Senin, 10 Juli 2017

MAKALAH Administrasi Kurikulum



BAB I
PENDAHULUAN
A.      LATAR BELAKANG
Salah satu aspek yang berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan nasional adalah aspek kurikulum. Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran strategis dalam sistem pendidikan. Kurikulum merupakan suatu sistem program pembelajaran untuk mencapai tujuan institusional pada lembaga pendidikan, sehingga kurikulum memegang peranan penting dalam mewujudkan sekolah yang bermutu atau berkualitas. Adanya beberapa program pembaruan dalam bidang pendidikan nasional merupakan salah satu upaya untuk menyiapkan masyarakat dan bangsa Indonesia yang mampu mengembangkan kehidupan demokratis yang mantap dalam memasuki era globalisasi dan informasi sekarang ini.
Salah satu aspek yang dapat mempengaruhi keberhasilan kurikulum adalah pemberdayaan bidang manajemen atau pengelolaan kurikulum di lembaga pendidikan yang bersangkutan. Pengelolaan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan atau sekolah perlu dikoordinasi oleh pihak pimpinan lembaga dan pembantu pimpinan yang dikembangkan secara integral dalam konteks Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)  dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) serta disesuaikan dengan visi dan misi lembaga pendidikan yang bersangkutan.

B.      RUMUSAN MASALAH
1.       Apa pentingnya Administrasi Kurikulum Dalam Lembaga Pendidikan
2.       Bagaimana Fungsi Administrasi Kurikulum Dalam Pendidikan
3.       Apa  Komponen Kurikulum Dalam Lembaga Pendidikan
4.       Apa itu Kegiatan-kegiatan Administrasi Kurikulum Dalam Lembaga Pendidikan
5.       Bagaimana Pelaksanaan Kurikulum
6.       Apa Landasan Perencanaan Kurikukum
7.       Tugas dan Peran Kepala Sekolah dalam Administrasi Kurikulum  
 
C.     TUJUAN MASALAH
1.       Untuk mengetahui Administrasi Kurikulum Dalam Lembaga Pendidikan
2.       Untuk mengetahui Fungsi Administrasi Kurikulum Dalam Pendidikan
3.       Untuk mengetahui Komponen Kurikulum Dalam Lembaga Pendidikan
4.       Untuk mengetahui Kegiatan Administrasi Kurikulum Dalam Lembaga Pendidikan
5.       Untuk mengetahui Pelaksanaan Kurikulum
6.       Untuk mengetahui Perencanaan Kurikukum
8.       Untuk mengetahui Peran Kepala Sekolah dalam Administrasi Kurikulum   



























BAB II
PENTINGNYA ADMINISTRASI KURIKULUM DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN

A.      Pentingnya Administrasi Kurikulum Dalam Lembaga Pendidikan
Administrasi kurikulum dalam lembaga pendidikan merupakan seluruh proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja dan bersungguh-sungguh serta pembinaan secara continue terhadap situasi belajar mengajar secara efektif dan efisien demi membantu tercapainya tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Pada tingkat sekolah apapun, yang menjadi tugas utama kepala sekolah ialah menjamin adanya program pengajaran yang baik bagi murid-murid. Karena pada dasarnya pengelolaan atau manajemen pendidikan fokus segala usahanya adalah terletak pada Praktek Belajar mengajar (PBM). Hal ini nampak jelas bahwa pada hakikatnya segala upaya dan kegiatan yang di laksanakan didalam sekolah atau lembaga pendidikan senantiasa diarahkan pada suksesnya PBM.
Administrasi dalam pendidikan yang tertib dan teratur, sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan pendidikan bagi Kepala Sekolah dan Guru. Peningkatan kemampuan tersebut akan berakibat positif, yaitu makin meningkatnya efisiensi, mutu dan perluasan pada kinerja di dunia pendidikan tersebut. Untuk memperlancar kegiatan di atas agar lebih efektif dan efisien perlu informasi yang memadai. Sistem informasi di dunia pendidikan ini menyangkut dua hal pokok yaitu kegiatan pencatatan data(recording system) dan pelaporan (reporting system).
Administrasi suatu lembaga pendidikan merupakan suatu sumber utama manajemen dalam mengatur proses belajar mengajar dengan tertib sehingga tercapainya suatu tujuan terpenting pada lembaga pendidikan tersebut. Yang sangat diperlukan oleh para pelaku pendidikan untuk melakukan tugas dan profesinya. Kepala Sekolah dan guru disekolah sangat memerlukan data-data tentang siswa, kurikulum, sarana dan sebagainya untuk pengelolaan sekolah sehari-hari. Pengawas pendidikan di semua tingkat  memerlukan data-data tersebut sebagai bahan sarana supervisi. Untuk tingkat yang lebih tinggi misalnya Dinas Pendidikan mulai tingkat kecamatan sampai propinsi memerlukan data  untuk pelaporan yang lebih tinggi, untuk melakukan pembinaan, serta untuk menyusun rencana atau program pendidikan pada masa mendatang. Di tingkat pusat (nasional) data pendidikan diperlukan untuk perencanaan yang lebih makro, melakukan pembinaan, pengawasan, penilaian (evaluasi), dan keperluan administrasi lainnya.
Data pendidikan yang terdapat disekolah sangat banyak macam dan jenisnya. Ada yang bersifat relatif tetap dan ada yang selalu berubah. Untuk mendapatkan gambaran perubahan data dari waktu ke waktu, perlu dilakukan pencatatan yang teratur dan berkelanjutan dengan menggunakan sistem yang baku dalam satu sistem. Agar pencatatan data lebih akurat dan benar sesuai yang diharapkan tenaga administrasi yang terampil dan mengetahui apa yang menjadi tugasnya.
Di lembaga pendidikan tingkat menengah hampir sebagian besar belum ada tenaga administrasi sesuai yang diharapkan. Kepala Sekolah sebagai administrator di lingkungan sekolah yang dipimpinnya, dalam melaksanakan tugas administrasi dibantu oleh guru dengan cara membagi tugas administrasi mereka. Agar dalam melaksanakan tugas administrasi dan pelaporan, cepat dan benar diperlukan pedoman administrasi di tingkat sekolah.
            Maka dari itu, semua pemaparan di atas menjadi motivasi untuk saya dalam menekuni kuliah di jurusan Administrasi Pendidikan, guna meraih cita-cita saya yaitu ingin meningkatkan sistem pendidikan di negara kita kearah yang lebih baik lagi dan tentunya guna mencapai tujuan Pendidikan Nasional Indonesia.

B.      Unsur-Unsur Pokok Administrasi Dalam Dunia Pendidikan
unsur–unsur pokok dalam administrasi seperti telah di   kemukakan terdahulu, jelas bahwa bidang–bidang  yang tercakup di dalam proses kegiatan  lembaga administrasi pendidikan itu luas.
Secara terperinci bidang garapan administrasi pendidikan adalah sebagai berikut :
1.       Administrasi tata laksana sekolah, meliputi :
a)       Organisasi dan struktur pegawai tata usaha
b)       Organisasi dan anggaran belanja keuangan sekolah, Masalah kepegawaian, Masalah perlengkapan dan perbekalan, Keuangan dan pembukuan,
c)       Korespondensi / surat–menyurat
d)       Laporan–laporan (bulanan, kuartalan, dan tahunan), Masalah pemangkatan, pemindahan, penempatan, dan pemberhentian pegawai
e)       Pengisian buku pokok, klapper, raport, dan sebagainya.
2.      Administrasi Murid, meliputi:
a)       Organisasi dan perkumpulan murid
b)         Masalah kesehatan dan kesejahteraan murid
c)       Penilaian dan pengukuran kemajuan murid
d)         Bimbingan dan penyuluhan bagi murid
3.      Supervisi pengajaran, meliputi:
a)       Usaha membangkitkan semangat guru dan pegawai
b)        Usaha mengembangkan, mencari dan menggunakan metode pengajaran yang baru
c)        Usaha mengembangakan kerja sama antara guru, murid,dan pegawai
d)       Mengusahakan cara-cara menilai hasil pendidikan
e)        Usaha mempertinggi mutu dan pengalaman guru-guru
f)         Pelaksanaan dan Pembinaan Kurikulum, meliputi:
·         Mempedomani dan merealisasikan apa yang tercantum dalam kurikulum sekolahyang bersangkutan.
·         Menyusun dan melaksanakan organisasi kurikulum.
·          Kurikulum bukanlah sesuatu yang harus di ikuti begitu saja tanpa perubahan.
g)       Pendidikan dan perencanaan bangunan sekolah, meliputi:
·         Cara memilih letak dan menentukan luas tanah yang di butuhkan.
·         Mengusahakan, merencanakan dan menggunakan biaya pendirian sekolah.
·         Menentukan jumlah ruang dan luasnya.
·         Cara-cara penggunaan gedung dan fasilitas sekolah.
·         Alat-alat perlengkapan
·         Kondisi masyarakat sekitar sekolah


Administrasi dalam pendidikan yang tertib dan teratur, sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan pendidikan bagi Kepala Sekolah dan Guru. Peningkatan kemampuan tersebut akan berakibat positif, yaitu makin meningkatnya efisiensi, mutu dan perluasan pada kinerja di dunia pendidikan tersebut. Untuk memperlancar kegiatan di atas agar lebih efektif dan efisien perlu informasi yang memadai. Sistem informasi di dunia pendidikan ini menyangkut dua hal pokok yaitu kegiatan pencatatan data(recording system) dan pelaporan (reporting system).

Administrasi suatu lembaga pendidikan merupakan suatu sumber utama manajemen dalam mengatur proses belajar mengajar dengan tertib sehingga tercapainya suatu tujuan terpenting pada lembaga pendidikan tersebut. Yang sangat diperlukan oleh para pelaku pendidikan untuk melakukan tugas dan profesinya. Kepala Sekolah dan guru disekolah sangat memerlukan data-data tentang siswa, kurikulum, sarana dan sebagainya untuk pengelolaan sekolah sehari-hari. Pengawas pendidikan di semua tingkat  memerlukan data-data tersebut sebagai bahan sarana supervisi. Untuk tingkat yang lebih tinggi misalnya Dinas Penididikan mulai tingkat kecamatan sampai propinsi memerlukan data  untuk pelaporan yang lebih tinggi, untuk melakukan pembinaan, serta untuk menyusun rencana atau program pendidikan pada masa mendatang. Di tingkat pusat (nasional) data pendidikan diperlukan untuk perencanaan yang lebih makro, melakukan pembinaan, pengawasan, penilaian (evaluasi), dan keperluan administrasi lainnya.
Data pendidikan yang terdapat disekolah sangat banyak macam dan jenisnya. Ada yang bersifat relatif tetap dan ada yang selalu berubah. Untuk mendapatkan gambaran perubahan data dari waktu ke waktu, perlu dilakukan pencatatan yang teratur dan berkelanjutan dengan menggunakan sistem yang baku dalam satu sistem. Agar pencatatan data lebih akurat dan benar sesuai yang diharapkan tenaga administrasi yang terampil dan mengetahui apa yang menjadi tugasnya.
Di lembaga pendidikan tingkat menengah hampir sebagian besar belum ada tenaga administrasi sesuai yang diharapkan. Kepala Sekolah sebagai administrator di lingkungan sekolah yang dipimpinnya, dalam melaksanakan tugas administrasi dibantu oleh guru dengan cara membagi tugas administrasi mereka. Agar dalam melaksanakan tugas administrasi dan pelaporan, cepat dan benar diperlukan pedoman administrasi di tingkat sekolah.

D.     Fungsi Administrasi Kurikulum Dalam Pendidikan
Dalam proses pendidikan perlu dilaksanakan administrasi kurikulum agar  perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum berjalan lebih efektif, efisien, dan optimal dalam memberdayakan berbagai sumber belajar, pengalaman belajar, maupun komponen kurikulum. Ada beberapa fungsi dari administrasi kurikulum di antaranya sebagai berikut:
1. Meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum, pemberdayaan sumber maupun komponen kurikulum dapat ditingkatkan melalui pengelolaan yang terencana dan efektif.
2. Meningkatkan keadilan (equity) dan kesempatan pada siswa untuk mencapai hasil yang maksimal, kemampuan yang maksimal dapat dicapai peserta didik tidak hanya melalui kegiatan intrakurikuler, tetapi juga perlu melalui kegiatan ekstrakurikuler yang di kelola secara integritas dalam mencapai tujuan kurikulum.
3. Meningkatkan relevansi dan efektivitas pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar peserta didik, kurikulum yang dikelola secara efektif dapat memberikan kesempatan dan hasil yang relevan dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan sekitar.
4. Meningkatkan efektivitas kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, pengelolaan kurikulum yang profesional, efektif, dan terpadu dapat memberikan motivasi pada kinerja guru maupun aktivitas siswa dalam belajar.
5. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses belajar mengajar, proses pembelajaran selalu dipantau dalam rangka melihat konsistensi antara desain yang telah direncanakan  dengan pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian, ketidaksesuaian antara desain dengan implementasi dapat dihindarkan. Di samping itu, guru maupun siswa selalu termotivasi untuk melaksanakan pembalajaran yang efektifdan efisien karena adanya dukungan kondisi positif yang diciptakan dalam kegiatan pengelolaan kurikulum.
6. Meningkatkan partisipasi masyarakat untuk membantu mengembangkan kurikulum, kurikulum yang di kelola secara professional akan melibatkan masyarakat, khususnya dalam mengisi bahan ajar atau sumber belajar perlu di sesuaikan dengan cirri khas dan kebutuhan pembangunan daerah setempat.

E.      Komponen Kurikulum Dalam Lembaga Pendidikan
Mengingat bahwa fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan, maka hal ini berarti bahwa sebagai alat pendidikan, kurikulum memiliki bagian-bagian penting dan penunjang yang dapat mendukung operasinya dengan baik. Bagian-bagian ini disebut komponen yang saling berkaitan , berinteraksi dalam upaya mencapai tujuan.
Menurut Hasan Langgulung ada 4 komponen utama kurikulum yaiti:
1.       Tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pendidikan itu. Dengan lebih tegas lagi orang yang bagaimana yang ingin kita bentuk dengan kurikulum tersebut.
2.       Pengetahuan (knowledge), informasi-informasi, data-data, aktifitas-aktifitas dan pengalaman-pengalaman dari mana terbentuk kurikulum itu. Bagian inilah yang disebut mata pelajaran.
3.       Metode dan cara-cara mengajar yang di pakai oleh guru-guru untuk mengajar dan memotivasi murid untuk membawa mereka kea rah yang dikahendaki oleh kurikulum.
4.       Metode dan cara penilaian yang dipergunakan dalam mengukur dan menilai kurikulum dan hasil proses pendidikan yang direncanakan kurikulum tersebut.

F.      Kegiatan-kegiatan Administrasi Kurikulum Dalam Lembaga Pendidikan
Kegiatan administrasi dititikberatkan pada usaha-usaha pembinaan situasi belajar mengajar di sekolah agar selalu terjamin kelancarannya. Kegiatan administrasi kurikulum yang terpenting disini dapat disebutkan dua hal yaitu sebagai berikut :
a.       Kegiatan yang amat erat kaitannya dengan tugas guru
b.        Kegiatan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar

1.       Kegiatan yang berhubungan dengan tugas guru
Kegiatan yang berhubungan dengan tugas guru ini yaitu meliputi :
a.       Pembagian tugas pengajar dan tugas piket.
b.       Pengaturan bimbingan guru terhadap siswa.
c.       Penyusunan satuan pelajaran.
d.       Penyusunan program kegiatan mgbs (majelis guru bidang studi) dan pelaksanaannya dalam rangka peningkatan kemampuan tugas profesionalnya.
e.       Pembagian tugas/tanggung jawab dalam membina ekstrakulikuler.
f.        Koordinasi penyusunan persiapan mengajar.
2.        Kegiatan yang berhubungan dengan proses pelaksanaan belajar-mengajar
Kegiatan yang berhubungan dengan proses pelaksanaan belajar-mengajar ini yaitu meliputi  :
a)       Penyusunan jadwal pelajaran.
b)       Penyusunan program (rencana) berdasar satuan waktu tertentu (catur wulan, semesteran, tahunan).
c)       Pengisian daftar kemajuan murid.
d)       Penyelenggaraan evaluasi hasil belajar.
e)       Laporan hasil evaluasi.
f)        Kegiatan bimbingan penyuluhan.

3.     Kegiatan yang menyangkut Siswa
a)       Menentukn jumlah dan syarat siswayang akan diterima.
b)       Perencanaan untuk pengarahan dan pelayanan siswa dalam menyelesaikan suatu program.
c)       Merencanakan yang melaksanakan peraturan kenaikan kelaslas bagi .
d)       Menentukan kelas bagi siswa yang diterima dan naik kelas.
e)        Pencatatan segala sesuatu mengenai kegiatan siswa dan hasilnya disekolah.

G.     Pelaksanaan Kurikulum
Sebagai salah satu batasan pengertian yang di maksud dengan pelaksanaan kurikulum adalah pelaksanaan mengajar mengajar di kelas merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah. Dalam pelaksanaan mengajar di kelas, guru menyempatkan perhatian hanya pada interaksi proses belajar mengajar. Namun demikian, fisik, ruangan dan aktivitas kelas tidak luput dari perhatiannya, justru sudah di mulai semenjak memasuki ruangan belajar. Oleh karena itu, selama guru berada dalam kelas terbagi menjadi tiga tahap yaitu, tahap persiapan, pelaksanaan pelajaran, dan tahap penutupan.
1.       Persiapan
Yang dimaksud dengan tahap persiapan adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru sebelum memulai mengajar, yang di kerjakan antara lain.
a)       Mengucapkan “Selamat pagi” dan meletakkan alat-alat mengajar di meja
b)       Memperhatikan kondisi di sekeliling kelas apakah ada kondisi yang mengganggu prose belajar-mengajar, misalnya jendela belum di buka, papan tulis yang belum di bersihkan, terdapat gambar miring, kapur tulis berantakan dan lain sebagainya.
c)       Melakukan absensi
d)       Memeriksa apakah siswa sudah siap dengan catatan dan sudah tidak ada lagi barang-barang atau buku lain yang di pegang siswa.
                         
2.       Pelaksanaan Pelajaran
Yang di maksud dengan pelaksanaan pelajaran adalah kegiatan mengajar sesungguhnya yang dilakukan oleh guru dan sudah ada interaksi langsung dengan siswa mengenai pokok bahasan yang diajarkan. Pelaksanaan pelajaran terbagi menjadi tiga tahapan kegiatan yaitu :
1)       Pendahuluan yaitu mulai mengajar dengan mengarahkan perhatian untuk masuk ke pokok bahasan, misalnya dengan memberikan apersepsi atau mengajukan pertanyaan yang harus dijawab siswa atau menyuruh siswa untuk bercerita tentang bahan yang akan di terangkan dan lain sebagainya.
2)       Pelajaran inti adalah interaksi belajar mengajar yang terjadi di mana selama guru dan siswa membahas pokok bahasan yang menjadi acara pada jam itu.
3)       Evaluasi yaitu kegiatan yang dilakukan oleh guru setelah selesai pembahasan pelajaran inti. Penutupan ini dapat dilakukan dengan: membuat ringkasan, mengajukan pertanyaan, memberikan evaluasi formatif, memberikan tugas rumah dan sebagainya.

3.       Penutupan
Yang di maksud dengan penutupan adalah kegiatan yang terjadi di kelas setelah guru selesai melaksanakan tugas mengajarkan materi yang manjadi tanggung jawabnya untuk pertemuan itu.Penutupan pelajaran dilakukan dengan menghapus papan tulis, pesan dan kesan, ucapan “selamat pulang” dan lain sebagainya. Kegiatan manajemen kurikulum yang dilaksanakan oleh guru pada waktu pelaksanaan pelajaran ada dua, yaitu mengisi buku kelas atau buku kemajuan kelas dan mencatat kesulitan siswa yang disebut buku bimbingan belajar.
1.       Pengisian Buku Kemajuan Siswa
Buku kemajuan siswa atau sering juga disebut buku kelas adalah buku yang digunakan untuk mencatat kemajuan pelaksanaan pelajaran. Buku ini bisa diletakkan dimeja guru dan diisi oleh guru atau siapa yang di tunjuk tentang hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pelajaran.

2.       Pengisian Buku Bimbingan Belajar
Buku bimbingan belajar ini diisi oleh guru pada waktu sedang mengajar, yang di catat adalah hal-hal mengenai kesulitan perseorangan atau kelompok maupun klasikal serta pemecahan yang telah dicobakan. Catatan ini penting sekali untuk memperbaiki cara mengajar untuk masa yang akan datang apalagi untuk kasus yang serupa.
Sebagus apupun desain atau rancangan kurikulum yang dimiliki keberhasilannya sangat tergantung pada guru. Kurikulum yang sederhanapun apabila gurunya memiliki kemampuan, semangat dan dedikasi yang tinggi  hasilnya akan lebih baik dari desain kurikulum yang hebat tetapi kemampuan, semangat dan dedikasi gurunya rendah. Sukmadinata (2007:219) menegaskan beberapa hal yang harus dimiliki oleh setiap guru  dalam pelaksanaan kurikulum antara lain, yaitu :
a)       Pemahaman esensi dari tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam kurikulum.
b)       Kemampuan untuk menjabarkan tujuan-tujuan kurikulum tersebut menjadi tujuan-tujuan yang lebih spesifik.
c)       Kemampuan untuk menterjemahkan tujuan-tujuan khusus kepada kegiatan pembelajaran
                   Di samping itu, menurut Asnawir (2004:224) seorang guru juga harus memiliki sepuluh kompetensi dalam mengajar, yaitu :
·         Menguasai bahan
·         Mengelola program belajar-mengajar
·         Mengelola kelas
·         Menggunakan media atau sumber belajar.
·         Menguasai landasan pendidikan
·         Mengelole interaksi belajar-mengajar.
·         Menilai prestasi belajar mengajar
·         Mengenal fungsi dan layanan bimbingan dan konseling.
·         Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah.
·         Memahami dan menafsirkan hasil penelitian guna keperluan pengajaran.

                   Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kurikulum ini yaitu:
o   Bagian yang berkenaan tujuan yang ingin dicapai.
o   Bagian yang berisi pengetahuan informasi data aktivitas-aktivitas dan pengalaman-pengalaman yang merupakan bahan bagi penyusunan kurikulum yang isinyamata pelajaran yang kemudian dimasukkan kedalam silabus.
o   Bagian yang berisi metode atau cara menyampaikan mata pelajaran tersebut.
o   Bagian yang berisi metode atau cara melakukan penilaian dan pengukuran dan hasil mata pelajaran tertentu.

H.     Landasan Perencanaan Kurikukum Dalam Lembaga Pendidikan
                   Perencanaan kurikulum pendidikan harus mengasimilasi dan mengorganisasi informasi dan data secara intensif yang berhubungan dengan pengembangan program lembaga atau sekolah. Informasi dan data yang menjadi area utama adalah sebagai berikut :
1.       Kekuatan Sosial
Perubahan sistem pendidikan di Indonesia sangatlah dinamis. Pendidikan kita menggunakan sistem terbuka sehingga harus selalu menyesuaikan dengan perubahan dan dinamika social yang terjadi di masyarakat, baik itu sistem politik, ekonomi, social, dan kebudayaan. Proses pendidikan merupakan sebuah perjalanan sejarah di dalam suatu Negara yang selalu menerapkan mekanisme adaptasi  untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Kekuatan yang lain pada satuan pendidikan dan perencanaan kurikulum adalah perubahan nilai struktur dari masyarakat itu sendiri.
2.       Perlakuan Pengetahuan
Perencana dan pengembangan kurikulum, umumnya bereaksi terhadap keberadaan data dan informasi yang berhubungan dengan pembelajaran. Di sekolah tradisional biasanya struktur informasi lebih dari informasi itu sendiri. Pertimbangan lainnya untuk perencana kurikulum yang berhubungan dengan perlakuan pengetahuan adalah di mana individu belajar aktif untuk mengumpulkan dan mengolah informasi, mencari fakta dan data, berusaha belajar tentang sikap, emosi, perasaan terhadap pembelajaran, proses informasi, memanipulasi, menyimpan, dan mengambil kembali informasi tersebut untuk di kembangkan dan digunakan dalam kegiatan merancang kurikulum yang di sesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.
3.       Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia
Landasan ketiga dalam perencanaan kurikulum adalah informasi yang berhubungan dengan perkembangan manusia. Data-data ini penting seperti kegiatan sekolah yang selalu menyediakan untuk pengembangan program sekolah baru, lebih awal anak belajar  pendidikan khusus, pendidikan alternative, dan pendidikan akselerasi. Umumnya penting untuk dipahami tentang pola-pola dari pertumbuhan dan perkembangan karena para guru di tuntut untuk merencanakan kurikulum atau program pembelajaran yang berkenaan dengan kebutuhan dan perkembangan siswa. Kontribusi untuk memahami perkembangan manusia telah menyeluruh di dunia ini sebagai informasi tentang perkembangan manusia yang diakumulasikan ke sekolah. Pemikiran ini timbul sebagai usaha untuk mengorganisasi informasi dan data. Interpretasi tentang pengetahuan perkembangan dasar manusia untuk membedakan  dalam teori pembelajaran yang di kemukakan oleh perencana kurikulum.

I.        Tugas dan Peran Kepala Sekolah dalam Administrasi Kurikulum   
Tugas dan peran kepala sekolah yang berkenaan dengan administrasi kurikulum di antaranya sebagai berikut:
1)    Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaaN.
2)    Mengembangkan organisasi sekolah/madrasah sesuai dengan kebutuhan.
3)    Memimpin sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan sumber daya sekolah/ madrasah secara optimal.
4)    Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif.
5)    Menciptakan budaya dan iklim sekolah/madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik.
6)    Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal.
7)    Mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah dalam rangka pendayagunaan secara optimal.
8)    Mengelola hubungan sekolah/madrasah dan masyarakat dalam rangka pendirian dukungan ide, sumber belajar, dan pembinaan sekolah/madrasah.
9)    Mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru serta penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik.
10) Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional.
11) Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien.
12) Mengelola ketatausahaan sekolah/madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/madrasah.
13) Mengelola unit layanan khusus sekolah/madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah.
14) Mengelola sistem informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan.
15) Memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi kepentingan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah.
16) Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjut.

J.       Operasional Administrasi Kurikulum
Secara operasional kegiatan Administrasi/manajemen kurikulum itu dapat meluiputi 4 kegiatan pokok, yaitu kegiatan yang berhubungan dengan tugas guru, peserta didik, dan seluruh civitas akademika atau warga sekolah/lembaga pendidikan.
1.       Kegiatan Yang Berhubungan Dengan Tugas Guru/Pengajar
a)       Pembagian tugas guru yang dijabarkan dari struktur program pengajarannya dann ketentuan tentang beban mengajar bwaajib bagi guru. Sebagai guru yang berstatu PNS umumnya wajib bertugas:
·         Hari senin sampai kamis,
Mulai jam 07.00 sampai 14.00 = 4 x 7 jam = 28 jam
·         Khusus hari jum’at,
Mulai jam 07.00 sampai 11.00 = 1 x 4 jam = 4 jam
·         Kusus pada hari sabtu,
Mulai juam 07.00 sampai 12.30 = 1 x5,5 jam = 5,5 jam +
Jumlah                          37,5 jam
Berdasarkan beban tugas maksimum seorang guru yang 24 jam pelajaran per minggu itu dapatlah digunakan untuk menghitung kebutuhan jumlah guru untuk m,asing-masingbidang studi/mata pelajaran dan jumlah seluruh guru yang dibutuhkan, misalnya :
Berdasarkan struktur program [engajaran SMP dimana pendidikan agama 2 jam pelajaran per minggu di kelas I, II, III, maka dengn enam kelas paralelnya dibutuhkan guru agama 2 x 6 x 3 = 1 stengah (dibulatkan) menjadi perlu dua orang guru agama.

b)       Tugas guru dalam mengikuti jadwal pelajaran
                   Ada 3 jenis jadwal pelajaran untuk guru yaitu :
1.       Jadwal pelajaran kurikuler, kokurikuler, dan ekstra kulikuler
·         Jadwal pelajran kurikuler disusun secara edukatif oleh guru/tim guru dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan akademik
·         Jadwal pelajaran kokurikuler disusun secara strategic sesuai situasi dan kondisi individual/kelompok peserta didik/siswa sehingga seperti tugas-tugas PR benar-benar dapat meningkatkan pemahaman, keterampilan, serta mencerna materi pelajaran secara efektif dan efisien.
·         Jadwal pelajaran ekstra kulikuler disusun di luar jam pelajaran kurikuler dan program kokulikuler, biasanya bersifat pengembangan ekspresi, hobi, bakat, minat, serta prestasi seperti seni tari, seni music, cinta alam, palang merah remaja, dokter kecil, koperasi, pramuka, serta penunjangPMB lainnya.
2.       Jadwal pelajaran yang tatap muka
·         Jadwal pelajaran tatap muka dalam kelas yang dibatasi empat dinding atau kelas yang berupa lapangan olahraga, pasar, lalu lintas, dan sebagainya.
·         Bagaimana cara mengajarkannya, yaitu gaya yang ditampilkan oleh guru untuk menyampaikan konten pembelajaran kepada peserta didik. Seorang guru harus mengadministrasikan gaya yang diperlihatkan sehingga pesan atau konten pembelajaran dapat ditransfer dengan sempurna
·         Bagaimana menilai bahwa tujuannya telah tercapai, sebuah aktivitas penilaian yang dilakukan oleh guru untuk melihat secara umum tingkat pemahama peserta didik tentang materi yang telah disampaikan.
3.       Menevaluasi hasil pengajaran/belajar
Evaluasi adalah sarana untuk menentukan pencapaian tujuan pendidikan dan proses pengembangan ilmu sesuai dengan yang diharapkan. Tampaklah bahwa ada hubungan timbal balik antara evaluasi, tujuan pendidikan dan PBM  yang satu sama lain merupakaan mata rantai dalam sebuah aktivitas yang tiada terputuskan dan dipisahkan antara yang satu sengan yang lainnya. Kegiatan evaluasi hasil belajar merupakan kegiatan pengukuran terhadap tingkat keberhasilan pengelolaan kegiatan mengajar. Dengan demikian maksud pelaksanaan evaluasi hasil belajar dengan menggunkan bahan dan cara tertentu agar memperoleh hasil yang seobjektif mungkin.
Dalam evaluasi kegiatan belajar mengajar dapat dibedakan atas 3 macam, yaitu :
·         Evaluasi formatif
·         Evaluasi formatif bagi pengajaran
·         Evaluasi sumatif
2.       Kegiatan Yang Berhubungan Dengan Tugas Eserta Didik/Siswa
            Kegiatan-kegiatan peserta didik demi suksesnya PBM tertera dalam jadwal kegiatan belajar yang telah disusun oleh pihak sekolah yang berkolaborasi dengan seluruh wargaa sekolah secara pedagogis beserta jadwal tes/ulaangan/ujian, olahraga, kegiatan ekstrakulikuler dan jadwal kegiatan belajar yang diatur sendiri oleh siswa dalam strategi mensukseskan hasil studinya. Seorang pelajar/mahasiswa yang studi aktif dan kreatif biasanya menyusun jadwal untuk waktu-waktu belajar, rekreasi/rileks, tugas, sosial, membaca Koran dan sebagainya.
            Dalam pelaksanaan kegiatan PBM, seluruh kegiatan-kegiatan dirancang sedemikian rupa agar lebih kelihatan menyenangkandan harus disesuaikan dengan kondisi fisik dan psikis peserta didik. Sebagai sebuah contoh adalah untuk mata pelajaran oahraga, maka sangat naïf apabila dilaksanakan pada siang hari, sebaiknya pelajaran ini diberikan pada paagi hari dengan berbagai mcam pertimbangan tingkat kekuatan ntubuh siswa yang berbeda-beda. Seluruh rangkaian kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakn dilihat manfaat daan mudoratnya masing-masing.

3.       Kegiatan Yang Berhubungan Dengan Seluruh Civitas
Kegiatan ini merupakan pedoman sinkronasi segala kegiatan sekolah, yng kulikuler, ekstra kulikuler, akademik/nonakademik, hari-hari kerja, libur, karya wisata, hari-hari besar nasional/agama, dan sebagainya. Kegiatan ini dalah sebuh kegiatan yang akan melibatkan pihak-pihak terkait sehingga terjalin sebuah bentuk kerja sama yng harmonis antara peserta didik dengan para guru, para guru dengan personalia lainnya dan pesert didik dengan personalia lainnya.
4.       Kegiatan-Kegiatan Penunjang Pembelajaran
Disamping ketiga kegiatan pokok tersebut diatas, nampaknya masih perlu diketengahkan kegiatan-kegiatan penunjang pembelajaran untuk dibahas, yaitu bimbingan penyuluhan (BP), unit kesehatan sekolah (UKS), ruangan/lapangan olahraga, dan perpustakaan. Dalam upaya meningkatkan suksesnya PBM, maka beberapa kendala PBM perlu diatasi, yaitu faktor kesehatan fisik, dan faktor kelengkapan bahan bacaan dan lain sebagaainya.
Pendekatan manajeril/pengelolaan terhadap kurikulum adalah dengan mempertimbangkan  sekolah sebagai sistem sosial, menggunakan teori organisasi bahwa di dalamnya ada sekelompok orang sebagaimana adanya siswa, guru-guru, ahli kurikulum administrator yang berinteraksi mengacu kepada norma-norma dan perilaku. Dalam hal ini administrator adalah orang yang melaksanakan dengan rencana kurikulum dalam istilah program, skedul, ruang, sumber daya, dan peralatan, personil serta departemen/seleksi, pengaturan, komunikasi, dan supervise orang dan melibatkan dalam keputusan kurikulum. Hal yang dipertimbangkan adalah membentuk  panitia, kelompok, proses hubungan manusia, gaya kepemimpinan dan metode, serta pembuatan keputusan

















Bab III
PENUTUP

KESIMPULAN
            Istilah kurikulum secara etimologi berasal dari bahasa Latin yaitu curricular yang berarti jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Serta dalam bahasa Perancis, istilah kurikulum berasal dari kata courier yang berarti berlari. Sehingga urikulum berarti suatu jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari dari garis start sampai dengan garis sampai dengan garis finish  untuk memperoleh medali atau penghargaan. Jarak yang ditempuh tersebut kemudian diubah menjadi program sekolah dan semua orang yang terlibat di dalamnya. Dengan demikian dalam pengertian sempit kurikulum diartikan dengan sejumlah mata pelajaran yang harus dipelajari oleh peserta didik dalam jangka waktu tertentu. Dan dalam pengertian luas kurikulum diartikan dengan semua pengalaman belajar yang diberikan kepada peserta didik, selama mereka mengikuti pendidikan dan pembelajaran di sekolah atau lembaga pendidikan tertentu.
            Secara terminologi menurut Soedijarto, kurikulum berarti segala pengalaman dan kegiatan belajar yang direncanakan dan diorganisir untuk diatasi oleh para siswa/mahasiswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan bagi suatu lembaga pendidikan. Dan menurut SK Menteri P dan K No. : 008 c/u/1975, lampiran I kurikulum diartikan sebagai sejumlah pengalaman belajar yang diberikan (di bawah tanggung jawab sekolah) dalam usaha untuk mencapai suatu tujuan pendidikan tertentu.
Kegiatan administrasi dititikberatkan pada usaha-usaha pembinaan situasi belajar-mengajar di sekolah agar selalu terjamin kelancarannya. Dan kegiatan administrasi kurikulum yang terpenting disini dapat disebutkan dua hal yang terdiri dari kegiatan yang amat erat kaitannya dengan tugas guru, dan kegiatan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar.
Dan pelaksanaan administrasi kurikulum diantaranya, yaitu persiapan yang berupa tahap kegiatan yang dilakukan oleh guru sebelum memulai mengajar, lalu pelaksanaan yang berupa tahap kegiatan mengajar sesungguhnya yang dilakukan oleh guru dan sudah ada interaksi langsung dengan siswa mengenai pokok bahasan yang diajarkan, lalu penutupan yang terjadi di kelas setelah guru selesai melaksanakan tugas mengajarkan materi yang manjadi tanggung jawabnya untuk pertemuan itu.Penutupan pelajaran dilakukan dengan menghapus papan tulis, pesan dan kesan, ucapan “selamat pulang” dan lain sebagainya.

MAKALAH SEJARAH KOLONIALISME



BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

 Sejarah tentang kolonialisme dunia Barat terhadap negeri Timur Jauh khususnya wilayah Islam sangat sedikit sekali dibahas. Sehingga para penerus generasi Islam tidak banyak yang tahu tentang apa yang disebut masa Renaissance di Eropa.

            Maka dengan hadirnya makalah ini, penulis berharap akan dapat memberikan informasi yang cukup untuk mengisi kekosongan referensi tentang bentuk kolonialisme Barat terhadap negeri-negeri Islam.

Perlu diketahui bahwa Umat Islam mengalami puncak kejayaan kedua pada masa tiga kerajaan Besar berkuasa, yakni kerajaan Utsmani, Safawi dan Mughal. Namun, seperti pada masa kekuasaan Islam terdahulu, lambat laun kekuatan Islam menurun. Bersamaan dengan kemunduran tiga kerajaan tersebut, bangsa Barat mulai menunjukkan usaha kebangkitannya.

Periode tiga kerajaan tersebut (1503-1789) bahkan disebutkan sebagai periode-periode peradaban emas Islam, setelah sebelumnya mengalami kemunduran pasca jatuhnya dinasti Abbasiyyah di Baghdad oleh serbuan tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan.

 Kemajuan pada masa itu lebih kepada aspek material dan lemah pada bidang pemikiran, sains, seni dan filsafat. Hal ini dapat dilihat dari perekonomian, kekuatan militer dan wilayah teritorial negara yang kuat pada masa itu, namun kemajuan tersebut tidak mendorong terjadinya kemajuan pada bidang pendidikan, kebudayaan dan ilmu pengetahuan. 

Ketidakseimbangan inilah yang akhirnya menyebabkan ketidakmampuannya kerajaan Islam menandingi kekuatan Eropa modern yang didukung oleh sains dan teknologi.

 Kebangkitan bangsa Barat bermuara pada semangat keilmuan yang begitu tinggi, yang telah membawa bangsa Barat menuju penemuan-penemuan baru dan penjelajahan samudra, serta revolusi industri hingga berujung pada imperialisme terhadap wilayah-wilayah Islam pada khususnya. 

Dengan organisasi dan persenjataan modern, pasukan perang Eropa mampu melancarkan pukulan telak terhadap daerah-daerah kekuasaan Islam. Kekuatan-kekuatan Eropa menjajah satu demi satu negara Islam. 

Hal ini dibuktikan ketika Perancis menduduki Aljazair pada tahun 1830, dan merebut Aden dari Inggris sembilan tahun kemudian. Tunisia ditaklukkan pada tahun 1881, Mesir pada tahun 1882, Sudan pada 1889. 

Sementara itu, wilayah Islam di Asia Tengah juga tak luput dari penjajahan Barat. Kekuatan Eropa saling berlomba untuk menguasai wilayah-wilayah Islam di timur jauh, yakni wilayah Asia. Dengan ketidakberdayaannya Tiga Kerajaan Islam saat itu, kekuatan Eropa dengan mudah menaklukan wailayah-wilayah yang sebelumnya telah dikuasai Islam. 
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, pemakalah dapat merumusan masalah yang kemudian akan dikembangkan lagi dalam bab pembahasan, di antaranya ialah :

1. Bagaimana gambaran Masa Renaissance di Eropa?

2. Bagaimana bentuk imperealisme Barat terhadap dunia Islam?

3. Bagaimana usaha umat Islam untuk mengatasi kondisi keterpurukan.







































BAB II

PEMBAHASAN

A. Masa Renaissance di Eropa

 Eropa menghadapi tantangan yang sangat berat. Terutama kerajaan Usmani yang melakukan berbagai penelitian tentang rahasia alam, berusaha menaklukkan lautan, dan menjelajahi benua yang sebelumnya masih diliputi oleh kegelapan. Sejarah menceritakan bahwa setelah Christoper Colombus menemukan benua Amerika (1492 M) dan akses baru ke belahan timur melalui Tanjung Harapan oleh Vasco da Gama (1498) otomatis benua Amerika dan kepulauan Hindia segera jatuh ke bawah kekuasaan eropa. Penemuan ini amat berpengaruh besar terhadap kemajuan Eropa, karena dengan penemuan tersebut mereka tidak tergantung lagi pada jalur lama yang notabene dikuasai oleh umat Islam. 
 L. Stoddard dalam bukunya The New World of Islam menggambarkan bahwa dengan sekejap mata dinding laut itu berubah menjadi jalan raya dan Eropa yang semula terpojok segera menjadi yang di`pertuankan di laut dan dengan demikian, yang dipertuan di dunia. Perekonomian bangasa-bangsa Eropa pun semakin maju karena daerah-daerah baru terbuka baginya.
 Tak lama setelah itu, mulailah kemajuan Barat melampaui kemajuan Islam yang semakin lama mengalami kemunduran. Kemajuan Barat itu dipercepat oleh penemuan dan perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan terbukti dengan munculnya universitas-universitas kenamaandiantaranya seperti Oxford dan Cambridge di Inggris yang termasuk universitas paling awal berdirinya. Universitas-universitas inilah yang kemudian menjadi pusat kajian yang menghidupkan kembali kajian hukum Romawi, yang diwariskan oleh pemikir-pemikir Yunani seperti Plato dan Aristoteles.

Setelah pada abad ke-14 dan 15, bangsa Eropa mulai mencoba melakukan gebrakan dan eksperimen-eksperimen baru. Mereka tidak lagi puas dengan kurikulum lama yang digunakan di universitas, mereka tidak lagi berdiam diri melihat pasukan Islam menguasai daerah-daerah penting di wilayah laut Tengah. Mereka ingin melakukan gebrakan perubahan menuju era baru yang dikenal dengan Masa Renaissance. Masa Renaissence atau kelahiran kembali adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyebutkan kebangunan intelektual yang mempengaruhi seluruh fase kehidupan dan sejarah Eropa selama abad-abad pertengahan.

B. Penjajahan Eropa Terhadap Dunia Islam

Kemajuan bangsa Barat semakin dipercepat oleh kamajuan di bidang sains dan teknologi, yang sebelumnya memang telah ada cikal bakalnya. Beberapa kemajuan teknologi yang dicapai antara lain penemuan mesin uap yang kemudian melahirkan revolusi industri di Eropa semakin memantapkan kemajuan mereka. Teknologi perkepalan dan militer berkembang dengan pesat. Selain itu kemajuan di bidang abad lamanya. Demikian pula pusat kekuasaan Romawi Timur yaitu Konstantinopel, yang juga merupakan pusat agama Kristen dapat dikuasai oleh Islam, pada masa Sultan Muhammad II (1453) dari dinasti Turki Usmani.

Bahkan kota Konstantinopel hingga saat ini masih dikuasai oleh Islam dan telah berubah nama menjadi Istambul, yang sempat dijadikan ibu kota Turki Usmani sebelum akhirnya dipindah ke Ankara. Terlepas dari hal tersebut, motivasi Barat menjajah Dunia Islam adalah motivasi ekonomi, politik, hingga agama. 

Dalam Motivasi ekonomi dapat terlihat dari ekspansi Barat ke Asia Tenggara, negeri tempat Islam baru mulai berkembang, merupakan wilayah yang subur dan memiliki potensi sumber daya alam seperti rempah-rempah dan menjanjikan dalam penanaman modal. Di samping rempah-rempah mereka juga membutuhkan negeri-negeri tempat mereka dapat memasarkan hasil industrinya. Mereka melakukan monopoli perdagangan dengan merebut bandar-bandar pelabuhan besar yang sebelumnya menjadi daerah perdagangan umat Islam dari Arab, Persia, India, dan Cina. Mereka menguras kekayaan pribumi dengan cara paksa, disertai kekerasan senjata demi merebut bandar perdagangan tersebut. 

Selain itu, India ketika berada pada masa pemerintahan Mughal adalah negeri yang kaya dengan hasil pertanian. Hal itu mengundang Eropa, yang sedang mengalami kemajuan berdagang kesana. Awal abad ke-17, Inggris dan Belanda mulai menginjakkan kaki di India. Tahun 1611 M, Inggris mendapat izin menanamkan modal, dan tahun 1617 M Belanda mendapat izin yang sama.

Mulai saat itu, Inggris semakin leluasa untuk melebarkan sayapnya di Anak Benua India dan sekitarnya. Pada tahun 1842 M, Keamiran Muslim Sind di India mulai dikuasainya. Pada tahun 1857 M, kerajaan Mughal bahkan dikuasai penuh dan setahun kemudian rajanya yang terakhir dipaksa meninggalkan istana. Sejak itu India dikuasai penuh oleh Inggris. Akhirnya, pada tahun 1899 M kesultanan Muslim Baluchistan jatuh di bawah kekuasaan India-Inggris. 

Asia Tenggara, negeri tempat Islam baru mulai berkembang, merupakan daerah rempah-rempah terkenal pada masa itu dan menjadi ajang perebutan negara-negara Eropa. Kekuatan Eropa malah lebih awal menancapkan kekuasaannya di negeri ini. Hal ini dimungkinkan karena dibandingkan dengan Mughal, kerajaan-kerajaan Islam di Asia Tenggara lebih lemah sehingga dengan mudah dapat ditaklukkan. 

 Seperti kedatangan Portugis, Belanda, Inggris, dan Spanyol dari abad ke 15 sampai 19 M di kawasan perdagangan internasional Malaka, Gujarat, dan lainnya. Kekuasaan politik negara-negara Eropa berlanjut terus sampai pertengahan abad ke-20. Motivasi politik yang mereka galakkan ialah melakukan politik pecah belah, yaitu penjajah dengan sengaja menciptakan jurang pemisah antara kaum bangsawan dan rakyat kecil. Kaum bangsawan dibujuk untuk menuruti kehendak penjajah dengan jaminan jabatan dan keuntungan tertentu, sedang rakyat kecil diawasi agar tidak memberontak. Hal tersebut bertujuan untuk menghancurkan persatuan dan kesatuan rakyat agar tidak ada kekuatan yang nantinya dikhawatirkan akan mengancam keberadaan kaum penjajah.

Setelah bangsa Barat menguasai ekonomi dan politik negara-negara Islam, terdapat pula negara Barat yang menjajah dunia Islam dengan melakukan penyebaran agama Kristen melalui missionaris atau zending. Di antara bangsa Barat yang memiliki ketiga motivasi ini adalah Spanyol dan Portugis. Hal ini tercermin pada semboyan mereka dalam menjajah, yaituGold (semangat untuk mencari keuntungan), Glory (Semangat untuk mencapai kejayaan dalam bidang kekuasaan, dan Gospel (semangat untuk menyebarkan agama Kristen di masyarakat yang terjajah. 

Imperealisme Barat telah memberikan dampak yang begitu besar terhadap Peradaban umat Islam. Peradaban Islam berusaha diganti dengan peradaban Barat. Penyebaran budaya yang merusak semakin nampak, misalnya budaya minuman keras, berjudi, pergaulan bebas, dan sebagainya melanda kau terjajah. Dengan cara inilah penjajah merusak peradaban dan generasi Islam. 

Imperealisme Barat telah berdampak kepada hampir seluruh negara-negara Muslim. Negara-negara Islam yang pertama kali dikuasai oleh Barat adalah negara-negara Islam di Asia Tenggara dan di Anak Benua India. Sedangkan negara-negara Islam di Timur Tengah, yang masih berada di bawah kekuasaan kerajaan Usmani, baru berhasil ditaklukkan pada masaberikutnya.

C. Usaha Umat Islam Bangkit dari Keterpurukan

Ekspansi Barat ke Timur Tengah di mulai ketika Kerajaan Usmani mengalami kemunduran sementara Barat mengalami kemajuan di segala bidang, seperti perdagangan, ekonomi, industri perang dan teknologi militer. Meskipun demikian, nama besar Turki Usmani masih disegani oleh Eropa Barat sehingga mereka tidak melakukan penyerangan ke wilayah-wilayah kekuasaan kerajaan Islam. Namun, kekalahan besar Kerajaan Usmani dalam menghadapi serangan Eropa di Wina tahun 1683 M menyadarkan Barat bahwa Kerajaan Usmani telah melakukan perubahan-perubahan.

Mereka belajar dari kekalahan di Wina tersebut. Di antara pembaharuan yang dilakukan ialah :

a. Pengiriman duta-duta ke Eropa, untuk melihat dan meneliti dari dekat kemajuan Eropa.

b. Selanjutnya, berdirilah sekolah teknik militer pada tahun 1734, dengan mendatangkan para ahli militer Eropa sebagai pengajarnya.

c. Adapun pembaharuan lainnya adalah penerjemahan buku-buku Eropa ke dalam bahasa Turki, serta pembukaan percetakan, semua dilakukan untuk kepentingan kemajuan ilmu pengetahuan.

   Usaha-usaha ini baru membuahkan hasil setelah penghalang pembaharuan utama, yaitu tentara Yenissari (merupakan pihak yang menolak adanya pembaharuan ini) dibubarkan oleh Sultan Mahmud II pada tahun 1826. Namun, gerakan pembaharuan ini ternyata tidak mampu menghentikan gerakan Barat yang begitu cepat. Selama abad ke-18 M, Barat menyerang wilayah kekuasaan Turki Usmani yang berujung pada penandatanganan Perjanjian san Stefano (Maret, 1878 M), dan Perjanjian Berlin ( Juni-Juli, 1878 M) antara kerajaan Usmani dan Rusia, dengan demikian berakhirlah kekuasaan Turki Usmani di Eropa.

   Setelah terjadi Perang Dunia I pada tahun 1915, Turki Usmani berada di pihak yang kalah, dan menjadi serbuan Sekutu hingga tahun 1919 M. Akhirnya, kekuasaan Turki Usmani benar-benar tenggelam, bahkan kekhalifaannya dihapuskan (1924 M). Semua daerah kekuasaannya, baik di Asia maupun Afrika, diambil alih oleh pihak Eropa yang menang perang. Penetrasi Barat ke dunia Islam di Timur Tengah pertama-tama dilakukan oleh Inggris dan Perancis yang memang sedang bersaing. 

   Di wilayah Afrika, beberapa negara Islam yang menjadi sasaran penjajahan di anataranya adalah Mesir dijajah oleh Inggris (1882 M), Sudan dijajah oleh Inggris (1899 M), Libya dijajah oleh Italia (1911 M), Tunisia dijajah oleh Prancis (1881 M), Aljazair dijajah oleh Perancis (1830 M), Maroko dijajah oleh Perancis (1911 M), selain itu Afrika Tengah dan Afrika Timur pun tak luput dari sasaran penjajahan. Tak hanya itu, wilayah jazirah Arab juga menjadi sasaran penjajahan. Suriah dan Lebanon juga pernah dikuasai oleh Perancis (1918 M), Palestina dan Yordania juga pernah dikuasai oleh Inggris. 

   Sementara itu, Rusia menggerogoti wilayah Islam di Asia Tengah, seperti Kaukasia (1834-1859), Samarkand dan Bukhara (1866-1872), dan Uzbekistan (1873-1887). Hal tersebut merupakan imbas dari perjanjian San Stefano dan perjanjian Berlin antara Rusia dan Turki Usmani. 

   Dengan kata lain di akhir abad XIX dan XX, dunia Islam hampir seluruhnya berada dalam koloni Barat. Dunia Islam yang membentang dari Maroko hingga Indonesia merupakan negeri-negeri kolonial yang dijadikan “sapi perahan” untuk kemakmuran bangsa Barat.

   Demikianlah, bahwa konflik serta intrik internal ditambah intervensi eksternal (Barat) inilah di antara faktor-faktor yang telah menghancurkan budaya dan peradaban Islam, ‘hingga tubuhnya terbujur kaku nan rapuh’, yang berikut menjadi jalan kolonialisme besar-besaran Barat ke dunia Islam.

   Jika ditilik secara mendalam, kolonialisme Barat terhadap Islam setidaknya bersumber dari model citra dan persepsi Barat yang menganggap Islam sebagai musuh dan rival Kristen. Kolonialisme yang menyertai semangat Evangelisme (penginjilan) pada abad XIX tersebut mewarnai dunia dan masyarakat Islam kala itu. Ide dan semangat Evangelisme, yang menganggap bahwa keselamatan (salvation) terletak hanya pada pengakuan dosa dan penerimaan gospel Kristen, menciptakan konfrontasi antara Kristendom dan Muslim dalam skala besar. Hal tersebut membangkitkan kembali sikap permusuhan Eropa terhadap Islam. 

   Demikianlah Islam dengan krisis identitasnya, ditambah rongrongan bangsa berjiwa imperialis yang merusak tatanan sistem politik, psikologi, sosial-budaya hingga moralitas bangsa terjajah. Jelas, hal ini menghantam telak peradaban Islam, sehingga dinamika menjadi mati, kemudian ‘berhenti di titik jajah’. Dominasi ekonomi, kekuasaan hingga ideologi menjelma sebentuk potret muram gerakan kolonialisme. Akhirnya, peradaban Islam bermuram durja.

   Berada di bawah penetrasi dan kolonialisasi Barat ternyata tidak sepenuhnya memberikan dampak negatif kepada umat Islam. Ada pelajaran berharga yang didapatkan oleh umat Islam dari persinggungannya dengan peradaban Barat yang sedemikian maju, dari sinilah gerakan-gerakan yang berusaha untuk mewujudkan sintesa antara Islam dengan peradaban modern dengan meninjau kembali ajaran-ajaran Islam dan menafsirkannya dengan interpretasi baru. Selain itu, semangat umat Islam untuk mengobarkan kebudayaan Islam yang pernah jaya mulai bangkit kembali, dengan mencoba merubah paradigma berfikir. 

   Dengan demikian yang dimaksud dengan kebangkitan Islam adalah kristalisasi kesadaran keimanan dalam membangun tatanan seluruh aspek kehidupan yang berdasar atau yang sesuai dengan prinsip Islam. Makna ini mempunyai implikasi kewajiban bagi umat Islam untuk mewujudkannya melalui gerakan-gerakan, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Usaha untuk memulihkan kembali kekuatan Islam dikenal dengan sebutan gerakan pembaharuan. Upaya pembaharuan pun mulai bermunculan. Ada beberapa pola dalam pembaharuan yang dilakukan oleh umat Islam.

   Ada kelompok yang lebih dikenal sebagai kelompok modernis, karena mereka berusaha untuk meniru pola dan sistem pendidikan modern ala Barat dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada dasarnya pola ini berpandangan bahwa sumber kekuatan dan kemajuan Barat disebabkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adapun beberapa tokoh pelopor gerakan pembaharuan model ini adalah Sultan Mahmud II dari Turki Usmani, Sir Sayyid Ahmad Khan dari India, Muhammad Ali Pasya di Mesir.

   Ada pula Kelompok penggagas pembaharuan yang meyakini bahwa penyebab kemunduran umat Islam adalah karena mereka meninggalkan ajaran Islam yang merupakan sumber kemajuan dan kekuatan budaya, dan sebaliknya, umat Islam lebih memilih untuk mengikuti ajaran-ajaran yang telah bercampur dengan ideologi non-Islam. Selain itu, ditinggalkannya pola pikir rasional dan ditutupnya pintu ijtihad juga diyakini sebagai penyebab kemunduran Islam.

   Oleh karena itu, kelompok pembaharuan tipe ini mengajak umat Muslim untuk kembali pada al-Qur’an dan Sunnah, dengan tidak mengabaikan ijtihad. Ijtihad senantiasa diperlukan sebagai upaya penyesuaian ajaran Islam dengan perkembangan zaman yang tentunya penuh dengan berbagai problematika. Adapun beberapa tokoh yang mempelopori pembaharuan pola ini adalah Muhammad bin Abdul Wahab, Jamaluddin al-Afghani, dan Muhammad Abduh.

   Di sisi lain, muncul gagasan pembaharuan yang berorientasi pada nasionalisme ini berdasar pada kenyataan bahwa umat Islam itu terdiri dari berbagai bangsa, yang hidup dalam daerah dan lingkungan budaya yang berbeda-beda, sehingga memerlukan usaha pengembangan yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi masing-masing. Meskipun pada dasarnya ide nasionalisme berasal dari dunia Barat, namun hal tersebut dianggap tidak bertentangan dengan Islam. Akhirnya gerakan nasionalisme muncul di berbagai wilayah seperti Mesir, Tunisia, Aljazair, dan kesemuanya tidaklah sama. Negara-negara tersebut dihadapkan dengan permasalahan spesifik tentang kekuasaan Eropa, dan peduli terhadap permasalahan dalam negeri mereka masing-masing, dan berupaya bebas dari kolonialisme bangsa Eropa.

   Munculnya gagasan nasionalisme yang diikuti dengan berdirinya partai-partai politik merupakan model utama umat Islam untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Adapun negara mayoritas muslim yang pertama kali memerdekakan diri adalah Indonesia, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada tahun 1946, Syiria, Jordania, dan Libanon telah mengumumkan kemerdekaannya. Selanjutnya adalah Pakistan, pada tanggal 15 Agustus 1947. Pada tahun 1951, Libya memerdekakan diri. Adapun Mesir baru menganggap dirinya benar-benar merdeka pada tanggal 23 Juli 1952 (setelah Raja Faruk digulingkan), meskipun sebenarnya Mesir telah bebas dari Inggris sejak tahun 1922.

   Sudan dan Maroko merdeka pada tahun 1956, Malaysia (termasuk Singapura) merdeka dari Inggris pada tahun 1957, Irak baru merasakan atmosfer kemerdekaan pada tahun 1958, sedangkan Aljazair pada tahun 1962, dan Brunei Darussalam baru merdeka pada tahun 1984. Selain itu, negara-negara Islam yang dulunya bersatu dengan Uni Soviet seperti Uzbekistan, Turkmenia, Kirghistan, Kazakhtan, Tasjikistan,dan Azerbeijan, baru mendapat kemerdekaan pada tahun 1992, demikian halnya dengan Bosnia yang juga baru mendapatkan kemerdekaan dari Yugoslavia pada tahun yang sama.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

    Setelah pada abad ke -14 dan 15, bangsa Eropa mulai mencoba melakukan gebrakan perubahan menuju era baru yang dikenal dengan Masa Renaissance. 

    Masa Renaissance atau kelahiran kembali adalah suatu istilah yang digunakan untuk menyebutkan kebangkitan intelektual yang mempengaruhi seluruh fase kehidupan dan sejarah Eropa selama abad-abad pertengahan diantaranya kemajuan bangsa Barat di bidang ilmu pengetahuan, sains dan teknologi yang kemudian melahirkan revolusi industri di Eropa. 

   Selain itu, kemajuan di bidang teknologi perkapalan dan militer membuat Eropa dengan mudah melakukan kegiatan ekonomi dan perdagangan.

    Dengan kemajuan Barat dalam berbagai bidang kehidupan, mereka ingin kembali mengembalikan hak-hak yang telah dirampas oleh orang-orang muslim. Yang akhirnya mereka melakukan ekspansi-ekspansi ke wilayah-wilayah muslim.

    Penetrasi Barat atas dunia Islam telah memberikan pengaruh yang amat besar terhadap umat Islam. Keunggulan mereka telah membukakan mata umat Islam bahwa mereka jauh tertinggal, dan harus segera bangkit, sehingga lahirlah usaha pembaharuan dalam Islam, dengan berpegang teguh kepada ajaran al-Qur’an dan Sunnah, dan mencoba merubah paradigma berfikir yang cenderung stagnan. 

  Masyarakat Muslim untuk mengawali perjuangan aksi di semua bidang kemundurannya, dari militer, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Meski hampir seluruh Negara Muslim telah merdeka secara militer, namun peradaban Islam mutakhir, belum juga mampu mengembalikan superioritas Islam dan kembali memimpin peradaban dunia.


B. Saran

  Penulis menyadari akan kekurangan dari artikel singkat ini. Maka dari itu, penulis berharap saran dan kritikan yang membangun dari para pembaca sehingga menjadi pembelajaran bagi penulis untuk kedepannya.

TUGAS MAHASISWA

ABNORMAL PSYCHOLOGY ASSIGNMENT

  Introduction ,serif; font-size: 16pt; line-height: 150%;"> Abnormal psychology deals with the branches of behavioral, emotional,...