Senin, 10 Juli 2017

MAKALAH Komunikasi Lintas Budaya



BAB I                                                 
PENDAHULUAN
Masyarakat Indonesia memiliki berbagai macam keberagaman seperti agama, bangsa ras, bahasa, adat istiadat dan sebagainya. Indonesia terkenal dengan keberagaman budayanya. Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna dan diwariskan dari generasi ke generasi, melalui usaha individu dan kelompok.
Komunikasi diperlukan untuk mengenal budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Dengan berkomunikasi seseorang dapat memahami perbedaan antar budaya yang satu dengan yang lainnya. Komunikasi dan budaya mempunyai hubungan timbal balik. Budaya menjadi bagian dari perilaku komunikasi, dan komunikasi pun selalu menentukan budaya. Komunikasi antar budaya terjadi jika bagian yang terlibat dalam kegiatan komunikasi membawa latar belakang budaya pengalaman yang berbeda dan mencerminkan nilai yang dianut oleh kelompoknya.
Berkomunikasi merupakan kebutuhan yang fundamental bagi seseorang yang hidup bermasyarakat, tanpa komunikasi tidak mungkin masyarakat terbentuk, sebaliknya tanpa masyarakat, maka manusia tidak mungkin dapat mengembangkan komunikasi. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Dalam hidup manusia selalu berinteraksi dengan sesama serta dengan lingkungan. Manusia hidup berkelompok baik dalam kelompok besar maupun kelompok kecil.
           






BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi lintas budaya adalah proses pertukaran pikiran dan makna antara orang-orang yang berbeda budaya. Ketika komunikasi tersebut terjadi antara orang-orang berbeda bangsa(international), antaretnik(interethnical), kelompok ras(interracial), atau komunikasi bahasa(intercommunal), disebut komunikasi lintas budaya.
Menurut Liliweri (2003:9), dalam bukunya yang berjudul Komunikasi Antarbudaya, memberikan definisi komunikasi antarbudaya atau komunikasi lintas budaya sebagai pernyataan diri antarpribadi yang paling efektif antar dua orang yang saling berbeda latar belakang budayanya.
Komunikasi Lintas Budaya dalam pengertian yang lebih luas lagi, merupakan pertukaran pesan yang disampaikan secara lisan, tertulis, bahkan secara imajiner antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya.[1]
B.     Fungsi Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi lintas budaya memiliki fungsi penting, terutama ketika seseorang mulai menjalin hubungan bilateral, trilateral, atau multilateral. Secara khusus, komunikasi lintas budaya berfungsi untuk mengurangi ketidakpastian komunikasi antarorang, antarsuku, dan antarbangsa yang berbeda budayanya. Ketika memasuki wilayah(daerah) orang lain, seseorang dihadapkan dengan orang-orang yang sedikit atau banyak berbeda, ditinjau dari aspek sosial, budaya, ekonomi dan status lainnya.[2]
C.     Pentingnya Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi lintas budaya sangat penting, terutama untuk mencapai hubungan kerja sama yang saling menguntungkan. Pentingnya komunikasi lintas budaya untuk membangu hubungan internasional yang serasi dapat ditemukan contohnya dari hubungan Amerika Serikat dan Korea Selatan. Hubungan kedua negara tersebut  berjalin harmonis sejak 1884, ketika pemerintah Amerika Serikat mengirim warganya yang menjadi konsumen pertama produk property buatan korea selatan. Dari fenomena hubungan ekonomi Amerika Serikat-Korea Selatan, diketahui bahwa produktivitas dan profitabilitas meningkat ketika organisasi mampu menyerap budaya dan mengomunikasikan harapan secara jelas.
Bagi banyak Negara, proses komunikasi yang ditunjukkan kedua Negara tersebut dijadikan sebagai replikasi untuk mencapai kemajuan dalam menjalin hubungan internasional. Replikasi tersebut tidak terbatas hanya dalam hubungan perdagangan saja, melainkan juga hubungan pertukaran pelajar, kegiatan riset dan kebudayaan, hingga masalah pertahanan keamanan. Kunci keberhasilan ini terletak pada aspek koorientasi yang diperlihatkan kedua belah pihak.
Budaya-budaya yang berbeda memiliki sistem-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga menentukan cara berkomunikasi kita yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi kita dengan orang lain selalu mengandung potensi Komunikasi Lintas Budaya atau antar budaya, karena kita akan selalu berada pada “budaya” yang berbeda dengan orang lain, seberapa pun kecilnya perbedaan itu. Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal, setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul perasaan tidak nyaman atau timbul kesalahpahaman. Akibat dari kesalahpahaman-kesalahpahaman itu banyak kita temui dalam berbagai kejadian yang mengandung etnosentrisme dewasa ini dalam wujud konflik-konflik yang berujung pada kerusuhan atau pertentangan antaretnis. Sebagai salah satu jalan keluar untuk meminimalisir kesalahpahaman-kesalahpahaman akibat perbedaan budaya adalah dengan mengerti atau paling tidak mengetahui bahasa dan perilaku budaya orang lain, mengetahui prinsip-prinsip Komunikasi Lintas Budaya dan mempraktikkannya dalam berkomunikasi dengan orang lain.[3]
D.    Definisi Budaya
Secara etimologj, budaya berasal dari bahasa sanskerta. Buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal). Selanjutnya, budaya diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Berbudaya berarti mempunyai budaya, mempunyai pikiran dan akal budi untuk memajukan diri. Kebudayaan diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan manusia sebagai hasil pemikiran dan akal budi.
Budaya dalam  bahasa Inggris disebut culture, yang berasal dari kata latin, colere, yang berarti mengolah atau mengerjakan, dan bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga merupakan kata lain dari occult yang berarti benak dan pikiran. The American Herritage Dictionary mengartikan culture sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang ditransmisikan melalui kehidupan sosial, seni, agama, dan kelembagaan.
Budaya dari bahasa latin, yakni dari akar kata cultura. Dalam bahas Perancis, la Culture berarti esemble des aspects intellectuals d’une civilization (serangkaian bidang intelektual dalam sebuah peradaban). Budaya adalah suatu konsep yang mencakup berbagai kompenen yang digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan hidupnya sehari-hari (Purwasito, 2003:95).[4]
Edward B. Taylor mendefinisikan budaya sebagai keseluruhan sistem yang kompleks, yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan kemampuan lain serta kebiasaan yang diperoleh dan dipelihara manusia sebagai anggota masyarakat.[5]
Williams mendefinisikan bahwa budaya mencakup organisasi produksi, struktur lembaga, yang mengekspresikan atau mengatur hubungan sosial, dan bentuk-bentuk komunikasi khas antaranggota masyarat. 
Trenholm dan Jensen (1992:238) mendefinisikan budaya sebagai seperangkat nilai, kepercayaan, norma, adat istiadat, aturan, dan kode yang secara sosial mendefinisikan kelompok orang yang memilikinya, mengikat mereka satu sama lain dan memberi mereka kesadaran bersama. [6]
Harrison dan Huntington mengemukakan, “Istilah budaya, tentu saja mempunyai arti banyak dalam disiplin ilmu serta konteks yang berbeda.” Sifat sulit dipahami ini mungkin dapat di cerminkan dalam fakta bahwa pada awal tahun 1952 ulasan tentang literatur antropologi mengungkap 164 definisi berbeda dari kata budaya.
Menurut Triandis, “Kebudayaan merupakan elemen subjektif dan objektif yang dibuat manusia yang di masa lalu meningkatkan kemungkinan untuk bertahan hidup dan berakibat dalam kepuasan pelaku dalam sudut ekologis, dan demikian tersebar di antara mereka yang dapat berkomunikasi satu sama lainnya, karena mereka mempunyai kesamaan bahasa dan mereka hidup dalam waktu dan tempat yang sama.” Pengertian ini menyorot dalam satu kalimat panjang, fitur penting dari budaya. Dengan menunjuk pada “buatan manusia” yang membuat jelas bahwa budaya berhubungan dengan bagian non-biologis dari kehidupn manusia. Hal ini memberikan penjelasan tentang sifat bawaan dan tidak harus dipelajari (sperti makan, tidur, menangis, mekanisme organ bicara, dan rasa takut). Kedua, definisi ini meliputi apa yang disebut Harrison dan Huntington sebagai elemen “subjektif” dari bahasa. Elemen sseperti “nilai, tingkah laku, kepercayaan, orientasi, dan asumsi yang tersirat lazim dalam suatu masyarakat. [7]
Menurut  Koentjaraningrat, budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar. Dengan demikian, dapat dikatakan secara ringkas bahwa budaya adalah keseluruhan cara hidup (way of life) manusia.
Secara panjang lebar Tubbs (1996: 237) mengartikan budaya dengan segala unsurnya bahwa budaya merupakan cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang serta diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.[8]
Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang  berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan  bahwa budaya itu dipelajari. Maka, komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda (bisa beda ras, etnik, atau sosio ekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini). Seperti kita ketahui bahwa budaya mempengaruhi cara seseorang berkomunikasi. Budaya bertanggung jawab atas seluruh aspek komunikasi yang dilakukan oleh seorang individu atau kelompok, baik secara verbal maupun nonverbal.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Tidak banyak orang menyadari bahwa bentuk-bentuk interaksi antarbudaya sesungguhnya secara langsung atau tidak melibatkan sebuah komunikasi. Pentingnya komunikasi antarbudaya mengharuskan semua orang untuk mengenal dasar-dasar komunikasi antarbudaya itu. Komunikasi itu muncul, karena adanya kontak, interaksi dan hubungan antar individu atau kelompok yang berbeda kebudayaannya. Jadi, sebenarnya tidak ada kebudayaan tanpa komunikasi, dan tidak ada komunikasi tanpa pengaruh  budaya. Di sinilah pentingnya kita mengetahui komunikasi antarbudaya itu.[9]
E.     Karakteristik Budaya dan Komunikasi
Ada tiga karakteristik penting dari kebudayaan, yaitu kebudayaan itu dapat dipelajari, kebudayaan itu dapat dipertukarkan, dan kebudayaan itu tumbuh serta berubah (Hebding dan Glick, 1991, hlm. 45).
1.      Kebudayaan itu Dipelajari
Kita sebut kebudayaan itu dapat dipelajari karena interaksi antarmanusia ditentukan oleh penggunaan simbol, bahasa verbal maupun nonverbal. Tradisi budaya, nilai-nilai, kepercayaan, dan standar perilaku semuanya diciptakan oleh kreasi manusia dan bukan sekadar diwarisi secara instink, melainkan melalui proses pendidikan dengan cara-cara tertentu menurut kebudayaan. Setiap manusia lahir dalam suatu keluarga, kelompok sosial tertentu yang telah memiliki nilai, kepercayaan, dan standar perilaku yang ditransmisikan melalui interaksi di antara meraka (sosialisasi).
2.      Kebudayaan itu Dipertukarkan
Di samping dipelajari, kebudayaan itu juga dipertukarkan. Istilah pertukaran merujuk pada kebiasaan individu atau kelompok untuk menunjukkan kualitas kelompok budayanya. Dalam interaksi atau pergaulan antarmanusia setiap orang mewakili kelompoknya lalu menunjukkan kelebihan-kelebihan budayanya dan membiarkan orang lain untuk mempelajarinya. Proses pertukaran budaya dilakukan melalui mekanisme belajar budaya yang mengakibatkan para ibu yang berasal dari Sunda dan Jawa dapat belajar memasak jagung bose (masakan jagung yang bercampur santan kelapa) dan sebaliknya para ibu dari Timor dan Flores belajar membuat oncom dan bajigur dari Sunda.
3.      Kebudayaan Tumbuh dan Berkembang
Setiap kebudayaan terus ditumbuhkembangkan oleh para pemilik kebudayaannya, oleh karena itu ada yang mengatakan bahwa kebudayaan ituterus mengalami perubahan. Oleh karena itu, kita menyebut kebudayaan itu berbuah semakin rinci (kompleks) dan kemudian dikomunikasikan dari satu generasi ke generasi lain. Tenun ikat dari Ended an Lio di Flores mula-mula di tenun dengan benang yang di celupkan ke dalam nila. Akibat perkembangan teknologi industri maka lama kelamaan nila mulai ditinggalkan dan para penenun memakai benang sutera sehingga dapat menghasilkan tenun ikat berkualitas ekspor.[10]
F.      Dimensi Dan Unsur Budaya
Budaya memiliki dimensi yang sangat luas, bahkan dapat dikatakan seluas dan serumit kehidupan manusia itu sendiri. Tetapi, untuk kepentingan ilmiah, kebudayaan dikelompokkan ke dalam beberapa unsur penting, yaitu:
1.      Sistem religi (agama) dan upacara keagamaan
Koentjaraningrat menyatakan bahwa asal mula permasalahan fungsi religi dalam masyarakat adalah adanya pertanyaan mengapa manusia percaya kepada adanya suatu kekuatan gaib atau supranatural yang dianggap lebih tinggi daripada manusia dan mengapa manusia itu melakukan berbagai cara untuk berkomunikasi dan mencari hubungan-hubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural tersebut. Dalam memahami unsur religi sebagai kebudayaan manusia tidak dapat dipisahkan dari religious emotion atau emosi keagamaan. Emosi keagamaan adalah perasaan yang ada di dalam diri manusia yang mendorongnya melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religius. Dalam sistem religi terdapat tiga unsur yang harus dipahami selain emosi keagamaan, yakni sistem keyakinan, sistem upacara keagamaan, dan umat yang menganut religi itu.
Misalnya, kepercayaan menyembah pada suatu kekuatan gaib di luar diri manusia, berupa gunung, angin, hutan, dan laut. Kepercayaan tersebut berkembang pada tingkatan yang lebih tinggi, yakni kepercayaan kepada satu dewa saja (monotheism) dan lahirnya konsepsi agama wahyu, seperti Islam, Hindu, Buddha, dan Kristen. Sistem religi juga mencakup mengenai dongeng-dongeng atau cerita yang dianggap suci mengenai sejarah para dewa-dewa (mitologi). Cerita keagamaan tersebut terhimpun dalam buku-buku yang dianggap sebagai kesusastraan suci. Salah satu unsur religi adalah aktivitas keagamaan di mana terdapat beberapa aspek seperti benda-benda dan alat-alat yang digunakan dalam upacara keagamaan, yaitu patung-patung, alat bunyi-bunyian, maupun sesaji untuk dilakukan dalam aktivitas tersebut.
2.      Sistem pengetahuan
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut logika, atau percobaan yang bersifat empiris.[11]
3.      Bahasa
Bahasa terdiri dari susunan kata-kata. Kata-kata disusun oleh simbol sehingga bahasa merupakan susunan berlapis-lapis dari simbol yang ditata menurut ilmu bahasa. Karena simbol-simbol itu berasal dari bunyi, ucapan yang dibentuk oleh sebuah kebudayaan maka kata-kata maupun bahasa dibentuk pula oleh sebuah kebudayaan. Jadi, bahasa merupakan komponen budaya yang sangat penting yang mempengaruhi penerimaan dan perilaku manusia, perasaan dan kecenderungan manusia untuk bertindak mengatasi dunia sekeliling. Dengan kata lain, bahasa mempengaruhi kesadaran, aktivitas dan gagasan manusia, menentukan benar atau salah, moral atau tidak bermoral, dan baik atau buruk.
Contoh studi kasus: Ketika Riski lulus sekolah menengah atas (SMA), Riski memutuskan untuk melanjutkan studi ke Jawa Timur, tujuan Riski datang ke daerah Pasuruan. Awalnya ketika Riski datang di Pasuruan, Riski merasa asing, terutama dalam pengucapan bahasa yang mereka pakai sehari-hari. Dari budaya yang Riski anut, Riski memiliki latar belakang budaya orang Jawa Tengah. Walaupun Riski memiliki latar belakang budaya Jawa Tengah, namun Riski telah lama dan menetap di Sumatera Selatan, sehingga adat kebudayaan Riski telah banyak mengikuti orang-orang asli Palembang. Riski mampu berdialog dengan bahasa Jawa, namun bahasa yang dipakai Riski khas Jawa Tengah. Ketika sampai di daerah Pasuaruan ia merasa tidak nyaman, karena ia merasa bahwa ia mmerasa dikucilkan oleh rekan satu Kos-nya. sesuatu ketika ada rekan satu kos Riski yang sakit, dengan dialog khas Jawa Tengah Riski bilang “nak enek konco seng sakit yo di tilik’i. (kalau ada teman yang sakit ya di jenguk)”. berhubung yang diajak berdialog orang Jawa Timur mereka semua bingung. Yang mereka ketahui bahasa “menilik’i”(Jawa Tengah: menjenguk/melihat. Jawa Timur: mencicipi/mencoba rasa sesuatu).
Dari contoh kasus diatas jelas bahwa dalam sebuah komunikasi antar budaya terjadi sebuah gangguan (noice), sebenarnya apa yang hendak disampaikan benar namun pada akhirnya bahasa yang diucapkan memiliki arti yang berbeda dari makna yang diharapkan. Hal ini tentu sangat dipengaruhi dengan adanya perbedaan antara kultur budaya pada suatu daerah tertentu. Bila kita kurang mengenal adat dan kebiasaan masyarakat sekitar, maka kita tidak dapat berkomunikasi secara efektif. Bahasa menentukan berhasil atau tidaknya komunikasi. Bahasa memiliki sifat unik dan kompleks yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa tersebut. Jadi, keunikan dan kekompleksan bahasa ini harus dipelajari dan dipahami agar komunikasi lebih baik dan efektif dengan memperoleh nilai empati dan simpati dari orang lain.[12]
4.      Kesenian
Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia terhadap keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.
5.      Sistem mata pencarian
Perhatian para antropolog masa awal pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah mata pencaharian tradisional, diantaranya, berburu dan meramu, beternak, bercocok tanam di ladang, dan menangkap ikan.
6.      Sistem teknologi dan peralatan
Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan. Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat dan mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian. Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat perdesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu senjata, wadah, alat-alat menyalakan api, makanan, pakaian, tempat berlindung dan perumahan, alat-alat transportasi.
Pengaruh beberapa unsur kebudayaan tersebut pada makna untuk persepsi terutama pada aspek individual dan subjektifnya. Dalam pandangan budaya, suatu objek atau peristiwa sosial yang sama dan memberikan makna objektif yang sama, tetapi makna individualnya mungkin akan berbeda. Misalnya orang Amerika dengan Arab sepakat menyatakan seseorang wanita berdasarkan wujud fisiknya. Tetapi kemungkinan besar keduanya akan berbeda pendapat tentang bagaimana wanita itu dalam makna sosialnya. Orang Amerika memandang nilai kesetaraan antara pria dengan wanita, sementara orang Arab memendang wanita cenderung menekankan wanita sebagai ibu rumah tangga.[13]
Contoh Studi Kasus:  Pada suatu ketika di jalan raya, terjadi perselisihan antara seseorang yang suku jawa dengan seorang sopir angkot yang berasal dari daerah tapanuli (batak). Permasalahan yang terjadi antara keduanya yakni senggol-menyenggol kendaraan di tengah kemacetan. Karena tidak ada polisi dan kedua belah pihak tetap pada pendiriannya, mereka sepakat menuju kantor polisi terdekat. Ketika si sopir yang bersuku batak berbicara meledak-ledak, sang sopir di tegur oleh pak polisi agar berbicara lebih santun dan tenang.
Dengan sekonyong-konyong ia berbicara: “Saya orang Batak, saya tidak bisa berbicara halus seperti dia (sambil menunjuk ke arah orang yang bersuku jawa). Kami orang batak kalau bicara lantang dan terus terang tetapi jujur, tidak seperti orang Jawa yang bicara tidak jujur, berputar-putar dan berbelit-belit”. Untuk orang batak yang baik adalah berbicara langsung, terbuka dan terus terang karena disitu nilai kejujuran dan keterbukaan dijunjung. Namun bagi orang jawa, hal itu tidak sopan, kalau berbicara sebaiknya harus santun.
Nilai Kebaikan untukseseorang yang bersuku jawa adalah sopan santun, bicara halus dengan tutur kata yang baik dianggap keburukan bagi si sopir batak karena dianggap berputar-putar, berbelit-belit dan tidak jujur. Begitu juga sebaliknya, bagi orang yang bersuku jawa, sopir bersuku batak tersebut dianggap tidak sopan karena telah berbicara dengan keras dan dianggap tidak santun. Ini adalah penggambaran yang sangat jelas bagaimana budaya jawa dan budaya batak berpengaruh pada proses komunikasi mereka. Dengan 2 budaya yang berbeda disertai juga dengan karakteristik yang berbeda, hal ini akan jelas berpengaruh pada cara mereka berkomunikasi.[14]
Budaya tidak berhenti pada satu titik, tetapi berproses sepanjang waktu, sebagaimana progresivitas akal budi (intelektual) manusia. Kajian komunikasi lintas budaya tak dapat dilepaskan dari kebudayaan sebab dalam komunikasi lintas budaya para peserta komunikasi dihadapkan dengan masalah perbedaan budaya. Pada umumnya, perbedaan budaya yang paling menonjol meliputi perbedaan ras, nilai dan norma, sistem religi, serta tradisi. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Ras
Membicarakan masalah ras adalah membicarakan perbedaan warna kulit, bentuk muka, dan tubuh. Pengetahuan tentang hal ini akan memengaruhi seseorang dalam tindak komunikasi. Perbedaan rasial merupakan perbedaan keturunan atau ras yang secara fisik membedakan antara orang yang satu dan orang lain. Dan setiap ras memiliki budayanya sendiri yang berbeda satu sama lain.
Kita juga mengenal budaya dan ras, bahwa ras-ras tertentu mempunyai sifat yang sama. Orang hitam umumnya suku bangsa yang selalu riang gembira suka bernyanyi dan terkadang dikatakan jorok dan kotor. Orang kulit kuning keturunan cina dan jepang dikatakan manusia pekerja keras terkadang pelit. Perilaku itu dinamakan perilaku ras, meskipun itu hanya merupakan perilaku rata-rata.[15]
2.      Nilai dan Norma
Menurut Peoples dan Biley, nilai merupakan “kritik atas pemeliharaan budaya secara keseluruhan karena hal ini mewakili kualitas yang dipercayai orang yang penting untuk kelanjutan hidup meraka.” Hubungan antara nilai dan budaya begitu kuat, sehingga sulit untuk membahas yang satu tanpa menyinggung yang lain. Seperti yang ditulis oleh Macionis, nilai adalah “standar keinginan, kebaikan, dan keindahan yang diartikan dari budaya yang berfungsi sebagai petunjuk dalam kehidupan sosial.” Nilai-nilai berguna untuk menentukan bagaimana seseorang bertingkah laku. Untuk sejumlah nilai budaya yang berbeda, seseorang dapat mengharapkan peserta dalam komunikasi antarbudaya ini akan cenderung untuk memperlihatkan dan mengantisipasi tingkah laku yang berbeda dalam kesempatan yang sama. Misalnya, semua budaya memberikan penghormatan terhadap yang lebih tua, kekuatan nilai ini terkadang sangat berbeda dari satu budaya ke budaya yang lain.
Budaya setiap bangsa mempunyai ciri khas tertentu, unik dan lokal. Setiap budaya mempunyai cara dan kebiasaan, kepercayaan dan keyakinan yang diambil dari norma, serta nilai yang berkembang di tengah masyarakatnya.
Sesuatu percakapan dapat dianggap kasar, misalkan dengan memanggil seseorang dalam sebuah nama “si boncel” yang berarti sebuah sarkastik (ejekan). Boleh saja hal itu bermaksud untuk membangun suasana yang akrab/humoris, tetapi bagi sebagian orang hal itu terlihat seperti “biadab” atau tidak memiliki tata krama. Bahkan penyebutan “si” pada panggilan “si Andi” bagi orang Sunda dianggap sebagai panggilan yang kasar atau tidak terhormat. Sesuatu yang memunculkan sebuah pelanggaran dari kebiasaan yang baik disebut “tabu” dan setiap budaya memiliki adab-adab yang dilarang untuk diucapkan yang mungkin pada budaya anda hal itu biasa saja. Orang Batak versus Orang Jawa atau Sunda, nada suara yang tinggi dapat dianggap sebagai orang yang berbicara kasar dan tidak menghormati.[16]
3.      Sistem Religi
Setiap masyarakat mempunyai sistem religi, yakni adanya kepercayaan manusia terhadap keberadaban kekuatan yang lebih tinggi, mahakuasa, dan gaib kedudukannya.Praktik dalam ritual keagamaan diwujudkan dalam bentuk yang khas, seperti berdoa, sembahyang, bersemedi, berpuasa, berzikir dan lain sebagainya.
Sebagai akar kata dari religion, unsur religi merupakan salah satu unsur universal dari kebudayaan. Karakteristik utama religi adalah kepercayaan pada makhluk dan kekuatan supranatural. Masyarakat di dunia memiliki beragam konsepsi tentang makhluk supranatural, tetapi dapat diklasifikasikan atas tiga kategori, yaitu dewa-dewi, arwah leluhur, dan makhluk supranatural lain/bukan manusia. Makhluk-makhluk supranatural itu dianggap menguasai dunia atau bagian tertentu dari dunia.
Sebagian kepercayaan tergolong agama samawi. Tiga agama besar, Yahudi, Kristen, dan Islam, dikelompokkan sebagai agama Samawi atau agama Abrahamik. Ketiga agama tersebut memiliki sejumlah tradisi yang sama, sekaligus perbedaan mendasar dalam inti ajarannya. Ketiganya telah memberikan pengaruh yang besar dalam kebudayaan manusia di berbagai belahan dunia.
4.      Tradisi
Tradisi merupakan adat kebiasaan yang diproduksi oleh suatu masyarakat berupa aturan atau kaidah sosial yang biasanya tidak tertulis, tetapi dipatuhi, berupa petunjuk perilaku yang dipertahankan secara turun temurun.[17]
Tradisi budaya suku tertentu biasa dikenal juga dengan kepercayaan seperti penyembahan terhadap barang, pohon, batu, dan sebagainya. Kepercayaan terhadap hal tersebut atau sesuatu khususnya tentang perbuatan yang tidak boleh dilakukan dalam keadaan tertentu biasa disebut mitos. Misalkan, ibu hamil tidak boleh makan nenas, pisang atau buah-buahan lainnya karena akan berbahaya bagi si bayi. Terkadang mitos-mitos atau pantangan seperti itu bila di tempat lain hal itu malah dianjurkan atau berdasarkan studi kesehatan justru ibu hamil membutuhkan banyak vitamin dan gizi yang didapat dari makanan-makanan tersebut. Namun, mitos atau pantangan tersebut sangat dipatuhi oleh masyarakat pada suku atau sub suku tertentu.[18]
G.    Fungsi Dasar dari Budaya
Inti penting dari budaya adalah pandangan yang bertujuan untuk mempermudah hidup dengan “mengajarkan“ orang-orang bagaimana cara beradaptasi dengan lingkungannya. Budaya berperan untuk memperbaiki cara anggota kelompok suatu budaya beradaptasi dengan ekologi tertentu dan hal ini melibatkan pengetahuan yang dibutuhkan orang supaya mereka dapat berperan aktif dalam lingkungan sosialnya.” Sedangkan fungsi budaya menurut Sowell, yakni budaya ada untuk melayani kebutuhan vital dan praktis manusia, untuk membentuk masyarakat juga untuk memelihara spesies, menurunkan pengetahuan dan pengalaman berharga ke generasi berikutnya, untuk menghemat biaya dan bahaya dari proses pembelajaran semuanya mulai dari kesalahan kecil selama proses coba-coba sampai kesalahan fatal.
Hal yang juga penting adalah bahwa budaya memenuhi kebutuhan dasar seseorang dengan menggambarkan dunia yang diramalkan di mana seseorang akan berdiri. Hal ini memungkinkan seseorang untuk mengerti lingkungan sekitarnya. Seperti yang di tuliskan Haviland, “Bagi manusia, budayalah yang mengatasi dan mengarahkan perilaku.” Penulis Inggris mengungkapkan hal yang sama dengan lebih sederhana 200 tahun yang lalu, “Budaya membuat segala sesuatu jadi mudah”. Mudah, karena budaya melindungi orang dari yang tidak diketahui dengan menawarkan mereka suatu gambaran tentang semua aktivitas hidup. Walaupun mungkin orang dengan budaya yang berbeda akan menyimpang dari gambaran ini, paling tidak mereka tahu apa yang diharapkan budaya pada mereka.
H.    Pola Budaya
Pola Budaya (cultural pattern) atau arketipe, dapat dideskripsikan sebagai “gambaran yang sangat luas dari susunan dunia dan hubungan seseorang dengan susunan tersebut. Maksudnya, hubungan seseorang dengan kebudayaan yang lebih besar menjadi relevan ketika menginterprestasikan makna. Tindak tutur, episode hubungan, dan naskah kehidupan dapat dipahami dalam level budaya. Hal ini menjadi lebih penting ketika dua orang dari dua budaya yang berbeda berusaha untuk memahami perkataan satu sama lain.
Judith Martin dan Thomas Nakayama (2004) menyatakan bahwa budaya Amerika Serikat mendorong adanya individualisme atau pandangan dimana kepentingan individu didahulukan daripada kepentingan kelompok.
Individualism berfokus pada kebebasan dan inisiatif. Budaya yang lain (seperti Kolombia, Peru, dan Taiwan) menekankan kolektivisme (collectivism), atau pandangan dimana kepentingan kelompok harus didahulukan daripada kepentingan pribadi. Kesulitan akan muncul ketika dua orang dari sudut pandangan yang berbeda ini menginterprestasikan makna dari sudut pandang mereka. Karenanya, budaya membutuhkan kesamaan makna dan nilai.[19]
I.        Hubungan Komunikasi Dengan Budaya
Komunikasi dan budaya tidak dapat dipisahkan, karena komunikasi dan budaya adalah dua hal yang berbeda. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan di antara para pelaku komunikasi dengan tujuan untuk saling memahami satu sama lain. Sedangkan budaya dapat dikatakan sebagai cara berperilaku suatu komunitas masyarakat secara berkesinambungan. Namun demikian komunikasi dan budaya eksistensinya saling berkaitan. Suatu budaya dapat dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus melalui proses komunikasi. Disini, komunikasi berfungsi sebagai alat penyebaran tradisi dan nilai-nilai budaya. Komunikasi dan budaya adalah dua entitas tak terpisahkan, sebagaimana yang dikatakan Edward T. Hall, bahwa budaya adalah komunikasi dan komunikasi adalah budaya.
Dalam komunikasi lintas budaya terjadi pertukaran antara satu budaya dan budaya lainnya. Titik tekan budaya dalam konteks komunikasi lintas budaya lebih banyak berkaitan dengan aspek-aspek budaya immaterial, seperti bahasa, tradisi, kebiasaan, adat istiadat, norma, serta nilai moral, etika, gagasan, religi, kesenian, kepercayaan, dan sebagainya.
Dalam hal ini, bisa diperhatikan bagaimana cara orang Jawa, Sunda, Batak, Minang, Bali berbicara dan berinteraksi. Cara orang Sunda berkomunikasi berbeda dengan orang Batak, Betawi, Jawa, Bali, dan sebagainya. Perbedaan tersebut terdapat berupa logat, tata cara, perilaku nonverbal, atau simbol-simbol yang digunakan. Orang jawa yang berada di bandung akan menemukan banyak halberbeda tentang cara dan kebiasaan berperilaku, logat bicara, bahasa, sikap, dan nilai-nilai yang dianut orang sunda. Agar komunikasi yang dibangun oleh orang-orang yang berbeda budaya ingin berjalan dengan baik, pemahaman budaya satu sama lain adalah sebuah keharusan.
Contohnya yakni misalnya tentang pernikahan beda budaya. Pernikahan antara orang Batak dengan orang Sunda, dimana orang Batak itu terkenal dengan bahasa dan intonasi nadanya yang keras, tegas, dan lantang, sedangkan orang Sunda, terkenal dengan bahasa dan intonasi nadanya yang halus, lemah lembut. Seharusnya sebelum menikah mereka terlebih dahulu mengetahui seperti apa adat, kebiasaan dan komunikasi jika kita sedang berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya dengan kita. Di dalam keluarga yang terbentuk dengan kebudayaan yang berbeda haruslah terjalin komunikasi yang baik, dan harus bias memahami kebudayaan masing-massing pasangannya. Contohnya jika suami (orang Batak) berbicara kepada istrinya (orang sunda) dengan nada tegas dan lantang, maka istri harus bias memahami bahwa suami bukan sedang marah kepadanya, melainkan memang khas orang Batak bersuara seperti itu. Harus bersikap mengayomi pasangan dengan antar kebudayaan yang mereka anut,  memahami karakter pasangannya yang berbeda budaya, baik pasangan maupun keluarganya. Terbentuknya sebuah kebudayaan baru di dalam keluarga tersebut sehingga terjadi komunikasi yang efektif dan mendukung satu sama lain antara pasangan yang berbeda budaya itu, sehingga tidak diragukan lagi bagaimana mereka berkomunikasi satu dengan yang lainnya. [20]


J.       Problematika Kebudayaan Indonesia
Menelusuri permasalahan kebudayaan di Indonesia, akan ditemukan sebuah fenomena yang biasa dihadapi, yaitu kerendahan diri masyarakat Indonesia terhadap kebudayaannya sendiri. Kerendahan diri ini muncul dari hubungan antara kebudayaan barat dengan kebudayaan daerah di Indonesia. Barat yang sering diposisikan sebagai pihak superior dan kebudayaan daerah di Indonesia sebagai pihak inferior.
Problem kebudayaan saat ini antara lain, terjadinya pemahaman budaya yang cenderung keliru. Hal tersebut akibat miskomunikasi budaya antargenerasi yang terus menerus terjadi. Padahal, sebagai sistem gagasan yang terdiri dari nilai-nilai, norma dan aturan, kebudayaan harus dilihat dalam tiga aspek sekaligus, masing-masing proses pembelajaran, konteks, dan pelaku pendukung kebudayaan. Ketiga aspek tersebut dapat menentukan seberapa besar dan kuat peran kebudayaan dalam membangun kehidupan lebih baik.[21]
K.    Memahami Perbedaan-Perbedaan Budaya
 Budaya adalah gaya hidup unik suatu kelompok manusia tertentu. Budaya bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh sebagian orang dan tidak dimiliki oleh sebagian orang yang lainnya, budaya dimiliki oleh seluruh manusia dan dengan demikian seharusnya budaya menjadi salah satu faktor pemersatu. Pada dasarnya manusia-manusia menciptakan budaya atau lingkungan sosial mereka sebagai suatu adaptasi terhadap lingkungan fisik dan biologis mereka. Individu-individu sangat cenderung menerima dan mempercayai apa yang dikatakan budaya mereka. Mereka dipengaruhi oleh adat dan pengetahuan masyarakat dimana mereka tinggal dan dibesarkan, terlepas dari bagaimana validitas objektif masukan dan penanaman budaya ini pada dirinya. Individu-individu itu cenderung mengabaikan atau menolak apa yang bertentangan dengan “kebenaran” kultural atau bertentangan dengan kepercayaan-kepercayaannya. Inilah yang seringkali merupakan landasan bagi prasangka yang tumbuh diantara anggota-anggota kelompok lain, bagi penolakan untuk berubah ketika gagasan-gagasan yang sudah mapan menghadapi tantangan.
Setiap budaya memberi identitas kepada sekolompok orang tertentu sehingga jika kita ingin lebih mudah memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam msaing-masing budaya tersebut paling tidak kita harus mampu untuk mengidentifikasi identitas dari masing-masing budaya tersebut yang antara lain terlihat pada:
1. Komunikasi dan Bahasa Sistem komunikasi
 Verbal maupun Nonverbal, membedakan suatu kelompok dari kelompok lainnya. Terdapat banyak sekali bahasa verbal diseluruh dunia ini demikian pula bahasa nonverbal, meskipun bahasa tubuh (nonverbal) sering dianggap bersifat universal namun perwujudannya sering berbeda secara lokal.
2. Pakaian dan Penampilan
 Pakaian dan penampilan ini meliputi pakaian dan dandanan luar juga dekorasi tubuh yang cenderung berbeda secara kultural.
3. Makanan dan Kebiasaan Makan
Cara memilih, menyiapkan, menyajikan dan memakan makanan sering berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Subkultur-subkultur juga dapat dianalisis dari perspektif ini, seperti ruang makan eksekutif, asrama tentara, ruang minum teh wanita, dan restoran vegetarian.
4. Penghargaan dan Pengakuan
Cara untuk mengamati suatu budaya adalah dengan memperhatikan cara dan metode memberikan pujian bagi perbuatan-perbuatan baik dan berani, lama pengabdian atau bentuk-bentuk lain penyelesaian tugas.
5. Nilai dan Norma
Berdasarkan sistem nilai yang dianutnya, suatu budaya menentukan norma-norma perilaku bagi masyarakat yang bersangkutan. Aturan ini bisa berkenaan dengan berbagai hal, mulai dari etika kerja atau kesenangan hingga kepatuhan mutlak atau kebolehan bagi anak-anak.
tempat seseorang secara persis, sementara budaya-budaya lain lebih terbuka dan berubah.
6. Proses mental dan Belajar
 Beberapa budaya menekankan aspek perkembangan otak ketimbang aspek lainnya sehingga orang dapat mengamati perbedaan-perbedaan yang mencolok dalam cara orang-orang berpikir dan belajar.
7. Kepercayaan dan Sikap
 Semua budaya tampaknya mempunyai perhatian terhadap hal-hal supernatural yang jelas dalam agama-agama dan praktek keagaman atau kepercayaan mereka.[22]



L.     Sejarah  Munculnya Kajian Budaya
Kajian budaya pertama kali muncul di Inggris, pada tahun 1990-an, Universitas tua di Inggris, telah melakukan penelitian di bawah Birmingham Centre for Contemperary Culture studies. Konstribusinya antara lain membuat studi untuk mencari makna ideologis dari bentuk kebudayaan yang ada. Melalui Birmingham Centre ini beberapa ilmuan telah mempelopori pemakaian semiotika dalam cultutal studies.
Di Eropa ada usaha untuk membangun kajian budaya sebagai disiplin ilmu tersendiri. Kajian budaya berusaha mengeksplori hubungan antara bentuk-bentuk kekuasaan ini dan berusaha mengembangkannya cara berfikir tentang kebudayaan dan kekuasaan yang dapat dimanfaatkan oleh sejumlah agen dalam usaha melakukan perubahan. Di Amerika berkembang kajian budaya dengan tema untuk mengkaji mass culture(budaya massa) dan budaya pop. Dalam perkembangnya di Amerika Serikat, Australia, Afrika dan Amerika Latin, kajian budaya mencari bentuknya sendiri.
Dalam perkembangannya, kajian budaya juga muncul di Indonesia walaupun belum meluas seperti di Eropa dan Amerika. Saat ini kajian budaya di Indonesia telahdikembangkan di Universitas Udayana Denpasar, Universitas Indonesia Jakarta dan di buka di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Hingga kina para penggagas kajian budaya di Indonesia ingin agar pendekatan yang dipakai untuk mendiagnosa fenomena budaya benar-benar menggunakan metode kritis.[23]
M.   Kaitan Budaya Dan Simbol
Hubungan antara budaya dan simbol menjadi jelas ketika Ferraro menuliskan, “simbol mengikat orang yang mungkin saja bukanlah bagian dari suatu kelompok yang bersatu”. Portabilitas (sifat mudah dibawa) simbol memungkinkan orang untuk membungkus, menyimpan, dan menyebarkannya. Pikiran, buku, gambar, film, tulisan tentang agama, video, aksesori komputer dan sebagainya memungkinkan suatu budaya melestarikan apa yang dianggap penting dan berharga untuk diturunkan. Hal ini membuat setiap individu tanpa memandang generasinya mewarisi sejumlah informasi yang sudah dikumpulkan dan dipertahankan sebagai antisipasi ketika ia masuk dalam suatu budaya.
Simbol merupakan segala sesuatu yang mengandung makna khusus yang diketahui oleh orang-orang yang menyebarkan budaya. Simbol budaya dapat dalam bentuk, gerakan, pakaian, objek, bendera, ikon keagamaan, dan sebagainya.[24]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dunia yang luas terdiri dari berbagai negara tentu saja memiliki beraneka ragam corak budaya. Indonesia termasuk di dalamnya yang memberikan corak budya tersendiri. Faktor geografis merupakan salah satu faktor mengapa Indonesia memiliki beranekaragam budaya. Luas Indonesia yang sebagian besar adalah luas lautan menjadikan wilayah Indonesia secara topografi terpisah menjadikan ciri khas atau perbedaan budaya dari masing- masing daerah. Budaya antar wilayah Indonesia berbeda melainkan tetap dalam satuan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tidak ada batasan antara budaya dan komunikasi, seperti yang dinyatakan Hall, “Budaya adalah komunikasi,dan komunikasi adalah budaya”. Dengan kata lain ketika membahas budaya dan komunikasi sulit untuk memutuskan mana yang menjadi suara dan mana yang menjadi gemanya. Alasannya adalah karena anda “mempelajari” budaya anda melalui komunikasi dan pada saat yang sama komunikasi merupakan refleksi budaya anda. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang  berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan  bahwa budaya itu dipelajari.


[1]Mohammad Shoelhi,Komunikasi Lintas Budaya, (Bandung: Simbiosa Rektama Media, 2015),  hlm.2.
[2]Ibid, hlm. 3-8.
[3]Ibid, hlm. 8-11.
[4]Ibid, hlm. 34-35.
[5] Ibid, hlm. 35.
[6] Ibid, hlm. 35-36.
[7]Larry A. Samovar, Richard E. Porter. dan Edwin R. McDaniel, Communication Between Cultures, (Jakarta: Penerbit Salemba Humanika, 2010), hlm. 27.
[8]Mohammad Shoelhi,Komunikasi Lintas Budaya, (Bandung: Simbiosa Rektama Media, 2015),  hlm.37.
[9]Ibid, hlm. 38.
[10]Alo liliweri, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2007), hlm. 57-58.
 [11]Mohammad Shoelhi, Komunikasi Lintas Budaya, (Bandung: Simbiosa Rektama Media, 2015),  hlm.38.
[12]Alo liliweri, Makna Budaya dalam Komunikasi Antarbudaya, (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2007), hlm. 57.
[13] Ibid, hlm. 58.   
[14] Ibid, hlm. 59.
[15] Ibid, hlm. 60.
[16]Larry A. Samovar, Richard E. Porter. dan Edwin R. McDaniel, Communication Between Cultures, (Jakarta: Penerbit Salemba Humanika, 2010), hlm. 30.
[17]Mohammad Shoelhi,Komunikasi Lintas Budaya, (Bandung: Simbiosa Rektama Media, 2015),  hlm.39.
[18] Ibid, hlm. 40.
[19] Richard West, Lynn H.Turner,Pengantar Teori Komunikasi, (Jakarta: Penerbit Salemba Humanika, 2013), hlm.121-122.
[20] Ibid,hlm.34-40.               
[21]Rusmin Tumanggor, Kholis Ridho,  dan Nurochim, Ilmu sosial dan Budaya dasar,(Jakarta; Kencana, 2010),  hlm.47-48.
[22] Ahmad Albastin, Ruang lingkup komunikasi lintas budaya, pada tanggal 08 Juli 2017
[23] Sutama Arybowo, Kajian Budaya Dalam Perspektif Filosofi, Hlm.212-213
[24] Erik Pandapotan Simalungun, Kajian Budaya dan Interaksi Simbolik,27 November 2015

MAKALAH pemikiran Hasan Al-Banna tersebut.



BAB I
PENDAHULUAN
1.1       Latar Belakang Masalah
            Banyak angkatan muda Islam yang tidak mengenal Hasan Al-Banna dengan fikrah (pemikiran) dan dakwahnya. Padahal mereka seharusnya mengenal dan kita seharusnya mengenalkannya. Apalagi di tengah kaum muslimin saat ini banyak orang yang sengaja mengaburkan gambaran tentang sosok yang satu ini yaitu Hasan Al-Banna khususnya di mata generasi muda Islam. Di lain pihak, kini di mana-mana banyak tersebar aliran pemikiran yang menyimpang dari sendi-sendi ajaran Islam yang murni. Karena itulah banyak orang-orang yang tidak mengerti bahwa gerakan Islam yang bertolak dari pemikiran dan terpengaruh oleh pola fikir Hasan Al-Banna adalah cacat. Selain itu banyak serangan membabi buta yang ditujukan kepada sebagian pemikiran yang disampaikan oleh Hasan Al-Banna. Hal itulah yang mengharuskan penulis berkomitmen menjelaskan pemikiran-pemikirannya ini dengan   mengadakan penelitian melalui tulisan ini.
            Hasan Al-Banna telah menetapkan beberapa tujuan yang harus diperjuangkan oleh setiap muslim, ia bukanlah tujuan-tujuan yang disusun dan dibentuk secara serampangan, melainkan tujuan yang ditetapkan melalui studi yang mendalam atas aturan-aturan syar’i yang telah ada. Beliau juga telah menetapkan fase-fasenya untuk mencapai tujuan itu, dengan memperhatikan kebutuhan umat Islam di setiap kawasan. Beliau menetapkan pula rambu-rambu kepribadian Islam melalui rukun-rukun bai’atnya dan kewajiban-kewajiban yang diperlukan oleh gerakan Islam dalam rangka mencapai tujuan dalam setiap fasenya. Beliau juga menetapkan beberapa kaidah pokok yang membingkai pemahaman, pemikiran, hubungan, dan perjalanannya.

            Tidak ada sikap ekstrim dan ceroboh, tidak ada perilaku over acting, tidak pula pengabaian terhadap hukum alam. Hasan Al-Banna telah berhasil menjelaskan hal-hal yang sangat diperlukan oleh setiap pribadi muslim dewasa ini untuk bangkit secara benar bersama kaum muslimin lainya demi meraih cita-cita. Oleh karena itu meskipun tertuang dalam bentuk taujih (pengarahan) kepada individu, tetapi ia juga menyebutkan pandangan sebuah gerakan, baik menyangkut proses menuju tegaknya daulah, perjalanan pasca kemenangan, maupaun tentang strategi politik dan lainya. Titik tolak untuk mewujudkan sebuah gerakan yang mampu mencapai tujuan adalah dengan tersedianya individu yang mengetahui tujuan sekaligus cara-cara mencapainya secara jelas, juga kemampuan menyesuaikan diri dengan gerakan.
            Di antara hal penting yang telah diwujudkan oleh Hasan Al-Banna  adalah berupa penjelasan mengenai beberapa hal yang diperlukan oleh gerakan Islam, dari yang global menjadi rinci, dari yang gelap menjadi terang. Hasan Al-Banna sadar bahwa tidak semua orang muslim dewasa ini memiliki kesedian untuk mewujudkan sikap komitmen atas keislamanya yang tertinggi. Beliau sadar bahwa Islam memerlukan suatu kelompok tertentu. Sungguh, Islam tidak akan bangkit tanpa kelompok semacam ini, kelompok yang mampu melaksanakan syarat-syarat kebangkitan kecuali mereka memiliki komitmen penuh dangan Islam, yakni komitmen terhadap Islam itu sendiri dan menunaikan kewajiban-kewajibannya. Untuk itulah Hasan Al-Banna meletakkan konsepan dasar pemikirannya terhadap gerakan Islam yaitu dengan menggariskan sepuluh konsepan dasar yang diberi nama “Rukun-rukun Bai’at, yaitu pertama, bai’at untuk memahami Islam secara benar. Kedua, bai’at untuk berikhlas. Ketiga, bai’at untuk beraktivitas. Keempat, bai’at untuk melakukan jihad.

Kelima, bai’at untuk berkorban dengan segala yang dimiliki. Keenam, bai’at untuk taat sesuai dengan tingkatan kemampuannya.  Ketujuh, bai’at untuk tegar menghadapi segala kondisi disetiap waktu.  Kedelapan, bai’at memberikan loyalitas total terhadap Islam.  Kesembilan, bai’at untuk bersaudara sebagai titik tolak.  Kesepuluh, bai’at untuk memberikan kepercayaan penuh kepada pemimpin dan gerakannya.
            Dan prinsip-prinsip itulah yang akhrinya tersebar luas hampir ditujuh puluh Negara di dunia termasuk Indonesia, sepanjang dekade 1980-an dan awal 1990-an di Indonesia muncul yang namanya gerakan Tarbiyah yang juga mengklaim dirinya sebagai bagian dari gerakan Islam dikarenakan urgensi yang dijalankan oleh gerakan ini bersifat keagamaan. Gerakan Tarbiyah ini tidak bisa lepas dari sosok Rahmat Abdullah, Hilmi Aminuddin, Salim Segaf Al Jufri, Abdullah Barhamus dan Alm. Encep Abdussyakur yang mulai merintis aktivitas Tarbiyah di Indonesia pada awal tahun 1980. Gerakan keIslaman ini memiliki persamaan dan mengikuti pola yang telah digariskan oleh Hasan Al-Banna yang beliau sendiri juga mendirikan salah satu gerakan keIslaman yang bernama Jamaah Al-Ikwan Al-Muslimun (peraudaraan muslim) tahun 1928 di Mesir. Hal inilah yang demikian membuat penulis ingin sekali meneliti keterkaitan gerakan-gerakan keIslaman di Indonesia dengan pengaruh prinsip-prinsip yang digariskan oleh Hasan Al-Banna didalam gerakan yang didirikannya di Mesir tersebut. Dengan demikian penulis mengajukan penelitian dengan judul “Pengaruh Pemikiran Hasan Al-Banna Terhadap Gerakan Islam Ikhwanul Muslimin”.

1.2       Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1.      Peran pola pemikiran Hasan Al-Banna dalam gerakan Islam.
2.      Menelusuri sejarah singkat dibalik sosok Hasan Al-Banna
3.      Menganalisa pengaruh pemikiran Hasan Al-Banna terhadap gerakan-gerakan Islam di Indonesia.

1.3              Pembatasan Masalah
Untuk lebih memaksimalkan hasil penelitian penulis membatasi dalam bentuk Analisis pengaruh pemikiran Hasan Al-Banna terhadap gerakan Islam di Indonesia.

1.4              Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1.      Bagaimana prinsip pemikiran Hasan Al-Banna dalam gerakan keIslaman ?
2.      Bagaimana proses keberjalanan pemikiran Hasan Al-Banna terhadap gerakan keIslaman di Indonesia ?

1.5              Tujuan Penelitian
Untuk menjawab pertanyaan penelitian, adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah :
1.      Untuk mengetahui landasan dasar dari prinsip pemikiran Hasan Al-Banna
2.      Untuk mengetahui fase-fase keberlangsungan dari pemikiran-pemikiran Hasan Al-Banna tersebut.

1.6       Manfaat Penelitian
Berdasarkan adanya tujuan di atas, maka adapun manfaat yang ingin di peroleh sesudah  melakukan penelitian ini adalah :
1.      Untuk menambah dan memperluas pengetahuan penulis tentang sosok Hasan Al-Banna.
2.      Untuk memperkaya Khazanah bagi civitas Akademik terkhusus Mahasiswa/I Jurusan Pendidikan Sejarah.
3.      Menambah sumber dan bahan kajian Mahasiswa Jurusan Pendidikan Sejarah.
4.      Sebagai bahan masukan yang dapat dijadikan sumber informasi bagi penulis lain yang ingin mengadakan penulisan lanjutan tentang masalah ini.



    
           
           
           









BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1     Kajian Pustaka
2.1.1 Mengenal Sang Tokoh Hasan Al-Banna
Al-Imam Asy-Syahid Hasan Ahmad Abdurrahman Al-Banna lahir paada hari  Ahad, 25 Sya’ban 1324 Hijriah, yang bertepatan dengan 14 Oktober 1906 di daerah Dhuha di Mahmudiyah, tepatnya di kota Buhairah, Mesir. Beliau adalah anak sulung dari kedua orangtua yang berkebangsaan Mesir, tepatnya dari daerah Syamsirah Bindarfuh di wilayah Murdiriyah Barat dahulu, atau yang sekarang dikenal dengan Kota Kafr Asy-Syaikh.
Beliau adalah sosok sulung dari Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna yang terkenal dengan gelar As-Sa’atiy, lantaran profesinya sebagai tukang reparasi jam. Syaikh Ahmad adalah seorang ulama hadits. Beliau menyusun sanad-sanad Iman Empat (dalam bidang hadits) menurut urutan bab-bab Fiqh. Beliau memiliki sejumlah karya dalam bidang hadits, di antaranya adalah Bada’i Al-Minan fi Jam’ wa Tartib Musnad Asy-Syafi’iy wa As-Sunan dan beliau juga memberi komentar atas Musnad Imam Ahmad bib Hambal yang diberi nama Syarh Bulugh Al-Amaniy min Asrar Al-Fath Ar-Rabbaniy. Beliau mengakui dirinya termasuk murid dari Imam Muhammad Abduh.
Ibunda Imam Al-Banna adalah seorang perempuan terhormat, bernama Ummu Sa’ad Ibrahim Shaqar. Ayahandanya adalah seorang pedagang bintang ternak di Desa Syamsirah, terasuk wilayah Mahmudiyah, di tepi sungai Nil, desa yang sama dengan tempat tinggal ayah Imam Al-Banna.
Ibundanya adalah seorang wanita yang cerdas, pemimpin, serta punya wawasan tentang masa depan. Di sisi lain, ibunya juga punya sifat yang sangat dominan, yaitu keras kepala. Jika ia mengambil satu keputusan, maka susah baginya untuk menarik kembali keputusan itu. Sifat inilah yang menurun kepada Imam Hasan Al-Banna, anak sulungnya, begitu pula dengan kerupawanan wajahnya. Namun, sifat keras kepala ini kemudian menjelma menjadi sifat keras lainnya, yaitu keras kemauan dan bertekad baja, dan sifat ini hanya menurun kepada Hasan Al-Banna dan saudara kandungnya, Abdul Basith.
Sedangkan saudara-saudara Hasan Al-Banna, yang pertama adalah Abdurrahman, pendiri kelompok Al-Hadharah Al-Islamiyyah di Kairo, dan bergabung dengan Al-Ikhwan ketika Hasan Al-Banna pindah ke Kairo dan menjadi salah seorang anggota Ikhwan yang menonjol. Kedua, Fatimah (istri Al-Ustadz Abdul Hakim Abidin). Ketiga, Muhammad yang wafat di bulan Maret 1990 M atau bulan Sya’ban 1410 Hijriyah. Keempat, Abdul Basith, ia seorang polisi yang setia menemani Hasan Al-Banna sebelum terjadinya pembunuhan, hingga akhirnya ia pindah ke Arab Saudi hingga wafatnya, jasadnya dimakamkan di perkuburanan Baqi’ sesuai wasiatnya. Kelima, Zainab yang samapi wafatnya belum berkeluarga. Keenam, Al-Ustadz Ahmad Jamaluddin ( ia adalah penulis dan pengarang buku yang terkenal dengan nama Jamal Al-Banna). Ketujuh, Fauziah, ia istri Al-Ustadz Abdul Karim Manshur, seorang pengacara yang menemani Hasan Al-Banna di malam pembunuhannya hingga peluru-peluru yang mematikan menembusnya, ia wafat pada tahun 1989 M.
Semua anak Syaikh Ahmad Abdurrahman Al-Banna, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, lahir dikamar yang sama, yang dikenal dengan kamar ad-dakkah (suatu bangunan yang bagian atasnya membentang rata).
Ayahanda sangat memperhatikan putra yangsatu ini, Hasan Al-Banna. Bahkan ibunya bertekad agar Hasan Al-Banna bisa menyelesaikan belajarnya samapi jenjang akademik yang tinggi. Ketika keluarga sedang mengalami kesulitan keuangan, ia rela menjual kalung emasnya demi studi Hasan Al-Banna. Hasan Al-Banna sendiri sewaktu kecilnya pada masa kanak-kanak sudah sering membantu ayahnya mereparasi jam, ia juga terbiasa menggantikan ayahnya melakukan sejumlah pekerjaan. Ia menikah dengan seorang wanita salehah dari sebuah keluarga yag terkenal di Ismailiyah, keluarga pedagang tingkat menengah yang sangat perhatian dalam mengajarkan agama kepada anak-anaknya.
Ibunda Hasan Al-Banna sendiri yang memilihkan pasangan hidup untuk anaknya ini, ketika tengah mengunjungi keluarga ini dikejutkan oleh suara bacaan Al-Qur’an yang sangat merdu. Setelah diselidiki, suara itu bersumber dari seoarng gadis di keluarga itu, ibunya langsung bergegas menceritakan hal ini kepada Hasan Al-Banna dan mengisyaratkan untuk segera mengambilnya sebagai istri. Masa muda Hasan Al-Banna sendiri dihabiskan untuk menyebarkan prinsp-prinsip pemikirannya tentang pembaharuan Islam melalui Organisasi yang didirikannya Ikwanul Muslimin, setelah menyelesaikan kuliahnya di Darul Ulum, Kairo. Setelah itu beliau menggeluti profesi sebagai guru sekolah dasar.
Namun profesi beliau yang sesungguhnya adalah menyampaikan kepada kaum muslim agar mengamalkan Al-Qur’an dan berpegang teguh kepada Sunah Nabi Saw yang agung, lewat dirinyalah Islam kembali mempunyai semangat untuk kembali menunjukkan kejayaannya di masa lalu, yang semua itu beliau sampaikan dengan kalimat sederhana kepada Mahasiswa, buruh, petani, pedagang, dan berbagai golongan masyarakat lain.
2.1.2 Hasan Al-Banna Peletak Teori Gerakan Islam Kontemporer
Jika suatu fatwa dinilai berdasarkan tempat, masa, dan ulama yang member fatwa, demikian halnya dengan teori gerakan Islam kontemporer, ia harus dipertimbangkan berdasarkan tempat, masa, dan kapabilitas peletaknya. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak seorangpun manusia masa kini yang memiliki sejumlah sifat sebagaimana yang dimiliki oleh Hasan Al-Banna.
Studi secara mendalam disertai dengan kepercayaan penuh berdampingan dengan keputusan Jamaah Ikhwanul Muslimin itulah satu-satunya cara yang dapat dilakukan guna menilai pandangan dan teori yang dikemukakan oleh Hasan Al-Banna dengan jujur. Hasan Al-Banna sang peletak dasar teori gerakan Islam, dialah yang telah mengemukakan gagasan yang aplikatif dan dapat diterima oleh semua muslim, dari awal sampai akhir. Hasan Al-Banna adalah seorang pembaharu di masa kini, sebagaimana telah disepakati oleh semua orang yag berbicara tentangnya dengan penuh kepahaman dan objektivitas. Boleh jadi, berdaarkan pengalaman, tamapaklah bahwa gagasan modern manapun tentang gerakan Islam tidak lepas dari pengaruh ide Hasan Al-Banna. Pemikiran Hasan Al-Banna adalah pemikiran yang syamil (komprehensif), yang memenuhi seluruh kebutuhan kita. Sekalipun pernah ada persoalan, namun hal itu tidak sampai keluar dari prinsip pemikiran di pejalanan dakwahnya. Dari semua itu jelaslah bahwa Hasan Al-Banna, dengan segala produktivitas yang dihasilkannya, adlah salah satu personil Jamaah pada suatu masa tertentu, yang lalu menebarkan benih dan memeliharanya. Tidak seorang pun dikalangan murid-muridnya yang menulis, member pengarahan, atau bersikap melainkan Hasan Al-Banna ikut berperan disana.

Hasan Al-Banna hadir disaat kaum muslimin dalam keadaan tidak menentu. Memang, mereka berjuang disetiap medan. Mereka mempersembahkan pengorbanan yang banyak dan telah banyak pula jatuh korban. Namun sangat disayangkan, hasil perjuangannya tidak sesuai dengan tuntutan zaman. Barang siapa yang melakukan kajian terhadap sejarah perjuangan kaum muslimin di masa kini, mulai dari perjuangan Syaikh Sayyid Ali Al-Kurdi di Turki, perjuangan Izzudin Al-Qassam di Palestina  sampai perjuangan  umat Islam di India dan Pakistan, maka ia akan mendapati banyak kekurangan disana-sini, sehingga tidak dapat memenuhi tuntutan zaman untuk meraih kemenangan Islam secara menyeluruh dan sempurna. Sementara kita melihat bahwa kata-kata Hasan Al-Banna mengandung gagasan yang dapat memenuhi kebutuhan masa kini dan dapat pula mengantarkan kepada kemenangan Islam secara total.
Barang siapa mengamati realitas kaum muslimin masa kini, niscaya dia akan mendapati bahwa dimana pun dan kapan pun ide Hasan Al-Banna hadir, di situ muncul dinamika Islam dan kaum muslimin. Sebaliknya, pada ketiadaanya kita akan menyaksikan mentalitas yang hina dan tunduk pasrah kepada kekuatan internasional yang buruk, di samping kekuatan regional yang semakin menjerumus kearah yang buruk pula. Pembaca sejarah umat ini suatu ketika akan menyaksikan di lembaran dokumen-dokumennya bahwa sisa kehidupan umat ini akan direpresentasikan oleh pemikiran Hasan Al-Banna. Perjalanan baru umat ini akan dimulai dan bermula dari Hasan Al-Banna, beliau dalam perjalanan perjuangannya telah berhasil memadukan antara hukum-hukum syariat dengan tuntutan zaman, antara cita-cita melangit seorang muslim dengan pandangan realistis di lapangan, antara kesempurnaan tarbiyah dan ta’lim dengan tatanan dan aktivitas politik serta ekonomi, dan lain-lain hal yang memenuhi hajat kaum muslimin dewasa ini.
Ia berhasil meletakkan berbagai hal tadi, ekaligus membersihkan benda-benda warisan Islam dari berbagai noda dan kotoran yang menempel padanya. Kita tidak mau pergi menjauh dari jalan oleh Hasan Al-Banna, sebab sikap ini akan menjauhkan kita dari langakah-langkah yang benar untuk menegakkan Islam di zaman sekarang. Semestinya kita tidak mudah terkecoh oleh fenomena lahiriah dan tidak boleh tergesa-gesa membuat analisa tehadapnya. Substansi berbagai peristiwa tidak boleh lewat dari perhatian kita. Perbedaan tajam pernah terjadi antara pemikiran Hasan Al-Banna dan realitas di lapangan Ikhwanul Muslimin di beberapa wilayah menjadi factor pemyebab timbulnya berbagai kegelisahan dan munculnya berbagai fiksi di tubuh Jamaah, pada suatu saat ketika itu. Untuk itu, kita tetap mendukung dan menghidupkan terus pemikiran Hasan Al-Banna ini serta menyempurnakan kekurangan-kekurangannya dan berjalan di bawah naungannya. Karena beliau memang penulis anggap memiliki banyak unsure kesempurnaan dalam bidang pemikiran gerakan.
Menurut analisa penulis kata-kata yang pernah dituliskannya di dalam bukunya sehubungan dengan tarbiyah yang merupakan sebagian dari alam pemikirannya. Pendidikan dan pembinaan umat, memperjuangkan prinsip-prinsip nilai, dan pencapaian cita-cita yang sesungguhnya memerlukan partisipasi seluruh umat, atau paling tidak sekelompok dari mereka, yakni memperjuangkan tegaknya :
·         Kekuatan jiwa yang besar, yang dimanisfestasikan dalam bentuk tekad yang kuat dan tegar.
·         Kesetian yang utuh, bersih dari sikap lemah dan munafik.
·         Pengorbanan yang suci, yang tidak diperdayakan oleh sifat tamak dan bakhil.                                                                                                                                                    
Selain itu juga mengetahui, menyakini, dan menjunjung tinggi prinsip yang menjamin terpeliharanya diri dari kesalahan, penyelewengan, bujuk rayu, dan tipu daya. Deskripsi global yang baru saja penulis sampaikan ini membutuhkan argumentasi untuk merincinya secara utuh, menyangkut berbagai teori yang dikemukakan oleh Hasan Al-Banna. Hal ini tentu tidak mungkin diungkapkan dalam penelitian ini. Walaupun demikian, hari-hari mendatang aka nada yang membuktikan bahwa gerakan Islam modern tidak akan dapat membebaskan diri dari pemikiran Hasan Al-Banna, baik hanya satu fase perjalanannya, di masa sebelum berdirinya Negara Islam, maupun sesudahnya, di politik dalam negeri maupun luar negerinya, dalam bidang pendidikan, maupun strategi perjuangan dan pergerakannya.
Meskipun Hasan Al-Banna adalah satu-satunya tokoh yang kredibel untuk mengemukakan pandangan dan teori amal Islami, berkat anugerah Allah Swt padanya, konsep yang ditegakkannya memiliki mata rantai sejarahnya sendiri, di mana jika mata rantai-mata rantai itu saling berselisih, maka terjadilah kerusakan dalam dakwah. Salafi, Shufi, Fiqih, pemikiran, jihad, Tarbiyah, harta, kekuatan, dan lainya pun memiliki mata rantai sejarah. Jika terjadi penggalan di salah satu mata rantai, maka dakwah juga menjadi berantakan. Oleh karena itu, bahaya yang paling besar yang dihadapi oleh dakwah dan Jamaah ini ialah pewarisan yang cacat dan penisbatan diri yang tidak benar kepada Hasan Al-Banna. Jika fase pembentukan dalam pemikiran Hasan Al-Banna begini dan begitu lalu terjadi penyimpangan di dalamnya, maka fase itu berarti tidak memberikan sesuatu apapun di lapangan apapun, karena saat itu sebuah penyelewengan yang berbahaya telah terjadi.
Oleh karenanya, jika pemimpin tidak mengambil warisan dari kepribadian Hasan Al-Banna dalam bidang ilmu, amal, kedalaman ma’rifatnya kepada Allah, ibadah kepadanya, tentu lebih utama jika mengambil warisan langsung dari Rasulullah Saw. Maka kehancuran pasti akan terjadi. Oleh karena itu, kita mesti berhati-hati terhadap pewarisan yang cacat, karena ia berbahaya bagi Jamaah dan gerakan Islam itu sendiri.
Jamaah yang didirikan oleh Hasan Al-Banna sesungguhnya mampu mengakomodasi seluruh kepentingan kaum muslimin. Tidak seorang muslim pun yang tidak merasakan bahwa dalam Jamaah terdapat segala hal yang diimpikannya. Tidak ada kelompok masyarakat pun yang tidak melihat bahwa kebaikan yang ingin diperjuangkannya terdapat dalam gerakan yang didirikannya ini. Dengan kelengkapan-kelengkapan yang menjadi komponen gerakan yang didirikan oleh Hasan Al-Banna ini, nyatanyalah bahwa ia adalah gerakan yang matang. Melalui gerakan ini beliau dapat mengambil kebajikan di mana pun berada, yang kebajikan itu dapat membersihkan daki-daki dari tubuh gerakan Islam.
Hasan Al-Banna sebagai pembaharu Islam memiliki pandangan yang lebih komprehensif dan lebih konkret. Beliau meyakini bahwa mengobati sejumlah penyakit dan mengabaikan sejumlah penyakit lainnya bukanlah cara memecahkan masalah. Sesungguhnya menangani perpecahan kaum muslimin, perselisihan pendapat, hilangnya kekuatan dan kemunduran peradaban mereka tidak bisa dengan mengatasi salah satu dari masalah terebut, tetapi harus seluruhnya. Metode perbaikan mengentaskan kaum muslimin dari jurang itu harus komprehensif dan integral mencakup semua rukun perbaikan Islam, bukan dengan mencela metode salah seorang pembaharu. Dengan begitu, kondisi kaum muslimin akan menjadi baik.
Rukun-rukun perbaikan Islam tersebut adalah :
1.      Memahani Islam dengan pemahaman yang sahih, komprehensif dan integral. Menurut analisis penulis yang dimaksud dengan prinsip pertama ini yang kembangkan oleh Hasan Al-Banna adalah faham kita terhadap fikrah (pemikiran) kita adalah pemikiran Islamiah yang bersih dan akidah Islam yang lurus.
2.      Ikhlas karena Allah dalam beramal untuk agama ini. Menurut analisis penulis yang dimaksud dengan Ikhlas terebut adalah kita kehendaki dengan sikap ikhlas adalah bahwa seorang muslim dalam setiap kata, aktivitas, dan jihadnya harus dimaksudkan semata-mata untuk mencari ridha Allah Swt dan pahala-Nya, tanpa mempertimbangkan aspek kekayaan, penampilan, pangkat, gelar, kemajuan, atau keterbelakangan. Dengan itulah ia menjadi muslim yang lurus bukan muslim yang penuh dengan kepentingan dan ambisi pribadi dalam gerakan yang di perjuangkannya.
3.      Beramal untuk agama ini dengan memperbaiki diri, keluarga, masyarakat, pemerintahan dan lain-lain. Menurut analisis penulis dengan amal (aktivitas) adalah buah dari ilmu dan keikhlasan.
4.      Jihad fi sabilillah dengan berbagai tingkatan dan macamnya. Menurut analisis penulis dengan jihad adalah sebuah kewajiban yang hukumnya tetap sampai hari kiamat, perangkat jihad pertama adalah pengingkaran dengan hati yang dipenuhi dengan nafsu syahwat dan peringkat terakhirnya adalah berperang dijalan Allah Swt.
5.      Berkorban dengan waktu, kemampuan, harta, dan jiwa untuk agama ini. Menurut analisis penulis pengorbanan adalah pengorbanan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala sesuatu yang dipunyai oleh seseorang untuk meraih tujuan, tidak ada perjuangan di dunia ini kecuali harus disertai dengan pengorbanan.
6.      Taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam perkara yang sulit maupun mudah, dan dalam keadaan suka maupun tidak. Menurut penulis taat adalah menunaikan perintah dengan serta merta, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas.
7.      Berpegang teguh pada akidah, syariat dan amalan agama ini sepangjang masa hingga tercapainya tujuan. Menurut penulis keteguhan adalah bahwa seorang muslim hendaknya senantiasa bekerja sebagai mujahid di jalan yang mengantarkannya pada tujuan, betapun jauh jangkauannya dan lama masanya hingga bertemu dengan Allah dalam keadaan yang tetap demikian.
8.      Berlepas diri dari semua pemikiran yang berlawanan dengan pemikiran Islam yang benar dan dari semua orang atau pemimpin yang menghalangi orang Islam dari totalitas keagamaannya. Bahwa  kita harus membersihkan pola piker dari prinsip nilai dan pengaruh individu yang lain, karena ia adalah setinggi-tinggi dan selengkap-lengkap pemikiran.
9.      Bersaudara dalam agama ini. Ukhuwah (bersaudara) adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan akidah. Ukhuwah adalah saudarnya keimanan sedangkan perpecahan adalah saudaranya kekufuran, kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan. Tidak ada persatuan tanpa cinta kasih, standar minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan standar maksimalnya adalah itsar (mementingkan orang lain dari diri sendiri).
10.  Tsiqah (kepercayaan)  dalam mengarahkan aktivitas Islam sesuai dengan prinsip Islam, “Tidak ada kepatuhan bagi makhluk, jika untuk bermaksiat kepada Allah SWT.”
Inilah sepuluh rukun yang merupakan konsepan-konsepan dasar dari pola piker metode perbaikan Islam yang dirumuskan oleh Hasan Al-Banna untuk kaum muslimin untuk mengatasi perpecahan dan kemunduran perdaban mereka. Maka beliau kemudian mendirikan gerakan keIslaman yang dinamainya Jamaah Ikhwanul Muslimin yang melalui organisasi Islam ini beliau menyusun agenda-agenda yang detail untuk memperbaiki keadaan kaum muslimin dan menjadikan mereka kembali menjadi pemimpin peradaban manusia.
2.2 Kerangka Berfikir
Penelitian ini berjudul “Pengaruh Pemikiran Hasan Al-Banna Terhadap Gerakan Islam Ikhwanul Muslimin” tetapi akan dijelaskan kata kunci dalam penelitian ini.
1.      Tentang Pemikiran
Pemikiran selalu berkembang sesuai dengan keadaan permasalahannya yang berkembang. Mustahil memahami sebuah pemikiran jika tanpa memahami latar belakang yang menyusun pemikiran itu, karena pemikran itu dilahirkan oleh keadaan masyarakatnya.
2.      Tentang Pemikiran Hasal Al-Banna
Imam Syahid Hasan Al-Banna merupakan salah satu tokoh besar dalam Islam yang selalu berfikir untuk kemajuan dunia Islam yang memang pada saat itu sedang mengalami kemunduran dalam segala hal. Dan untuk kemajuan itu Hasan Al-Banna membuat gerakan-gerakan dari hasil pemikirannya baik dalam bidang politik, dan juga moral melalui membuat sebuah organisasi.

Dalam pemikirannya tentang gerakan Islam beliau melakukannya melalui membangun sebuah organisasi Islam yang tujuannya itu menerapakan sistem syari’at Islam dalam segala aspek kehidupan di dunia dengan memegang prinsip 10 rukun Islam.
3.      Gerakan Islam
Pada dasarnya gerakan Islam bertujuan pada tegaknya agama Islam di muka bumi ini agar kedamaian dan kesejahteraan bagi umat Islam terwujud.



BAB III
METODE PENELITIAN
3.1       Jenis Penelitian
Untuk memperoleh hasil penelitian yang akurat dan lebih baik dari suatu penelitian, maka sangat diperlukan suatu metode atau cara kerja untuk mendapatkan hasil penelitian dari tujuan yang telah ditentukan. Adapun jenis metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library Research) yaitu penelitian yang sumber datanya diperoleh melalui penelitian buku-buku, jurnal, majalah, internet, artikel, dan media publikasi lainnya yang berkaitan dengan masalah ini.
3.2         Teknik Pengumpulan Data
Karena penelitian ini adalah penelitian kepustakaan, maka pengumpulan datanya adalah dengan menelusuri dan merecover buku-buku dan tulisan-tulisan dalam bentuk lain yang berkaitan dengan objek penelitian. Di samping itu juga ditelusuri serta dikaji buku-buku dan tulisan-tulisan lain yang mendukung kedalaman dan ketajaman analisis dalam penelitian ini.
Sumber data yang penyusun gunakan dalam kajian ini terdiri dari sumber data primer dan sekunder, yaitu :
a.       Sumber Data Primer
Dalam penelitian ini penyususun menggunakan karya-karya yang telah ditulis oleh Imam Syahid Hasan Al-Banna, terutama buku-buku yang berkaitan tentang pemikiran beliau.
b.      Sumber Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini adalah karya-karya penyusun lain yang berkaitan dengan tema penelitian baik berupa buku, jurnal, artikel, maupun tulisan lain.
3.3              Metode Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik content analysis, yaitu menganalisis data sesuai dengan kandungan isinya. Sedangkan metode analisis datanya menggunakan metode induktif dan metode deduktif. Penyusun mencoba menganalisis bagaimana pemikiran Hasan Al-Banna dalam memahami agama Islam dari buku-buku yang ditulis maupun dari gerakan yang dilakukannya yang bersumber dari data yang tertulis baik itu dari buku, jurnal, artikel, belutin, maupun juga internet, kemudian dari pemahaman tersebut diambil kesimpulan umum tentang  relevansinya dengan gerakan Islam.

TUGAS MAHASISWA

ABNORMAL PSYCHOLOGY ASSIGNMENT

  Introduction ,serif; font-size: 16pt; line-height: 150%;"> Abnormal psychology deals with the branches of behavioral, emotional,...