengkapan mesin gerinda datar berikut fungsinya
c.       Jelaskan bagaimana cara mengoperasikan mesin gerinda datar






Mesin gerinda datar adalah salahsatu jenis mesin perkakas yang berfungsi untuk menghaluskan/memfinising permukaan benda kerja pada bidang datar/rata, dengan tingkat hasil kehalusan permukaan dapat mencapai sampai dengan N5. Bidang datar/rata dimaksud meliputi, datar sejajar, datar bertingkat, datar miring, datar alur dan datar profil. Pengikatan benda kerja dilakukan dengan mencekam pada meja magnetik atau menggunakan alat pencekam lainnya, yang bergerak mengikuti gerakkan meja mendatar arah bolak-balik atau berputar.

a. Macam-macam Mesin Gerinda Datar (Surface Grinding Machine)
Untuk dapat menghasilkan produk penggerindaaan sesuai tuntutan perkerjaan, mesin gerinda datar diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu, pertama: berdasarkan posisi sumbu spindel utama dan gerakan meja; dan kedua: berdasarkan pelayanan pengoperasiannya. Mesin Gerinda Datar Berdasarkan Posisi Sumbu Spindel Utama dan Gerakan Meja: Mesin gerinda datar jika dilihat dari posisi sumbu spindel utama dan gerakan mejanya, dapat dibagi menjadi empat yaitu:
 Mesin gerinda datar spindel horizontal dengan gerak meja bolak-balik
 Mesin gerinda datar spindel horizontal dengan gerak meja berputar,
 Mesin gerinda datar spindel vertical dengan gerak meja bolak-balik dan
 Mesin merinda datar spindel vertical dengan gerak meja berputar.

1) Mesin Gerinda Datar Spindel Horizontal Dengan Gerak Meja Bolak-Balik.
Prinsip kerja mesin gerinda datar spindel horizontal dengan gerak meja bolak-balik adalah, akan terjadi proses pemotongan apabila roda gerinda berputar pada posisi horizontal (searah jarum jam) dan bersentuhan/ bersinggunggan dengan benda kerja yang bergerak mendatar bolak-balik.

Jenis mesin gerinda datar spindel horizontal dengan gerak meja bolak-balik terdapat dua jenis yaitu, mesin gerinda datar posisi spindel horizontal dengan gerak meja bolak-balik (kolom mesin satu buah) - (Gambar 1.3) dan mesin gerinda datar posisi spindel horizontal dengan gerak meja bolak-balik (kolom mesin dua buah) - (Gambar 1.4). Jenis mesin gerinda datar yang pertama, spindel mesin hanya dapat bergerak satu arah yaitu naik/turun arah vertikal karena hanya memilki satu kolom mesin sebagai pengarahnya. Untuk jenis mesin gerinda datar yang kedua, spindel mesin dapat bergerak dua arah yaitu naik/turun arah vertikal dan bergerak kesamping kanan/kiri arah horisontal, karena memiliki dua kolom mesin sebagai pengarahnya. Mesin gerinda datar jenis ini, digunakan untuk menggerinda benda kerja berbentuk persegi panjang dengan bidang permukaan rata, betingkat atau menyudut.

2) Mesin Gerinda Datar Spindel Horizontal Dengan Gerak Meja Berputar.
Prinsip kerja mesin gerinda datar spindel horizontal dengan gerak meja berputar adalah, akan terjadi proses pemotongan apabila roda gerinda berputar pada posisi horizontal (searah jarum jam) dan bersentuhan/bersinggunggan dengan benda kerja yang bergerak mendatar mengikuti gerakan meja yang berputar.


a) Mesin Gerinda Datar Spindel Vertical Dengan Gerak Meja Bolak-Balik
Prinsip kerja mesin gerinda datar spindel vertikal dengan gerak meja bolak-balik adalah, akan terjadi proses pemotongan apabila roda gerinda berputar pada posisi vertical (searah jarum jam) dan bersentuhan/bersinggunggan dengan benda kerja yang bergerak mendatar bolak-balik mengikuti gerakan meja (Gambar 1.7).

Mesin Gerinda Datar Berdasarkan Pelayanan Pengoperasiannya: Mesin gerinda datar jika dilihat dari pelayanan pengopersiaannya, dapat dibagi menjadi empat yaitu:
1) Mesin Gerinda Datar Manual
Mesin gerinda datar manual (Gambar 1.13), adalah salah satu jenis mesin gerinda datar yang pelayanan pengoperasiaannya dilakukan secara manual. Pengertiaannya adalah dalam menggerakkan/mengatur meja untuk setting dan pemakanan arah memanjang maupun melintang termasuk mengatur posisi spindel roda gerinda harus dilakukan secara manual, karena mesin gerinda datar jenis ini hanya difasilitasi pengopersiannya melalui system mekanik.
2) Mesin Gerinda Datar Semi Otomatis
Mesin gerinda datar semi otomatis (Gambar 1.14), adalah salah satu jenis mesin gerinda datar yang pelayanan pengoperasiaannya dilakukan secara semi otomatis. Pengertiaannya adalah dalam menggerakkan/mengatur meja arah memanjang dapat dilakukan secara otomatis (tidak termasuk gerakan melintang dan spindel mesin), karena mesin gerinda datar jenis ini sudah difasilitasi pengopersiannya melalui gabungan system mekanik dan hidroulik. Namun demikian apabila menginginkan menggerakkan/mengatur meja arah memanjang secara manual, mesin gerinda datar jenis ini masih tetap dapat digunakan dengan pengoperasian secara manual.
3) Mesin Gerinda Datar Otomatis
Mesin gerinda datar otomatis (Gambar 1.15), adalah adalah salah satu jenis mesin gerinda datar yang pelayanan pengoperasiaannya dapat dilakukan secara otomatis. Pengertiaannya adalah dalam menggerakkan/ mengatur meja arah memanjang maupun melintang termasuk mengatur posisi spindel roda gerinda dapat dilakukan secara otomatis, karena mesin gerinda datar jenis ini sudah difasilitasi pengopersiannya melalui system mekanik dan hidroulik secara lengkap. Namun demikian apabila menginginkan penggunaan secara manual, mesin gerinda datar jenis ini masih tetap dapat digunakan dengan pengoperasian secara manual.
4) Mesin Gerinda Datar Computer Numerical Control (CNC)
Mesin gerinda datar computer numerical control (Gambarr 1.16), adalah salah satu jenis mesin gerinda datar yang pelayanan pengoperasiaannya dapat dilakukan melalui komando atau perintah berupa kode-kode dan angka yang sudah distandarkan. Pengertiaannya adalah dalam menggerakkan/ mengatur meja arah memanjang maupun melintang termasuk mengatur posisi spindel roda gerinda dan besar pemakanan dapat dilakukan secara otomatis melalui pemograman dari komputer, karena mesin gerinda datar jenis ini sudah difasilitasi pengopersiaannya melalui system computerisasi. Mesin gerinda datar jenis ini dapat menghasilkan produk penggerindaan yang kepresisiannya sangat tinggi jika dibandingkan dengan menggunakan jenis mesin gerinda datar lainnya, karena semua pengendalian pengoperasiaannya dapat dikontrol melalui program dari computer.
b. Bagian-bagian Mesin Gerinda Datar (Surface Grinding Machine)
Bagian-bagian mesin gerinda datar yang akan diuraikan dibawah ini adalah hanya yang umum digunakan dilingkungan industri kecil dan menengah serta dilingkungan pendidikan yaitu, mesin gerinda datar spindel horizontal dan mesin gerinda datar spindel vertical dengan pelayanan otomatis . Dengan memahami nama bagian-bagian mesin gerinda datar, tentunya dapat membantu operator dalam mengoperasikan, mengendalikan dan merawat mesin.
1) Mesin gerinda datar spindel horizontal
Bagian-bagian mesin gerinda datar spindel horizontal teradapat beberapa bagian yang dapat dilihat pada  Pada setiap jenis .
Fungsi dari masing-masing bagian mesin gerinda datar spindel horizontal adalah sebagi berikut:
·         Body mesin, berfungsi sebagai dudukan bagian-bagian mesin lainnya
·         Kolom mesin, berfungsi sebagai dudukan spindel dan motor penggerak
·         Spindel mesin, berfungsi sebagai dudukan roda gerinda
·         Roda gerinda, berfungsi sebagai alat potong pada saat melakukan penggerindaan
·         Dudukan meja magnetik, berfungsi sebagai dudukan meja magnetik dan bak pelindung air
·         Meja magnetik, berfungsi untuk mengikat benda kerja yang akan dilakukan penggerindaan
·         Pelindung air pendidngin, berfungsi agar air pendingin tidak menyebar kemana-mana
·         Handel penggerak meja memanjang, berfungsi untuk menggerakan meja arah memanjang secara manual
·         Handel penggerak meja melintang, berfungsi untuk menggerakan meja arah melintang secara manual
·         Tuas penggerak otomatis, berfungsi untuk penggerak meja secara otomatis
·         Handel pengatur pemakanan roda gerinda, berfungsi untuk mengatur pemakanan roda gerinda jika diperlukan besar pemakanan yang teliti
·         System hodruolik terdiri dari bak oli, oli dan pompa oli, berfungsi sebagai sumber penggerak meja secara otomatis
·         System pendingin dan penyedot debu terdiri dari, Pertama: bak air pendingin, air pendingin, pompa air pendingin, berfingsi sebagai sumber tekanan dan sirkulasi air pendingin. Kedua: magnet penyaring air pendingin (coolant magnetic separator), berfungsi sebagai penyaring air pedingin. Ketiga: penyedot debu (exhause fane), berfungsi sebagai penyedot debu.
·         25
·         Panel kelistrikan, berfungsi sebagai tempat tombol-tombol pengendali motor spindel, pompa oli, pompa air dan tombol darurat (emergensi)
·         Panel ON-OFF meja magnetic, berfungsi sebagai pengatur aktif tidaknya meja magnetik dan beasarnya kekuatan pengikatan benda kerja.
·         Panel indikator posisi pemakanan, berfungsi sebagai alat penunjuk posisi penggerindaan berupa angka-angka


2) Mesin Gerinda Datar Spindel Vertikal
Fungsi dari masing-masing bagian mesin gerinda datar spindel vertikal adalah sebagai berikut:
·         Kolom mesin, berfungsi sebagai dudukan naik dan turunnya spindel dan motor penggerak
·         Meja magnetik, berfungsi sebagai pengikat benda kerja
·         Spindel mesin, berfungsi sebagai dudukan roda gerinda
·         System hodruolik terdiri dari bak oli, oli dan pompa oli, berfungsi sebagai sumber penggerak meja secara otomatis
·         System pendingin dan penyedot debu terdiri dari, Pertama: bak air pendingin, air pendingin, pompa air pendingin, berfingsi sebagai sumber tekanan dan sirkulasi air pendingin. Kedua: magnet penyaring air pendingin (coolant magnetic separator), berfungsi sebagai penyaring air pedingin. Ketiga: penyedot debu (exhause fan), berfungsi sebagai penyedot debu
·         Panel kelistrikan, berfungsi sebagai tempat tombol-tombol pengendali motor spindel, pompa oli, pompa air, meja magnetik dan tombol darurat (emergensi).

3) Pengoperasian mesin Gerinda Datar Spindel Horisontal
Langkah-langkah pengopersian mesin gerinda datar spindel horizontal adalah sebagai berikut:
·         Chek kondisi mesin dan yakinkan bahwa mesin siap digunakan
·         Selanjutnya hidupkan sakelar utama sumber kelistrikannya
·         Hidupkan pompa hidrolik dengan mengaktifkan tombol On/Off yang ada dipanel kelistrikan mesin dan tunggu beberapa saat agar tekanan pompa hidrouliknya merata keseluruh system salurannya.

·         Gerakan meja mesin arah memanjang/melintang dan kepala sepindel naik/turun secara manual, agar lebih familier dalam mengopersikannya
·         Hidupkan spindel mesin dengan mengaktifkan tombol On/Off yang ada dipanel kelistrikan mesin
·         Hidupkan motor pompa air pendingin dan penyedot debu dengan mengaktifkan tombol On/Off yang ada dipanel kelistrikan mesin
·         Gerakan meja mesin arah memanjang/melintang dan kepala sepindel naik/turun secara otomatis.
·         Jika sudah merasa benar-benar kompeten dalam mengopersikan mesin gerinda datar spindel horisontal, matikan mesin dan selanjutnya bersihkan bekas air pendingin termasuk semua kotoran yang ada disekitar mesin. Jangan lupa, meja mesin diberi pelumas dengan oli agar tidak mudah berkarat.

c. Perlengkapan Mesin Gerinda datar
Mesin gerinda datar secara umum dilengkapi tiga jenis perlengkapan utama yaitu perlengkapan pencekaman/pengikatan benda kerja, perlengkapan balancing roda gerinda dan perlengkapan penajaman/ pembetukan roda gerinda.

1) Perlengkapan pencekaman/pengikatan benda kerja
Perlengkapan pencekaman/pengikatan benda kerja pada mesin gerinda datar diantaranya:
a) Ragum Rata Presisi (Precision Vice Plate)
Ragum rata presisi (Gambar 1.19), adalah salah satu perlengkapan pencekam benda kerja pada mesin gerinda datar yang digunakan untuk mencekam benda kerja berbentuk balok/persegi panjang dengan hasil penggerindaaan antara satu dengan bidang yang lainnya saling tegak lurus, siku dan sejajar. Ciri-ciri ragum presisi secara fisik adalah, seluruh bagian/bidang luar ragum selain yang ada batang penguncinya dapat dijadikan acaun dasar/bacic penggerindaan, karena pada proses pembuatannya antara bidang 28.
b) Ragum Poros Presisi (Precision Vice For Shaft)
Ragum poros presisi (Gambar 1.20), adalah salah satu perlengkapan pencekam benda kerja pada mesin gerinda datar yang digunakan untuk mencekam benda kerja berbentuk bulat atau poros lurus/batang lurus dengan hasil penggerindaaan permukaan datar dan sejajar. Gambar 1.19. Ragum poros presisi




c) Ragum Sudut Universal Presisi (Precision Universal Angle Vice)
Ragum sudut universal presisi (Gambar 1.20), adalah salah satu alat pencekam benda kerja pada mesin gerinda datar yang digunakan untuk untuk mencekam benda kerja dengan hasil penggerindaan rata atau menyudut (sudutnya dapat diatur dua arah). 29

d) Ragum Sinus Presisi (Preccision Sine Vice)
Ragum sinus presisi (Gambar 1.21a), adalah salah satu alat pencekam benda kerja pada mesin gerinda datar yang digunakan untuk untuk mencekam benda kerja dengan hasil penggerindaan menyudut satu arah dengan alat bantu balok ukur (gauge blocks) – (Gambar 1.21b). Gambar 1.21a. Ragum sinus presisi dan balok ukur Gambar 1.21b. Balok ukur
















CRITICAL JURNAL REPORT proses pembelajaran



BAB I
PENDAHULUAN
I.              RINGKASAN JURNAL
A.    Jurnal Pertama
Judul Jurnal    : PEMBELAJARAN EFEKTIF DAN PRODUKTIF BERBASIS LITERASI: Analisis Konteks, Prinsip, dan Wujud Alternatif Strategi Implementasinya     di Sekolah
Penyusun            : Suyono (Sastra Indonesia Fak. Sastra Universitas Negeri Malang)
RINGKASAN :
Ringkasan yang dapat saya ambil dari jurnal ini adalah  literasi dapat dijadikan sebagai basis pengembangan pembelajaran efektif dan produktif di sekolah. Konteks yang mendasarinya adalah dengan literasi sebagai basis pengembangan pembelajaran efektif dan produktif memungkinkan siswa banyak membaca dan terampil mencari dan mengolah informasi, serta kemampuan  siswa dalam membaca dan menulis juga berkembang. Selain itu, siswa terampil menghubung-hubungkan antarmateri pelajaran, lancar mengembangkan gagasan, memahami dan memecahkan masalah dan pada akhirnya dapat menguasai kompetensi pembelajaran lebih baik. 
Ditemukan delapan prinsip yang mendasari dijadikannya literasi sebagai basis pengembangan pembelajaran efektif dan produktif di sekolah, yakni prinsip membangun akses bahan bacaan yang beragam, mengondisikan munculnya beragam pandangan siswa terhadap setiap materi pelajaran yang sedang dipelajari, membangun persemaian perilaku berliterasi, dan membangun tempat pelayanan bagi siswa untuk menjadi pembaca-penulis yang kritis, kreatif, cepat, dan efektif. Selain itu, juga didasari oleh prinsip mengondisikan percepatan gerakan membaca-menulis lintas kurikulum, mengondisikan kemudahan dan ketuntasan pemecahan kesulitan membacamenulis setiap saat, mengondisikan terwujudnya komunitas belajar yang mendorong perilaku berliterasi, dan membangun terwujudnya interaksi yang intensif antarsiswa dan siswa dengan sumber belajar.  Wujud strategi pembelajaran efektif dan produktif di sekolah yang ditemukan melalui kajian ini adalah membaca-menulis lintas kurikulum dan pemberdayaan komunitas pembelajaran berbasis kegiatan ilmiah. Strategi yang pertama mementingkan pemanfaatan membaca-menulis untuk mendalami substansi mata pelajaran dan strategi yang kedua mementingkan kegiatan ilmiah sebagai basis untuk mengembangkan komunitas pembelajaran di sekolah.     Berdasarkan simpulan di atas disarankan hal-hal berikut. Guru hendaknya terus berusaha keras untuk mewujudkan pembelajaran berbasis literasi sesuai dengan tujuh konteks dan delapan prinsip yang telah dikemukakan di atas agar pembelajaran di sekolah lebih efektif dan produktif. Membaca-menulis lintas kurikulum dan pemberdayaan komunitas belajar berbasis kegiatan ilmiah disarankan untuk dilaksanakan di sekolah. Peneliti lanjutan disarankan untuk mengujicobakan dua strategi pembelajaran efektif dan produktif di sekolah dengan memperhatikan konteks dan prinsip-prinsip yang mendasari dijadikannya literasi sebagai basis pengembangan pembelajaran

B.            Jurnal Kedua
Judul jurnal       : PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP KIMIA DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS    
Penyusun            : Ida Ayu Kade Sastrika, I Wayan Sadia, dan I Wayan Muderawan (Program Studi Pendidikan IPA, Program Pascasarjana, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja-Bali, Indonesia)
RINGKASAN :
Model pembelajaran berbasis proyek mampu memberikan nilai pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis yang lebih baik dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional. Pembelajaran berbasis proyek merupakan metode yang menggunakan belajar kontekstual, dimana para siswa berperan aktif untuk memecahkan masalah, mengambil keputusan, meneliti, mempresentasikan, dan membuat dokumen. Pembelajaran berbasis proyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan kompleks yang diperlukan siswa dalam melakukan investigasi dan memahaminya. Pembelajaran berbasis proyek memiliki kecocokan terhadap konsep inovasi pendidikan, terutama dalam hal sebagai berikut, pebelajar memproleh pengetahuan dasar (basic sciences) yang berguna dalam memecahkan masalah, pebelajar secara aktif dan mandiri dengan sajian materi terintegrasi dan relevan dengan kenyataan sebenarnya, pebelajar mampu berpikir kritis dan mengembangkan inisiatif
Pembelajaran berbasis proyek memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja berkelompok atau secara individual dan memberikan kesempatan untuk mengembangkan ide-ide dan solusisolusi realistik, sehingga pembelajaran berpusat pada siswa bukannya berpusat pada guru. Perubahan peran guru merupakan salah satu kunci dalam proses pembelajaran inovatif, dimana perubahan guru dari sebagai sumber pengetahuan dengan seorang fasilitator pembelajaran. Proses penyelidikan mendorong siswa untuk  mengidentifikasi apa yang mereka sudah tahu, sehingga mereka dapat mengidentifkasi  kebutuhan belajar mereka sendiri.  Sifat eksplorasi dalam proses pembelajaran berbasis proyek penyelidikan memungkinkan siswa  untuk melihat ide-ide dalam cara yang berbeda dan mempromosikan pemikiran kritis tentang masalah yang mereka hadapi. Model pembelajaran berbasis proyek memberikan peluang kepada siswa secara bebas melakukan kegiatan untuk kegiatan percobaan, mengkaji literatur di perpustakaan, melakukan browsing di internet, dan berkolaborasi dengan pendidik. Oleh karena itu sumber belajar menjadi lebih terbuka dan bervariasi, termasuk dalam mengeksplorasi lingkungan. Akibatnya, siswa akan belajar penuh dengan kesungguhan karena termotivasi oleh keinginan untuk menjawab pertanyaan yang telah diajukan
e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha  Program Studi IPA (Volume 3 Tahun 2013) 
sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan bermakna. Pembelajaran berbasis proyek juga dapat membantu siswa dalam mengembangkan banyak kemampuan seperti kemampuan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan moral yang merupakan kemampuan siswa yang perlu dikembangkan. Terutama dalam hal ini kemampuan berpikir kritis siswa akan terlatih jika digunakan model pembelajaran berbasis proyek dalam pembelajaran. Hal ini sejalan dengan penelitian Yesildere & Turnuklu (2006) yang menyimpulkan bahwa pembelajaran berbasis proyek dapat menuntun seseorang untuk berlatih dan memahami berpikir kompleks dan mengetahui bagaimana mengintegrasikannya dalam bentuk keterampilan yang sering dikaitkan dengan kehidupan nyata, mampu memanfaatkan pencarian berbagai sumber, berpikir kritis, dan mempunyai keterampilan pemecahan masalah dengan baik, akan mampu melengkapi proyek mereka. Penugasan-penugasan pada pembelajaran berbasis proyek akan merangsang seluruh indra siswa untuk mengerjakan tugas-tugas ataupun permasalahan-permasalahan yang diberikan oleh pengajar, sehingga siswa akan terbiasa aktif dan kreatif dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Dengan demikian, model pembelajaran berbasis proyek memberikan hasil pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis siswa yang lebih baik daripada model pembelajaran konvensionalBerdasarkan hasil pengujian hipotesis dan hasil pembahasan, dapat ditarik suatu simpulan sebagai berikut. (1) Terdapat perbedaan pemahaman konsep dan keterampilan berpikir kritis  siswa antara siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis proyek dan siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional. (2) Terdapat perbedaan pemahaman konsep antara siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis proyek dan siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional. (3) Terdapat perbedaan keterampilan berpikir kritis antara siswa yang mengikuti pembelajaran berbasis proyek dan siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional

C.      Jurnal Ketiga
Judul Jurnal         : PENGARUH PENDEKATAN MULTIPLE INTELLIGENCES MELALUI MODEL PEMBELAJARAN LANGSUNG TERHADAP SIKAP DAN HASIL BELAJAR KIMIA PESERTA DIDIK DI SMA NEGERI I TELLU LIMPOE
Penyusun              : Safitri1, H. Bancong, H. Husain (Jurusan Pendidikan Kimia, Universitas Negeri Makassar. Prodi Pendidikan Fisika, Pascasarjana, Universitas Negeri Makassar)
RINGKASAN :
Hasil identifikasi kecerdasan peserta didik pada kelas eksperimen menunjukkan terdapat empat kecenderungan kecerdasan yang dimiliki peserta didik, yaitu kecerdasan logis – matematis, verbal – linguistic, intrapersonal dan interpersonal. Kecerdasan yang teridentifikasi akan dihadirkan dalam aktifitas pembelajaran. Artinya, aktifitas pembelajaran disesuaikan dengan kecerdasan peserta didik yang terdapat pada kelas eksperiman. Berbeda halnya dengan kelas kontrol, aktifitas pembelajaran peserta didik tidak disesuaikan dengan kecerdasan mereka. Pada kelas kontrol aktifitas pembelajaran seperti halnya pada model pembelajaran langsung pada umumnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan Multiple Intelligences berpengaruh terhadap sikap peserta didik. Hal ini disebabkan kapeserta didik. Hal ini disebabkan ka. Hal ini disebabkan karena pendekatan pembelajaran yang didasarkan pada teori Multiple Intelligences dapat memberikan suasana yang menyenangkan sehingga peserta didik tidak merasa jenuh dan bosan. Hasil obser tidak merasa jenuh dan bosan. Hasil obserHasil obser observasi aktivitas pembelajaran yang dilakukan observer menunjukkan rata-rata keaktifan siswa sela menunjukkan rata-rata keaktifan siswa selamenunjukkan rata-rata keaktifan siswa selama proses pembelajaran pada kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Pelibatan kecerdasan peserta didik selama proses pembelajaran membuat peserta didik antusias untuk belajar sehingga memudahkan mereka memahami materi yang diajarkan. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sugiharti (2005) yang menyatakan bahwa penerapan teori multiple intelligence dapat meningkatkan aktivitas dan rasa senang para peserta didik terhadap mata pelajaran. Menurutnya, hal ini disebabkan karena diterapkannya cara-cara yang menarik dan sangatmenyenangkan sesuai dengan kecerdasan yang dimiliki peserta didik.Hasil penelitian yang lain dilakukan oleh Sartika (2010) memberikan kesimpulan bahwa pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran yang didasarkan pada keragaman kecerdasan (Multiple Intelligences) dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran sehingga hasil belajarnyamenjadi lebih baik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketika peserta didik menerima materi, keaktietika peserta didik menerima materi, keaktipeserta didik menerima materi, keakti menerima materi, keaktifan peserta didik meningkat yang menunjukkan respon peserta didik yang positif terhadap mata pelajaran Kimia.Pendekatan Multiple Intelligences ini dapat membantu peserta didik merasa lebih percaya diri dan tidak merasa tersisihkan oleh teman-temannya yang dianggap cerdas di kelas. Teori Multiple Intelligences menyatakan bahwa tidak ada peserta didik yang bodoh tapi yang ada adalah peserta didik yang menonjol pada satu atau lebih kecerdasan tertentu. Artinya, dengan mengajar peserta didikyang disesuaikan dengan dominan kecerdasan di kelas, maka peserta didik akan termotivasi untuk belajar, lebih aktif, dan mampu menerima dan mengelolah informasi yang diperoleh. Hal ini terlihat dari keaktifan peserta didik bertanya, mengemukakan pendapat, bekerja sama dengan temannya, dan menyelesaikan soal-soal latihan yang diberikan dengan benar. Sehinggadiperoleh hasil belajar Kimiapeserta didik menjadi lebih baik setelah diajar dengan pendekatan Multiple Intelligences melalui model pembelajaran langsung. Jika dilihat hubungan antara sikap peserta didik dan hasil belajar kimia diperoleh bahwa ter diperoleh bahwa terdiperoleh bahwa terdapat hubungan yang cukup berarti. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sikap peserta didik pada kelas eksperimen positif dan hasil belajarnya juga lebih baik. Hal ini berarti bahwa jika peserta didik memiliki  sikap positif maka maka hasil belajarnya akan lebih baik.

BAB II
KRITIKAN
A.    Kritikan Jurnal Pertama
1.      Bagian pendahuluan yang disajikan dalam jurnal sangat baik, karena menjelaskan secara lengkap mulai dari pengertian belajar efektif dan produktif sampai pada pengertian literasi. Ide-ide yang disajikan cukup sama dan mendukung dengan kenyataan yang ada saat ini.
2.      Metode yang digunakan adalah metode kajian pustaka. Saya kurang tau bagaimana penelitian ini karena baru saya tau, namun berdasarkan pembahasan yang disajikan, metode ini adalah metode yang berdasarkan penelaahan terhadap bahan-bahan pustaka yang berkaitan dengan pembahasan. Namun didalam metode ini tidak disajikan secara langsung apa-apa saja kajian pustaka yang dipakai. Sebaiknya langsung disajikan agar pembaca lebih tau dan lebih memahaminya
3.      Hasil dari penelitian ini cukup bagus karena dibagi dalam 3 bagian, yang mana setiap bagian dijelaskan secara lengkap. Namun kelemahan Jurnal ini adalah tidak menyajikan nama sekolah yang diteliti. Pembahasannya lebih kepada pembahasan umum, seharusnya penelitian ini dilakukan di sebuah sekolah agar menerapannya semakin mendukung data
4.      Kajian pustaka yang dipakai cukup banyak baik itu buku yang berbahasa Inggris, buku yang berbahasa Indonesia dan juga alamat Link yang mendukung pembahasan
5.      Simpulan yang disajikan cukup relevan dengan isi jurnal. Namun saran yang diuat lebih mengacu pada guru. Seharusnya mengacu pada guru dan peserta didik, karena kalau kedua pihak tersebut bekerja sama, maka akan menghasilkan proses belajar yang lebih efektif dan produktif

B.     Kritikan Jurnal Kedua
1.      Pendahuluan yang disajika lebih kepada berpikir kritis dalam bidang kimia. Dikatakan dalam pendahuluan jurnal ini “Dalam proses pembelajaran kimia membutuhkan keterampilan berpikir kritis untuk menganalisis gejala-gejala maupun fenomena-fenomena yang muncul”. Memang betul kalimat tersebut, tetapi harus kita akui dalam kehidupan kita sehari-hari bahwa berpikir kritis juga diperlukan dalam semua aktivitas kita tanpa terkecuali
2.      Metode Penelitian yang dipakai adalah eksperimen. Pemakaian metode ini sangatlah cocok dengan judul jurnal ini karena membahas mengenai berpikir kritis dalam pembelajaran kimia. Karena dalam pembelajaran kimia memerlukan banyak eksperimen agar data yang ada bisa dibuktikan kebenarannya
3.      Hasil yang disajikan cukup lengkap karena terdapat banyak perbedaan berpikir kritis siswa yang belajar dengan menggunakan proyek dan juga belajar secara konvensional. Jika belajar dengan proyek, kemampuan berpikir kritis mereka semakin tampak dan semakin meningkat. Pembahasan yang disajikan dilengkapi dengan data yang mendukung
4.      Kajian pustaka yang dipakai cukup lengkap dan memuat semua informasi yang dibutuhkan untuk melengkapi pembahasan
5.      Simpulan yang disajikan terbilang masih sedikit dan kurang lengkap. Saran yang diajukan cukup baik dan jelas
6.      Namun yang menjadi kelemahan jurnal ini sama seperti jurnal sebelumnya, penelitian yang dilakukan tidak disebuah sekolah karena di jurnal ini tidak ada terlihat dicantumkan nama sekolah yang diteliti

C.    Kritikan Jurnal Ketiga
1.      Jurnal ini cuku bagus karena abstrak yang disajikan dibuat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris agar pembaca yang tidak mengetahui bahasa Inggris dapat membaca abstrak dalam bahasa Indonesianya
2.      Pendahuluan yang disajikan cukup baik karena sesuai dengan kenyataan dan langsung dikaitkan dengan suasana sekolah yang akan diteliti
3.      Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen sama seperti jurnal kedua tadi. Penggunaan metode ini cocok karena jurnal ini juga membahas mengenai sikap terhadap pembelajaran kimia.
4.      Pembahasan yang disajikan sudah cukup lengkap karena disertai dengan hasil uji dan juga menunjukkan grafik persetujuan siswa pada kelas eksperimen dan kelas kontrol
5.      Kajian pustaka yang dipakai ada beberapa, namun semua bukunya sepertinya buku bahasa Inggris. Sebaiknya buku yang berbahasa Indonesia juga dipakai agar menambah pembahasan

BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Berdasarkan ketiga jurnal yang saya baca diatas, semuanya mengarah kepada bagaimana agar pembelajaran itu semakin membaik. Semua cara dilakukan agar proses pembelajaran semakin membaik serta efektif juga produktif agar kesuksesan pembelajaran dicapai. Pada jurnal pertama disajika bagaimana agar belajar efektif dan produktif menggunakan literasi yang memang sangat mendukung proses pembelajaran itu sendiri. Jurnal kedua menyajikan bagaimana pengaruh pembelajaran berbasis proyek terhadap hasil belajar kimia yang hasilnya juga cukup baik, yang artinya pembelajaran berbasis proyek ini sangat mendukung proses berpikir kritis anak didik. Jurnal ketiga menyajikan Pengaruh Pendekatan Multiple Intelligences Melalui Model Pembelajaran Langsung Terhadap Sikap Dan Hasil Belajar Kimia. Dan hasilnya juga cukup baik dan sangat membantu.
Dapat saya simpulkan, bahwa jika suatu proses pembelajaran didukung oleh berbagai hal yang menunjang kegiatan belajar itu sendiri, maka proses pembelajaran itu akan berjalan sukses.


TUGAS MAHASISWA

ABNORMAL PSYCHOLOGY ASSIGNMENT

  Introduction ,serif; font-size: 16pt; line-height: 150%;"> Abnormal psychology deals with the branches of behavioral, emotional,...